Tuesday, 9 February 2010

Antropologi Visual: Hidup adalah Sebuah Film

Pada sebuah Senin 13 Juli 2009, di kantor ARTI Banda Aceh kami menonton sebuah film dokumenter yang berjudul “Playing Between The Elephant.” Film ini dibuat oleh seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan pendidikan S3nya di Amerika dalam ilmu Antropologi Visual. Saya baru mendengar jenis ilmu ini. Selama ini saya hanya tahu antropologi, namun tidak mengetahui secara detail mengenai ilmunya. Maklum, saya bukan antropolog, saya hanya mencoba-coba masuk ke ranah ilmu ini lalu tertarik. Mungkin juga karena penelitian yang saya lakukan (tepatnya yang mendapatkan dana) hanya penelitian yang berkaitan dengan bidang ilmu ini. Guru-guru penelitian saya juga kebanyakan dari jenis ilmu ini. Akirnya, saya jatuh cinta pada antropologi meskipun saya tidak paham dasar-dasar teori antropologi.

Kembali ke film. Film itu dibuat selama setahun setengah di sebuah desa di Pidie, Aceh, yang terkena dampak tsunami tahun 2004. Selain tsunami, penduduk desa ini juga tergolong dalam masyarakat yang sederhana, bukan hanya dalam struktur sosial, namun juga dalam ekonomi dan lokasi desanya. Dari film itu nampak desa mereka dipisahkan oleh sebuah sungai besar yang dihubungkan dengan sebuah jembatan gantung yang sangat riskan kalau dilalui oleh mobil dengan muatan berat. Ketertinggalan juga nampak dari model rumah penduduk yang ada di sana. Rumah yang sangat sederhana, sebuah petakan yang tinggi di sepinggang yang kemungkinan tanpa kamar. Sayangnya dalam film tidak menshot kondisi di dalam rumah.

Film ini bercerita mengenai proses pembangunan rumah yang dilakukan oleh UN-Habitat sejak perencanaan awal hingga kahir dan keterlibatan masyarakat di dalamnya. Sang sutradara dengan cerdas mengambil setiap kejadian yang ada dalam masyarakat di sana selama setahun. Hasil itu kemudian diramu menjadi sebuah film yang SUNGGUH!!! sangat hidup. Bahkan mirip dengan sebuah film yang dibuat dengan sebuah narasi yang direncanakan. Padahal jelas, ini adalah film dokumenter yang semuanya tidak diseting dan tidak diatur oleh seorang sutradara sebelum film dibuat. Ia hanya menshoting berbagai kejadian dalam masyarakat lalu kemudian dirangkai menjadi sebuah film. Bagai saya si mahasiswa telah melakukan sebuah pekerjaan luar biasa. Ia masuk ke dalam sebuah masyarakat tanpa sebuah perencanaan film yang bagaimana akan dibuat nantinya. Ia mengaku hanya ada bayangan awal bahwa akan ada sebuah rekonstruksi rumah dalam masyarakat tersebut. Namun sedikitpun ia tidak membayangkan kalau hasilnya adalah seperti yang dia buat dalam sebuah film tersebut.

Bagi saya, meskipun ini adalah sebuah hasil antropologi visual, namun kalau saya pelajari dari “balik layarnya” ini adalah sebuah pelajaran mengenai antropologi. Ada beberapa catatan yang saya ambil dari cerita si mahasiswa dalam proses pembuatan dan pemutaran film ini. Pertama, ia adalah “orang asing” yang masuk ke dalam sebuah masyarakat. Saya yakin pasti ada cara-caranya masuk ke dalam masyarakat tersebut. Bagaimana ia menyampaikan maksudnya, bagaimana ia menjelaskan kepada masyarakat bahwa ia akan membuat sebuah film. Bagaimana ia dengan rajin setaip hari datang ke sana, ke dalam kampung itu dan kemudian mendapatan engle yang luar biasa menarik sehingga dapat dirangkai menjadi sebuah film. Bagaimana ia bisa mendapatkan masyarakat yang -dalam kamera- nampak tidak peduli dengan apa yang ia lakukan. Masyarakat dalam berbagai kesempatan tetap saja berjalan sebagaimana adanya, nampak seperti tidak dibuat-buat -dan memang saya yakin begitu adanya. Hanya beberapa sisi dari Pak Keuchik saja yang nampaknya diseting oleh sutradara. Namun kebanyakan dari aksi masyarakat berjalan sangat alamiah dan seperi umumnya yang ada dalam masyarakat.

Kedua, bagaimana dia bisa mendapatkan titik-titik yang menarik dalam masyarakat yang sedang berjalan, lalu ia menjadikan titik itu sebagai rangkaian cerita yang mengalir dan bersambung. Padahal apa yang ia lakukan adalah sebuah proses yang sangat lama dan terus berubah dalam amsyarakat. Namun nampak jelas kemudian bagaimana ia mampu menghubungkan titik yang ia peroleh tersebut menjadi sebuah rangakian cerita yang sangat menggugah. Saya lihat tidak ada masyarakat yang nampaknya keberatan dengan apa yang dilakukan sang sutradara terhadap mereka. Mereka tetap saja melakukan segala seuatu sebagaimana adanya, kebiasaan mereka sendiri di kampungnya.

Ketiga, bagaimana ia meutuskan untuk mengamil sebuah alur cerita yang kemudian menjadi sebuah film. Dari informasi si mahasiswa, ia memiliki 200 jam hasil shotuingan di lapangan. Dari 200 jam ini kemudian ia hanya mengambil 2 jam saja untuk sebuah film. Bagaimana caranya memilih? Bagaimana ia menentukan sesuatu yang perlu dan sesuatu yang tidak perlu dari datanya padahal ia sudah mendapatkan data tersebut? Bagaimana ia dengan “teganya” membuang data yang sudah diperoleh dengan suah-payah hanya untuk mempertahankan 2 jam film yang ia perlukan. Ini butuh kejelian dan kemampuan dalam memahami secara mendapam apa yang ada di lapangan dan apa yang kita butuhkan untuk penelitian.

Saya yakin apa yang dilakukan orang ini adalah sebuah usaha besar yang melelahkan dan sangat sulit untuk dibuat pada awalnya. Namun setelah ia menjadi film dan ditonton, sungguh ini adalah sebuah karya yang ajaib dan menentukan sebuah cerita yang sangat khas Aceh pada masa awal tsunami. Saya tahu ini sebab saya juga pernah menjadi petugas lapangan di Teunom. Apa yang ada dalam film ini adalah apa yang saya lihat di teunom dulu. Banyak orang yang marah-marah, yang tidak suka dengan apa yang kita lakukan. Banyak orang yang tidak mengerti dengan program yang mereka ikut atau sok tidak mengerti. Banyak orang yang melakukan hal-hal yang pada dasarnya tidak mungkin dan tidak perlu.

Saya sangat yakin sebagai sebuah karya antropologi, apa yang dilakukan oleh sutradara film ini juga sebuah pelajaran pada seorang antropolog atau seorang yang sedang melakukan penelitan sosial. Langkah yang ia jalankan oleh orang tersebut juga langkah yang harus dilakukan oleh seorang peneliti sosial yang lain. Apa yang kemudian dikaryakan sebagai hasil dari kerja lapangan yang panjang dalam masyarakat tersebut juga sebagai sebuah hasil yang seharusnya diperoleh oleh seorang yang sedang melakukan penelitian lapangan di desa.

Saya belajar bagaimana sebuah karya antropologi yang sifatnya etnografi memang terkadang jauh dari apa yang sebelumnya direncanakan oleh seorang peneliti. Apa yung diperoleh di lapangan sungguh sangat tidak terduga dan tidak dapat dipredisksi. Makanya diperlukan sebuah pencatatan yang mendatail dari apa yang ada di lapangan dan sedikit komentar yang sifatnya general. Ini akan sangat membantu seorang peneliti dalam membuat sebuah karya ilmiah setelah ia kembali ke kantornya di mana ia memulai menulis.

No comments:

Post a Comment