Saturday, 25 October 2008

Syari'ah, Tariqah dan Ma'rifah

Imam Malik pernah ditanya mengenai hubungan fiqh dan tsawuf. Beliau berkata: “Barang siapa yang bertasawuf tanpa dilandasai pengetahuan fiqh, maka ia telah menjadi zindiq. Sebaliknya, barang siapa yang menjalani fiqh tanpa tasawuf, maka ia fasiq. Dan barang siapa yang mengamalkan keduanya, maka ia telah mendapatkan hakikat kebenran. Dalam ungkapan yang berbeda di kalangan sufi sendiri dikenal: Kullu syari’ah bila haqiqah ‘athilah wa kullu haqiqah bila syari’ah bathiniyah. (Syariat tanpa hakikat kosong, hakikat tanpa syari’at batal).


Para membuat tiga tahapan pemahaman agama, syari’ah, tariqah dan ma’rifah. Syari’ah mengacu pada aturan Islam mengenai aqidah, ibadah, akhlak, sosial ekonomi, pemerintahan dan aspek kehidupan yang lainnya. Dalam istilah lain disebutkan juga syari’at merupakan ajaran Islam yang bersifat lahiriah dalam bentuk legal formal. Dalam pengertian inilah syari’at disamakan dengan fiqh. Nah, karena syariat adalah aturan dasar formal Islam, maka seluruh muslim harus mena’ati aturan ini, suka-atau tidak, selama ia mengaku menjadi muslim. Karenanya dalam tahapan ini hampir tidak ada penghayatan. Seseorang merasa melakukan sesuatu hanya karena itu adalah kewajiban agama.
Tahap kedua adalah tarikat yang secara umum dimaknai dengan jalan atau cara seorang muslim melakukan ibadah dan usaha mendekatkan diri kepada Allah. Dalam penegrtian ini tarikat adalah pengamalan syari’at secara utuh dengan bimbingan dari guru yang faham tentang syari’at tersebut. Kita tidak bisa shalat dengan sempurna hanya dengan mambaca buku “pedoman shalat,” tetapi kita perlu guru, atau seseorang yang melihat kita shalat, membetulkan ruku’ sujudnya, mengajarkan zikir dan adabnya. Dengan demikian kita akan dapat melakukan shalat dengan sempurna.
Dalam pengertian lain tarikat adalah organisasi sufi yang melaksanakan zikir tertentu dengan bimbingan langsung dari guru (mursyid). Seorang guru merekapan mereka yang telah mewarisi dari guru sebelumnya (bersambung hingga Nabi Muhammad) praktik dan bacaan tertentu untuk membangkitkan makana ruhani ibadah. Dengan demikian kita akan merasakan makna batin ibadah yang kita lakukan. Penghayatan makna batin dari ibadah adalah ruh dari sebuah ibadah itu sendiri. Di sana seseorang mendapatkan kenikmatan dan hakikat hidup yang berdampak pada ketenangan jiwa dan kematangan sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Tingkat terakir yang dipahami sufi adalah ma’rifat yang dimaknai dengan pengetahuan akan hakikat Tuhan yang diperoleh setelah melewati jalan tarikat dengan serius dan sempurna. Ma’rifah adalah pengalaman kalbu yang diarahkan pada penyingkapan tabir ilmu Tuhan sehingga seorang sufi memperoleh isyarat-isyarat ghaib dari Tuhan. Karenanya ma’rifah dikenal juga dengan mukasyafah, yakni tersingkapnya hijab dan memancarnya pengetahuan dari nama-nama yang ia pernah dengar namun ia tidak mengerti. Pengetahuan itu datang dengan sendirinya setelah ia berada sangat dekat dengan Tuhan. Karenanya ilmu ini dikenal juga dengan ilmu hudhuri. Ia tidak dapat dipelajari dair buku, atau didengar dari orang lain. Ilmu ini mesti dirasakan sendiri. Seperti kita merasakan “manis”. Sebaik apapun penjelasan orang mengenai “manis” tetap saja kita tidak mengetahuinya tanpa merasakannya sendiri. Ma’rifah adalah usaha dan keberuntungan. Tidak semua orang akan mendapatkannya. Mereka yang memperolehnya hanyalah orang yang telah dipilih oleh Tuhan.


No comments:

Post a Comment