Thursday, 14 January 2010

Banda Aceh – Yogyakarta: Siapkah kita Menjadi Masyarakat Dunia?

Seperti telah direncanakan kami berangkat ke Jogja pada pagi hari Rabu, 13 Januari 2010 naik pesawat Lion Air. Tiba di bandara Banda Aceh hari masih sepi. Namun banyak calon penumpang yang sudah menunggu di lobby. Beberapa porter dengan sedikit ramah, atau berusaha meramahkan diri, menawarkan jasa membawa tas dan melakukan chek in. Di beberapa bagian lobby bandara tertulis jasa porter Rp.5.000,- untuk satu kali bantuan. Namun berdasarkan pengalaman beberapa teman, mereka harus bayar Rp. 30.000,- bahkan Rp. 50.000,-. Saya tidak tahu apa benar demikian atau pengakuannya saja. Saya sendiri lebih suka mengurus sendiri. Apalagi tidak banyak bawaan. Dalam pepergian seperti ini saya selalu berusaha meminimalisir bawaan. Cukup sebuah tas jinjing atau ransel dan sebuah tas pakaian yang saya masukkan ke bagasi.

Setelah chek in masih ada waktu setengah jam untuk keberangkatan. Kami masuk ke ruang tunggu. Sebelumnya semua calon penumpang harus bayar pajak bandara Rp.25.000,- Saya dengar dari beberapa teman, Indonesia adalah satu-satunya negara yang mengharuskan membayar pajak di bandara. Bahkan kalau mau ke Luar Negeri, kita harus merogoh kantong Rp. 100.000,- sekali bepergian. Di sisi penerima pajak ada bangku lain yang bertuliskan Sumbangan Untuk pembangunan Aceh Besar. Bangku ini dijaga oleh sepasang anak muda. Ketika saya tanya mereka menjelaskan bahwa sumbanguan itu sifatnya sukarela. Ya sudah, karena saya pernah tinggal di Aceh Besar, tidak ada salahnya memberikan sumbangan pembangunan Aceh Besar, Rp. 5.000,-
Bandara Banda Aceh yang sudah berubah menjadi bandara Internasional, saat ini telah dilengkapi berbagai fasilitas yang layak seperti bandara internasional yang lain di Indonesia. Saya sempat masuk kamar kecil sebelum masuk ruang tunggu. Kamar kecilnya rapi, bersih dan wangi. Sayangnya ada sisa pembuangan yang tidak habis disiram. Nampaknya “pengunjung” terakhir lupa menyiram buangannya. Fasilitas yang bersih dan indah ini menjadi tidak berarti di tangan orang yang tidak sadar. Saya jadi malu pada mbah Surip almarhum.

Di pintu masuk boarding terpampang sebuah banner yang bertuliskan tahapan orang masuk ke pesawat. Yang pertama adalah ibu yang memiliki bayi, orang tua dan orang cacat. Dilanjutkan dengan mereka yang duduk di kursi bagian depan, bagian tengah dan terakhir yag duduk di belakang. Namun tulisan tetap hanya menjadi saksi atas semua peritiwa. Tidak ada kepedulian dengan peraturan itu. Semua orang berdiri dan mulai masuk. Seorang bapak paruh baya yang mendorong kursi roda meminggirkan kursinya karena tidak bisa berdesakan dengan antrian. Hanya satu orang ibu dengan bayinya yang tetap antri dengan penumpang lain. Ia nampaknya sedang mengajarkan bayinya tentang kehidupan yang keras ini.

Turun di Polonia Medan 50 menit kemudian kami harus ikut turun juga. Turun sekedar melapor, masuk ruang tunggu, keluar dan naik pesawat lagi. Kalau cepat dan bukan waktu yang padat, proses ini selesai dalam lima belas menit. Namun tidak jarang harus antri lama hanya untuk mendapatkan secarik kertas bertulis “transit” lalu memberikan kembali kepada petugas dan kemudian naik ke pesawat kembali. Hal ini lumrah saja jika pesawatnya diganti, namun terkadang pesawat yang sama juga harus mengikuti prosedur itu. Prosedur ini dilakukan dalam semua perjalan dari Banda Aceh ke Jakarta atau sebaliknya jika singgah di Polonia Medan.

Dua jam kemudian kami sampai di Bandara Cengkareng, Jakarta. Ini adalah bandara Internasional yang besar. Saya tidak tahu apapkah ada yang lebih besar dari cengkareng di Indonesia. Sebagai bandara yang ada di pusat ibu kota maka bandara ini menjadi pijakan awal para pengunjung Indonesia dari berbagai belahan dunia dan berbagai daerah. Sebab sangat jarang ada penerbangan natar daerah di kepulauan besar di Indonesia tanpa melewati Jakarta. Ini adalah sisa sentralisasi ala Sueharto yang belum diubah oleh pemerintah saat ini sebab mereka sedang sibuk dengan Bank Century. Bandara Suekarno-Hatta adalah bandara yang besar. Saya bayangkan kalau lahan ini ditanami ganja mungkin hasilnya dapat menjadi devisa tunggal untuk pembangunan Indonesia sepuluh tahun mendatang. Napakat?

Masuk ke ruang tunggu, di sambut dengan dua loket asuransi kecelakaan pesawat terbang, sebuah lokat “Inspeksi Bandara” dan sebuah loket Palang Merah Indonesia. Banyak orang yang singgah di loket asuransi kecelakaan pesawat udara. Asuransi ini menjanjikan premi besar untuk para pelanggannya. Saya tidak pernah membayar asuransi ini. Padahal sangat jarang keajaiban terjadi pada kecelakaan pesawat untuk tetap hidup dan selamat. Kebanyakan adalah “Seluruh penumpang dan kru pesawat meninggal dunia.” Asuransi setidaknya dapat menjamin keluarga yang ditinggalkan terjamin keuangannya, sehingga terjamin pula pendidikan anak-anaknya. Namun siapa tahu saya mengambil asuransi? Kalau pesawat yang saya tumpangi kecelakaan dan saya mati, apakah keluarga saya tahu saya mendaftar asuransi? Kalau saya beri tahu, apa bukti yang dipegang oleh keluarga saya untuk mengklaim asuransi? Entahlah, mugkin satu saat saya ingin mendaftar asuransi untuk mengetahui jawabannya.

Masuk ruang tunggu selalu nampak beberapa sampah yang berserakan di lantai. Di antaranya minnuman kaleng dan botol air mineral yang diletakkan dipinggiran tiang yang di sana disedikan tong sampah. Jarak antara botol minuman kaleng yang masih tegak dengan tong sampah itu hanya 30 cm. Saya tidak yakin si pemiliki botol tidak melihat tong sampah. Mungkin ia berharap cleaning service membantunya.

Beberapa kamar kaca disedikan untuk perokok. Di setiap sekat dinding sepanjang lorong-lorong masuk ke ruang tunggu utama ditempel stiker tanda dilarang merokok. Sebuah spanduk besar digantung dengan tulisan dilarang merokokdi ruang ber AC. Namun di beberapa tempat terlihat terserak abu rokok, terutama di pinggir dinding dan tiang. Beberapa perokok, semua laki-laki dengan baju kaos oblong dan bersepatu, malah asik menikmati rokoknya di dekat sebuah famplet besi bertulis besar-besar, dilarang merokok. Dua petugas perempuan muda berbaju hijau mendatangi mereka dan meminta para perokok mamasukkan rokoknya ke dalam gelas yang diisi air. Beberapa perokok agak keberatan, tetap saja menghisap rokoknya di depan perempuan muda yang sedang menunggu dengan gelas di tangan. Meskipun akhirnya mereka mematikan rokoknya dan tertawa di belakang perempuan itu. Saya tidak tahu apa yang lucu dari peristiwa itu dan kenapa mereka tertawa.

Sebuah pot berisi pesanan kopi otomatis di sedikan di salah satu bagian ruang. Masukkan uang sejumlah harga yang ingin dipesan, tekan gambar kopi yang hendak di pesan, maka segelas kopi akan keluar. Ini merupakan fasilitas yang memudahkan para pelancong. Sayangnya banyak air yang tumpah di lantai dan bekar gelas yang berserakan. Beberapa orang yang menggunakan fasilitas itu hanya tahu cara membeli kopi tapi tidak tahu menjaga agar kopinya tidak tumpah di lantai.

Saat jam menunjukkan waktu seperi yang tertulis di tiket, tidak ada tanda-tanda keberangkatan ke Jogja akan dilakukan. Meskipun di sana ada beberapa awak Lion Air, namun tidak ada tindakan pemberitahuan yang diberitahukan. Semua menunnggu dengan diam saja. Setelah menunggu lebih dua puluh menit baru ada pengumuman bahwa pesawat siap diberangkatkan dan calon penumpang dipersilahkan memasuki pesawat dari jalan yang telah ditetapkan. Beberapa penumpang nampak membawa koper besar yang akan dibawa masuk ke dalam kabin pesawat. Biasanya laki-laki paruh baya dengan jaket dan sepatu mengkilat. Mereka nampaknya orang sibuk yang tidak bisa menunggu antrian di tempat mengambilan barang. Sayangnya aksi mereka sering mengganggu penumpang yang lain karena butuh waktu untuk memasukkan barang yang berat itu ke dalam kabin pesawat. Saat hendak turun sering kali terjadi “kemacetan” gara-gara mereka susah menurunkan barang bawaannya.

Demikian adanya bandara kita. Dari sisi fasilitas dan sistem nampaknya sudah cukup syarat untuk mengatakan bandara Internasional dengan dengan layanan internasional pula. Namun dari sisi perilaku dan budaya orangnya, terutama masyarakat pengguna jasa penerbangan, nampak masih sangat “lokal” dan tidak mengerti kalau mereka adalah bagian dari masyarakat dunia yang membangun peradaban bersih, rapi, disiplin dan menghargai orang lain. Berbagai aturan yang membawa pada ketertiban, kerapian, kebersihan dan keindahan bersama, tidak mendpat perhatian penuh dari penumpang. Membuang sampah sembarangan, merokok di tempat terlarang, menuangkan air di lanati, tidak mau menghargai ibu yang membawa bayi, orang tua dan orang cacat masih kerap kita saksikan. Dan ini menjadi pemandangan biasa dalam perjalan dengan pesawat terbang. Kita bisa membangun fisik yang berstandar internasional, namun tidak bisa membangun budaya yang universal.


2 comments:

  1. hanya bisa membayangkan saja.. karena belum pernah sekalipun naik pesawat terbang :D

    ReplyDelete
  2. coba dulu di blang padang. hehehe
    pasti nanti dapat. terus menulis, sebab tulisan bisa menjadi "tiket"nya

    ReplyDelete