Wednesday, 18 August 2010

Budaya Puasa, Apa Perlu?

Ada perbedaan yang sangat jelas antara puasa yang dianggap “ideal” dengan puasa yang dilaksanakan oleh kebanyakan kaum muslimin. Puasa ideal dipersepsikan sebagai puasa yang benar-benar menahan nafsu dan menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Bahkan lebih jauh puasa ideal adalah puasa yang dapat menjadi “sekolah moral” di mana lulusannya akan menjadi “insan kamil” atau manusia paripurna di kemudian hari. Singkatnya, puasa ideal adalah puasa yang benar-benar spiritual dan moral yang dianggap sebagai “puasa pra Nabi”.


Namun yang terjadi justru sebaliknya, orang melakukan puasa tidaklah sebagai representasi spiritualitas semata. Banyak orang melakukannya karena konstruksi budaya pada bulan suci ini. Jadinya, puasa dilakukan sebagai aktifitas religius dalam kerangka budaya. Makanya, banyak hal yang tidak ada pada bulan-bulan lain timbul dan marak di bulan puasa. Banyak pekerjaan yang tidak ada di bulan lain, dilakukan di bulan puasa. Termasuk makanan-makanan khas yang memang hanya ada di bulan puasa. Dan banyak orang yang berpuasa menganggap ini sebagai bagian dari aktifitas ramadhan yang tidak bisa ditinggalkan.

Apakah Budaya puasa tidak perlu? Lalu kenapa banyak orang melakukannya? Ini memangmenjadi dilema. Di satu sisi terkadang budaya puasa telah menjadi kontraproduktif dengan puasa itu sendiri. Puasa mengajak kita menahan diri, namun konstruksi budaya puasa justru mengajak kita memborong makanan sejak pagi hari. Puasa bertujuan menjaga hati, malah banyak orang memanfaatkan waktu luang berpuasa untuk melakukan perbuatan sia-sia. Belum lagi banyak orang yang menjadikan puasa sebagai kambing hitam menurunnya produktifitas kerja, pekerjaan yang tidak selesai, gerakan yang lambat, dan lain sebagainya.

Namun di balik berbagai kelemahan itu semua, terkadang budaya puasa juga memiliki mafaat. Antara lain manfaat sosial dan ekonomi. Secara sosial, buaya puasa membantuk sebuah kesempatan untuk bersilaturahim antar kelompok sosial dalam cara buka puasa bersama. Selain itu budaya puasa juga membangun hubungan tenggang rasa yang baik antar orang yang berpuasa dan tidak berpuasa (meskipun tidak semuanya). Manfaat lain yang tidak kelah pentingnya dari budaya puasa adalah banyak fikir miskin dan anak yatim yang tersantuni spanjang bulan suci ini.

Sementara secara ekonomi jelas, budaya puasa telah memberikan stimulus untuk munculnya kreatifitas pedagangan, baik di tingkat produk maupun dalam metode berdagang. Banyak orang yang menjadikan bulan puasa sebagai kesempatan mendapatkan lebih banyak rezeki dengan menyediakan “kebutuhan” orang yang berpuasa. Selain itu ada peningkatan produksi komoditas tertentu yang memungkinkan pekerja dapat penghasilan lebih banyak di bulan ini. Singakatnya, puasa bida menjadi pendorong bagi banyak orang untuk melakukan kegiatan produktif yang menghasilkan secara ekonomi.

Hanya saja, yan perlu diperhatikan adalah dimensi spiritualitas puasa harus diintegrasikan ke dalam aktifitas sosial ekonomi yang dilakukan agar puasa tidak menjadi ladang yang kering bagi hati. Sebab puasa adalah persoalan hati yang memang menjadi dasar bagi sebuah aktifitas sosial ekonomi yang dilakukan oleh manusia.

No comments:

Post a Comment