Tuesday, 12 January 2010

Aceh dan Warung Kopi

Kalau anda ke Banda Aceh belum lengkap rasanya jika belum duduk nongkrong di warung kopi. Bagi kebanyakan masyarakat Kota Banda Aceh, dan orang Aceh umumnya, warung kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rutinitas kehidupan. Di Banda Aceh siapapun dapat dengan mudah menemukan warung kopi karena sangat banyak dan tersebar di mana-mana. Dari warung kopi pinggir jalan yang sederhana, tempat di mana orang tua lanjut usia duduk mengenang masa lalu mereka, sampai warung kopi yang dilengkapi dengan layar lebar untuk menonton pertandingan sepak bola Liga Eropa dan dilengkapi dengan fasilitas hotspot internet gratis. Bahkan belakangan ada warung kopi yang mengundang group band lokal untuk mentas di halaman warung mereka menghibur pengunjung.

Bagi saya pribadi, dan mungkin kebanyakan pencinta warung kopi di Aceh, datang ke warung kopi bukan hanya karena mau minum kopi saja. Sebab banyak teman saya yang datang ke warung kopi padahal ia bukanlah seorang penikmat kopi, apalagi pecandu. Kebetulsan saja saya adalah pengopi (?) aktif, meskipun tidak kecanduan. Di warung kopi banyak juga yang memesan minuman lain yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan kopi. Namun tetap saja mereka menjadi pelanggan setia warung kopi. Tidak ada hari yang dilewatinya tanpa duduk beberapa saat di warung kopi.

Belakangan ini warung kopi tumbuh subur di Banda Aceh. Dulu, sebelum tsunami melanda Banda Aceh pada tahun 2004 dan pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca tsunami, hanya ada beberapa warung kopi besar di Ulee Kareng yang dikenal dengn Solong. Sekarang, beberapa warung dengan kapasitas yang besar mulai bertumbuhan di berbagai penjuru Aceh. Anehnya, tidak terlihat warung kopi yang kosong dan sepi. Apalagi di waktu siang, sore dan malam hari. Bahkan beberapa warung kopi “berani” buka sampai pagi karena memang ada pelanggan yang mau duduk di sana berlama-lama.

Pengunjung warung kopi tidak terbatas usia dan jenis kelamin, meskipun ebanyakan laki-laki. Pada pagi hari banyak orang dengan pakaian dinas kantor tertentu duduk di warung kopi sebelum masuk kantor. Di beberapa warung kopi juga ada pekerja “kantor” lain, seperti nelayan, muge, petani, mahasiswa, ulama yang duduk menikmati minumannya. Demikian halnya siang hari, berbagai jenis orang ada di sana. Bahkan pada masa-masa awal pasca tsunami banyak bule yang datang membuat “kantor” di warung kopi. Makanya saya sering bercanda mengatakan, kalau persoalan disiplin di Aceh, bukan persoalan orang dan budaya, tapi persoalan tanah. Siapapun yang datang dan menginjak tanah Aceh, maka ia pasti tidak disiplin, termasuk bule-bule yang di negaranya sangat disiplin.

Duduk di warung kopi serasa duduk dalam sebuah tempat yang dikerumuni oleh lebah. Suara mendengung yang tidak teratur mengelilingi tempat duduk kita. Sebagian orang yang duduk di sana membicarakan sesuatu yang serius, sebagian lain hanya bercanda, ada juga yang nampaknya sedang curhat. Bahkan saya beberapa kali melihat ada orang menangis meskipun berusaha menyembunyikannya. Ini semua menunjukkan bagaimana warung kopi menjadi tempat di mana semua persoalan dibicarakan. Orang bicara tanpa rasa takut, tanpa tertekan, tanpa pesan sponsor dan “kepentingan.” Di warung kopi orang bisa berteriak, bisa tertawa terbahak, bisa berbisik, bisa berdiskusi, bisa mengatakan apa saja yang ia inginkan. Seorang teman saya yang suka menulis mengatakan ia sering mendapatkan ide di warung kopi untuk tulisan-tulisannya.

Sedikit tentang mendapatkan ide, beberapa teman yang aktif di LSM dan organisasi sosial keagamaan juga mengakui banyak program yang mereka jalankan awalnya adalah bincang-bincang di warung kopi. Bahkan beberapa pengusaha juga mengakui kalau mereka melakukan lobbi di warung kopi untuk meng-gol-kan proyek mereka. Pengalaman saya bersama beberapa teman mendirikan sebuah penerbit buku, Bandar Publishing, awalnya hanyalah sebuah diskusi lepas di warung kopi. Saat ini Bandar Publishing telah berhasil menerbitkan belasan judul buku mengenai Aceh. Itu semua berawal dari warung kopi.

Oiya, tulisan ini juga saya buat di warung kopi Dek Mie, Rukoh Darussalam Banda Aceh, Selasa, 120110. Selesai pas jam 12.00. WIB.

1 comment:

  1. iya begitulah, walaupun dulu kita pernah marah ketika surat kabar kompas mengatakan aceh kota seribu warung kopi he..he..

    ReplyDelete