Friday, 15 January 2010

Etnografi: Mendesain Metode Pembelajaran

(Selasa, 140110) Pagi ini kami pergi menuju Fakultas Ilmu Budaya UGM untuk menemui panitia pelaksana. Saya menjumpai Mas Sarwo dan Mbak Lala. Keduanya adalah panitia yang akan menghandel program ini di UGM. Kami menjumpainya di perpusatakaan antropologi UGM. Perpustakaan ini terletak di bagian paling Selatan Fakultas Ilmu Budaya UGM. Saya tidak masuk ke dalam perpustakaan. Namun nampaknya perpustakaan kecil saja, sebab bangunannya juga kecil dan rendah. Mas Jarwo menyalami kami dan memperkenalkan kami kepada Mbak Lala dan beberapa mahasiswa yang lain yang terlibat dalam program ini. Mbak Lala-lah yang menjelaskan program ini kepada kami secara lengkap. Sayangnya kami belum berjumpa dengan Mas Pujo Sumedi.

Dari informasi yang kami dapatkan ternyata program ini dilakukan untuk mahasiswa antropologi UGM secara rutin setiap tahun. Bahkan mereka memiliki daerah “praktek” yang tetap, di mana mereka mengirimkan mahasiswanya ke sana setiap tahun. Bahkan beberapa kali mereka juga mengirimkan mahasiswanya ke daerah lain di Indonesia untuk sebuah praktek penelitian etnografi. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan untuk diikuti oleh mahasiswa yang lain, bahkan ada beberapa mahasiswa yang ikut adalah mahasiswa Pascasarjana yang belajar dengan Bapak Pujo Sumedi. Kami, dari Aceh adalah bagian dari acara ini dan bergabung dengan peserta yang lain di UGM. Panitia telah menyusun perencaan yang matang untuk acara ini. diantaranya, kami dari Aceh akan membayar Rp. 100.000,- sebagai peserta. Namun uang ini akan “dikembalikan” kepada peserta –bahkan ditambah Rp. 200.000 lagi- untuk diberikan kepada “ibu kos” saat berada di lapangan nanti. Sementara biaya transportasi akan ditanggung sendiri oleh pantia UGM.

Dalam misi kunjungan etnografi kali ini, panitia UGM memilih sebuah tema besar “Di bawah bayang-bayang cahaya kota.” Tema ini dipiliha berdasarkan gambaran umum lokasi penelitian. Menurut survey awal terlihat desa-desa yang ada di sana adalah desa transisi kepada perubahan yang ada di kota. Dengan jalan yang sudah bagus, aliran listrik yang lancar dan adanya singnal untuk handphone, maka semua perubahan yang ada di kota juga akan terjadi di desa. Mereka mengkonsumsi berita televisi sebagaimana yang dikonsumsi masyaraat kota. Demikia juga mereka mengkonsumsi suguhan iklan dan terpengaruh olehnya seperti halnya masyarakat kota. Sehingga berbagai pola hidup desa mereka merujuk pada pola hidup masyarakat kota. Di sisi lain mereka tetap tidak bsia melepaskan kehidupann pedesaan yang serba terbatas, seperti penghasilan, fasilitas kebersihan, sistim kehiudpan bersama dan lain sebagainya. Fenomena ini duterjemahkan ke dalam sub-sub kecil lain yang dapat dipilih oleh peserta. Ada sepuluh sub tema kecil, diantaranya, pemerintahan desa, konsumsi, kecantikan, agraria, dan pola kerja.

Esok malam, 15/01, semua peserta akan dikirim ke dua desa di Jawa Tengah. Desa yang dipiliha adalah Desa Lebak Barang dan Petung Proyono di Kecamatan Pekalongan. Daerah ini akan ditempuh selama enam jam perjalanan bus dari Jogjakarta. Panitia telah menyediakan bus wisata sebagai sarana transportasi yang akan membawakan semua peserta ke sana. Di sana akan dikumpulkan di kantor Koramil untuk makan pagi. Kemudian akan melanjutkan perjalanan ke dusun masing-masing dengan mobil pick up, satu-satunya sarana transportasi umum yang tersedia di wilayah kerja. Bagi saya ini bukan hanya sebagai sebuah cara belajar etnografi semata, namun juga sebuah perencanaan petualangan yang menantang.

Ada sebuah penggambaran umum yang diberikan oleh Mbak Lala tentang lokasi lapangan yang akan kami kunjungi. Lokasi ini adalah daerah perkampungan Jawa di mana banyak masyarakatnya yang sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa. Secara geografis daerah tujuan ini adalah dataran tinggi yang dingin sehingga kami dipesan untuk membawa baju hangat dan pakaian secukupnya. Sebab ada kemungkinan di sana akan terjadi musim hujan. Bahkan saat di daerah lain musim kering di sana sering terjadi musim hujan. Banyak masyarakat yang pergi ke sawah dan ladang dengan menggunakan baju hujan. Desa-desa tujuan kebanyakan juga masih sangat sederhana dalam fasilitas publik, seperti toilet dan tempat mandi. Beberapa desa masih menggunakan pemandian umum di mana semua orang satu dusun mandi di sana.

Entah bagimana gambar sebenarnya dari lokasi itu, saya tidak tahu. Mudah-mudahan saya sampai ke sana dengan selamat dan dapat belajar menulis dan menceritakan kepada dunia tentang apa yang terjadi dalam salah satu bagian buminya.


2 comments:

  1. Sudah seminggu Sehat di lapangan... Ditunggu laporan hasilnya, pasti menarik! Good luck!

    ReplyDelete
  2. Pak, Saya sangat suka dengan Template Blogs Bapak, Jika Bapak tidak keberatan, boleh tidak, saya minta Template Blogs bapak.?
    Terima kasih saya ucapkan sebelumnya, besar harapan saya atas keikhlasan bapak... (^_^)

    ReplyDelete