Tuesday, 12 January 2010

Belajar Etnografi ke Jogjakarta

Saya mendapatkan kesempatan yang langka. Kursus penelitian etnografi bersama teman-teman di Antropologi UGM Jogjakarta selama dua minggu (14-29/01/10), di bawah bimbingan “mbah” antropolog UGM. Menurut rancangannya, kursus ini bukan belajar di kelas mendengarkan kisah-kisah seru para antropolog di lapangan. Akan tetapi peserta langsung diturunkan ke lapangan, di sejumlah desa pedalaman Jawa. Di sana setiap peserta akan belajar sendiri dari kehidupan yang ada dalam masyarakat desa. Ini dilakukan dengan pengamatan, keterlibatan dalam aktifitas mereka dan melakukan wawancara dengan siapa saja yang dijumpai di sana, lalu mencatat dan mendeskripsikan.

Sebagai orang Aceh yang juga berasal dari pedalaman, bagi saya ini akan menjadi pengalaman menarik. Melihat dan membandingkan dua kehidupan sosial yang berada jauh dari ibukota. Sebab selama ini semua isue politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya diambil berdasarkan kehidupan masyarakat perkotaan semata. Ada memang ungkapan ekonomi rakyat, pembangunan masyarakat pedesaan, namun rakyat yang diuntungkan selalu rakyat kelas super seperti Anggodo Cs. Hasilnya, masyarakat pedesaan yang ada di pedalaman tetap hidup seperti alur takdir mereka tanpa ada kebijakan politik yang mengubahkanya. Mereka tetap saja sebagai komoditas yang dijual untuk isue pembangunan tapi menjadi korban dalam pembangunan itu sendiri.

Penahanan terhadap Lanjar (Kompas, 11/01) yang dituduh menyebakan kematian istrinya sendiri adalah contoh dari realitas ini. Seorang yang sama sekali buta hukum tiba-tiba harus menjadi pesakitan di depan meja hijau pengadilan. Belum lagi kesedihannya hilang, ia sendiri malah harus berhadapan dengan aparat hukum yang pongah. Sementara orang yang benar-benar menyebabkan kematian istrinya, menggilas dengan mobil yang bisa disaksikan mata dan memiliki bukti fisik malah dibebaskan dengan alasan tidak sengaja dan sudah berusaha menghindari kecelakaan. Pengemudi mobil bebas karena ia anggota polisi. Di negeri ini, polisi dan koruptor sering kali bernasib sama, bebas dari jeratan hukum.

Terlepas dari masalah itu, misi saya kali ini akan menjadi ajang menjawab sebuah pertanyaan lama yang pernah saya ajukan pada diri sendiri, yang hampir saja saya lupa; kenapa orang Jawa tidak memberontak kepada NKRI dan menuntut merdeka? Melihat potensi alam kemungkinan Jawa dan Aceh dan beberapa daerah lain di nusantara hampir seragam. Melihat keadilan kepada masyarakat yang diberikan oleh pemerintah, mungkin juga tidak jauh berbeda, masyarakat pedalaman adalah korban dan tumbal kebijakan pemerintah yang zalim, di Jawa atau di daerah lain di Indonesia Namun, tidak seperti masyarakat Aceh yang langsung memanggul senjata membela diri, masyarakat Jawa nampaknya lebih bisa menerima kenyataan ini dan menyatakan diri sebagai masyarakat pendukung setia negera. Mudah-mudahan jawaban pertanyaan ini bisa menjadi sebuah refleksi bagi saya dalam memahami masalah sosial dari perspektif yang lebih luas dan plural ke depan.

Saya juga berharap mendapatkan sebuah pemahaman yang “berbeda” dari kunjungan ke pedalaman Jogja dua minggu ke depan. Apalagi masyarakat Jawa selama ini selalu menjadi objek kajian menarik bagi antropolog. Kenapa orang Jawa begitu unik? Kenapa kehidupan mereka begitu berwarna? Apa yang ada di balik semuanya? Singkresisme-kah seperti yang dipersepsikan oleh Cliffort Geertz atau Islam mistik seperti dikatakan Woodward. Atau ada sesuatu yang lain? Mudah-mudahan kunjungan dua minggu ke depan dapat meberikan sedikit titik terang menjawab masalah ini. Wallahu’a’lam.

No comments:

Post a Comment