Thursday, 30 October 2008

Tawar Menawar di Laut Tawar

Syukur juga. Impian lama untuk mengunjungi kota dingin Takengon kesampaian juga. Meski hanya satu hari, tapi sudah cukup alasan mengatakan kalau aku sudha pernah ke Takengon. Mmm.... mungkin ini bukan pengalaman menarik bagi banyak orang, apalagi orang takengon. namun bagi seorang hamba dhaif seperti sehat Ihsan, kemana saja, daerah baru, selalu memiliki arti berbeda. Memberikan pelajaran berharga. Menjadikan pengalamn luar biasa. Sebab pada setiap situasi kita dapat belajar tentang hal berbeda pula.

Sebanarnya ini adalah perjalanan tugas, dan disiapkan tiba-tiba. andai bukan karena takengon ingin kukunjungi sejak lama, maka aku tidak akan pergi. masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. namun tawaran ke takengon tidak dapat dielakkan. andai malaikat maut hendak menjemputku dan memberiku sedikit kesempatan sebelum menemui ajal, mungkin aku akan berkata, antarkan aku ke takengon.

berangkat jam siang kami makansiang di Seulawah. di mana gunung mulai disunglap jadi arena wisata. ide kreatif juga. di beberapa tempat sudah berdiri cafe yang menyediakan banyak panganan. di mana-mana keripik singong dan tape ubi dijajakan murah, tidak sebanding dengan kerja keras di puncak gunung dekat hutan. dan itu... masih banyak orang menawar.
tiga bungkus lima ribu bu..
kok mahal kali?
memang ebgitu harganya bu...
lima lima ribu boleh?...
ga bisa bu....

suruh saja si ibu mencangkul ubi di kebun belakang dan menggorengnya sendiri.. Bagiamna mungkin hasil kerja keras peras keringat itu diminta ganti sebungkus seribu rupiah? wah... pasti ibu ini belum pernah menginjak cacing dikebun....

ketika matahari mulai condong ke bArat, kami mulai mendaki pengunungan. hanya 99 km anatara Bireun dan Takengon. Namun itu bukan perjalanan yang mudah. banyak tantangan yang harus dilewati.

aku sempat berfikir kalau danau laut tawar telah dipindahkan. sebab di sepanjang jalan berhamparan danau-danau kecil. membuat mobil berayun bagai... daun pisang diterpa angin. goyangs ana goyang sini. bikin pusing dua kelilaing. lumayan... PAdahal pulang kekampungku ke Aceh selatan juga melaewati pengunungan dan jalan yang duh.... kepada Pemda tidak cepat-cepat menyelesaikannya. padahal sudah empat tahun tahun tsunami berlalu, namun jalan masih berbatu. eh... kok malah sensi dengan pemda?

Kami singgah di Simpang Balek pas azan maghrib. Ya sudah, nanti saja kita jama' dengan Isya, kata bos. dan di sana, tidak ada bedanya maghrib dengan ashar bagi pedagang. yang jual mie masih buka, yang jual gorengan juga, jual sandal jepit, telos dan petasan. biasa saja. coba kalo mereka berani di Banda Aceh begitu, pasti WH banyak kerjaan.

Menjelang Isya kami masuk ke Takengon.... shaaaapppsss... udara sejuk mulai menusuk tulang. Sayangnya aku tidak bisa lihat danau. malam sudah mejadi tabir menutup keindahannya. namun hiruk pikuk kota tercium jelas. sama saja seperti kota lain. penjual jajanan di pinggir jalan, toko pakaian diserbu pembeli, dua anak muda bergantungan di belakang motor.

eh.. nanti kusambung. ada rapat!!!


No comments:

Post a Comment