Saturday, 25 October 2008

Apa Itu Tasawuf?

Lebih dari seribu tahun yang lalu, seorang guru yang dipanggil Ali ibn Ahmad, yang datang dari kota Bushanji, timur laut Persia, mengeluh mengenai pembicaraan orang mengenai sufi. “Sekarang,” katanya, “sufisme adalah nama tanpa realitas, tapi ia pernah menjadi realitas tanpa nama.” Dulu orang mempraktikkan ajaran tasawuf tanpa perlu memberinya nama khusus, sebaliknya sekarang namanya begitu terkenal, namun orang cukup dengan nama itu saja. Sekarang banyak orang membicangkan tasawuf, buku tasawuf menjadi best seller, pengajiannya laris diikuti banyak orang, bahkan diadakan dari gubuk reot sampai hotel berbintang. Apa yang mereka cari? Apakah yang mereka mutasawwif (sufi sejati) atau mustawif (sufi gadungan)?

Tasawuf tidak dapat didefinisikan dengan pasti. Semua definisi yang diberikan selama ini hanyalah sekedar petunjuk awal saja menunju samudra sufisme yang sangat luas. Ia tidak terdefinisikan dengan pemikiran filsafat atau dengan penalaran. Seseorang yang hendak memahami maknanya, memerlukan sebuah kearifan hati, gnosis, yang didasari pada pengalaman rohani sendiri yang tidak bergantung pada metode dan pemikiran orang lain. Hanya dengan ini ia akan mendapatkan kemampuan menjangkau sesuatu di laur pandangan inderanya, dan diliputi cahaya Tuhan.

Para sufi menekankan pentingnya aspek ruhani manusia di atas aspek jasmani. Mereka percaya kalau aspek ruhani merupakan aspek hakikat manusia itu sendiri. Bahkan Tuhan yang dipercayai sebagai pencipta manusia juga bersifat spiritual, padahal jelas kalau Tuhan adalah “relitas sejati.” Karenanya, para sufi mengkonsentrasikan diri kepada-Nya. Ia yang menjadi awal, Ia pulang yang akir. Ia adalah asal segala sesuatu, Ia pula tempat kembali segala sesuatu.
Dalam kehidupan di dunia, “ruh” manusia “dititip” ke dalam jasad. Manusia rindu untuk menjadi dirinya kembali, yakni yang bersifat ruhani. Karena itu ia melakukan “perjalanan mistik” untuk membersihkan dirinya dari dari kotoran materi pada jasadnya. Makanya tasawuf dikatakan berasal dari kata “shafa” yang berarti kesucian. Para sufi berusaha menyucikan dirinya dari segala kotoran jasmani agar ia bisa bertemu dengan Zat yang Maha Suci. Hanya yang suci saja yang dapat menjumpai Ia yang Maha Suci, yakni Allah SWT.

Usaha pembersihan diri ini dikenal dengan tazkiyat al-nafs. Usaha ini dilakukan dengan mengelola hawa nafsu, syahwat, amarah dan berbagai sifat tercela lainnya. Mereka melakukan berbagai latihan (riyadhah al-nafs), seperti puasa, uzlah (bertapa), menyendiri bersama Tuhan (tahannuts), mendirikan shalat malam (qiyam al-lail), dan berbagai bentuk latihan lainnya. Dari sinilah para sufi memiliki hubungan intim dan personal dengan Tuhan sehingga mereka mendapatkan pengetahun mistik yang datang dengan sendirinya tanpa dipelajari (laduni).
Dasar dari apa yang dilakuakan sufi adalah cinta. Karena cinta kepada Zat Yang Maha Mutlak itu, ia mampu menyandang, bahkan meikmati segala sakit dan penderitaan yang dideritanya. Karena ia yakin segalanya berasal dari Tuhan. Apa yang ia dapatkan adalah ujian dari Tuhan untuk mengetahu tingkat cintanya. Apakah ia akan muncur atau ia semakin teguh dengan jalannya hingga ia sampai ke Hadirat Ilahi. Inilah cita tertinggi ahli sufi.


No comments:

Post a Comment