Sunday, 26 October 2008

Tasawuf Ajaran Hindu?

Ada yang menganggap tasawuf berasal dari unsur asing yang masuk ke dalam agama Islam. Bisa saja dari Kristen, setelah adanya asimilasi budaya dan peradaban antara Kristen dengan Islam setelah Nabi Muhammad wafat. Apalagi praktik kerahiban juga berkembang dalam tasawuf yang praktik itu jelas-jelas ada dalam ajaran Kristen dan dilarang dalam Islam. Boleh jadi tasawuf juga ajaran Hindu datu Budha. Konsep fana dan baqa yang berkembang dalam tasawuf bisa jadi berasa dari nirvana yang ada dalam ajaran Hindu/Budha. Demikian juga tadisi menyiksa diri untuk mendapatkan pengalaman spiritual, dan mengasingkan diri kehidupan sosial keyakinan akan adanya reingkarnasi pada jiwa-jiwa tertentu juga berkembang dalam dunia kaum sufi. Kenyataan ini diperburuk dengan tidak adanya istilah tasawuf dalam Al-Qur'an dan sepanjang kehidupan Nabi Muhammad saw. Nah, apakah ini menunjukkan bahwa tasawuf tidak ada dalam Islam atau bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang benar?
Seandainya tasawuf dibatasi dalam makna sempit saja, maka benar kiranya ia tidak ada dalam ajaran dasar Islam. Demikian juga kalau tasawuf mau disama-samakan dengan apa yang ada dalam agama lain, maka ia akan sama. Sebab memang ada beberapa ajaran Islam, -bukan hanya tasawuf- ada juga dalam agama lain. Namun apakah ketika ia ada dalam agama lain itu bererti tasawuf berasal dari agama lain?

Tasawuf menekankan amal shalih dengan sepenuh hati, mendekatkan diri kepada Allah, mengelola nafsu, tidak terikat pada dunia materi, dan berbagai dasar ajaran lainnya. Ini semua sesungguhnya adalah ajaran Islam murni. Dalam Al-Qur'an selalu ditegaskan agar manusia mengamalakan ajaran Islam dengan sempurna. Tentu saja tidak sempurna namanya kalau pengamalan ajaran tidak termasuk dalam penghayatan amalan itu sendiri. Kalau shalat sekedar gerak dan membaca do’a, maka ia tidak lebih dari senam. Kalau puasa sekeder menahan diri dari makan dan minum, maka tidak lebih dari diet. Kalau haji hanya mengunjungi ka’bah di Makkah, maka tidak lebih dari melancong. Yang diperlukan dalam peribatan adalah subtansi, dan ini diperoleh dengan melakukan penghayatan dalam melaksanakan ibadah tersebut.

Penghayatan dalam ibadah tidak mungkin dilakuakn serta merta. Ia butuh latihan dan keseriusan dari kaum muslimin. Sedikit saja lengah, maka setan akan masuk dan mengganggu konsentrasi kita. Ia punya kepentingan untuk melencengkan niat, menumbuhkan keraguan, meimbulkan was-was, sehinga kita tidak dapat melaksanakan iabdah dengan khusyu’ seraya menghambakan diri kepada Allah. Namun dengan latihan dan bimbingan orang shalih, maka kekhusu’an dan rendah hati dalam beribadah kepada Allah akan terwujud.

Sekali lagi, ini semua adalah ajaran Islam dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Karenanya, ada atu tidak ada persamaan dengan agama lain, masuk atau tidak masuk pengaruh asing dalam Islam, tasawuf tetap akan timbul dalam Islam. Meskipun sistilah ini tidak ada pada masa nabi bukan berarti ajarannya tidak ada. Banyak istilah lain juga tidak ada pada masa Nabi namun ia menjadi autan kita sekarang dan bahkan sama-sama kita perjuangkan. Mislnya, formalisasi syariat Islam dan hukum negara, demokrasi, HAM dna lain sebagainya. Itu semua telah disemaikan benihnya oleh Nabi sehingga dengan pemikiran dan perkembangan modern kita sesuaikan untuk kehdiupan zaman kita kini. Dengan cara inilah agama akan terus hidup dan menjadi dasar dalam kehidupan umat Islam. Agama akan menjadi kebanggaan dan menjadi motivasi besar kepada kaum kuslimin dalam bekerja dan membantu manusia. Tidak ekslusif dan mengucilkan diri.


2 comments:

  1. Assalamualaikum Wr. Wb.
    Teungku.Saya panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT. Dengan hadirnya buku ini ditengah masyarakat, khususnya masyarakat Aceh. Walau saya belum sempat membaca keseluruhan isi dari buku ini. Namun dari postingan blog Teungku, saya mendapat gambaran bahwa isi buku ini yaitu mencoba menjelaskan tentang makna dan hakikat tasawuf yang sebenarnya.
    Saya bukanlah salah satu yang mendalami tasawuf dan bukan alumnus dari sebuah pesantren. Tapi sewaktu saya masih kanak-kanak dikampung dulu, guru pengajian (guree beut) saya telah menanamkan dasar-dasar tasawuf kedalam nurani saya. Tanpa saya sadari telah menjadi pagar bagi jiwa raga saya dalam mengarungi bahtera kehidupan ini.
    Saya sedih dan pilu, bila mendengar atau membaca pendapat-pendapat orang (bahkan cerdik pandai) yang mengatakan bahwa tasawuf itu bidah ataupun sesat. (mohon maaf Teungku, saya tidak bisa menjelaskan ini pendapat siapa dan dari golongan mana)
    Semoga dengan hadirnya buku ini, akan mengembalikan makna hakikat beragama yang sebenarnya ditengah-tengah masyarakat, generasi muda khususnya, yang telah begitu jauh meninggalkan ajaran agamanya.
    Dan... Semoga Allah membalas amal ibadah Teungku, dan menempatkannya pada suatu tempat yang terbaik disisinya. Amin.

    Wassalamualikum Wr. Wb.
    Ikhwan

    ReplyDelete
  2. Iman dan ihsan itu merupakan bagian dari ajaran Islam, jadi bukan masing-masing berdiri sendiri. Syahadat itu merupakan dasar pokok dari ajaran Islam, sekaligus adalah 'puncak' atau kesimpulan dari ajaran iman. Tatkala dia yakin dengan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW dan Islam, maka dia mengucapkan syahadat. Jabaran dari syahadat itu tergambar dalam rukun iman yang 6 (enam) pekara tersebut. Shalat dan puasa adalah gambaran ibadah dari ajaran Islam. Sementara zakat dan haji pada hakikatnya adalah muamalat, karena kedua perintah ini pasti menyangkut hubungan dengan orang lain. Apabila rukun Islam dilaksanakan dengan ihsan yakni semata karena Allah SWT, maka jadilah orang itu sufi. Jadi sufi itu adalah seseorang Muslim yang benar-benar melaksanakan rukun Islam dengan tingkat iman yang tinggi dan didasarkan dengan ihsan dan ikhlas. Semua orang Muslim bisa menjadi sufi dan tidak pula wajib harus dengan mursyid tertentu atau toriqoh tertentu. Insya Allah, Anda pun bisa jadi sufi.

    ReplyDelete