Saturday, 25 October 2008

Kenapa Salek Bisa Anarkis?

Sungguh mengiris hati berita Harian Aceh Independent (13/09) yang lalu tentang jamaah suluk yang berubah brutal. Ia menusuk beberapa temannya dengan benda tajam hingga meninggal dunia saat itu juga. Prosesi khidmat dan sakral tersebut di tangan Abdullah Daud (52), justru menjadi ladang pembantaian. Dan, tiga myawa sudah melayang. Kita sebagai orang beriman yang percaya pada takdir Allah tentang kematian hanya bisa mengatakan: “Innalillahi wainna ilaihi raji’un,” sembari berharap penegak hukum dapat mengusut kasus ini dengan tuntas dengan tetap memberikan rasa aman kepada pelaku.


Peristiwa di atas tentukan bukan sebuah hal yang diharapkan. Masyarakat yang megiukuti suluk justru berharap akan mendapatkan kedamaian, ketenangan dan ketentraman jiwa dalam beribadah kepada Allah. Di sana mereka bermunajat, berzikir, mengkondisikan batin agar selalu bersama Allah. Yang diharapkan tidak lain adalah sedikit-demi sedikit melangkahkan hati menuju posisi paling dekat dengan Allah sehingga Ia bisa curahkan rahmat dan kasihnya, memberikan cinta tak terhingga, mengampuni dosa, mebersihkan jiwa, sampai si salik merasa damai bersama rahmatnya.

Hakikat Suluk
Suluk berasal dari kata bahasa Arab; salaka, yasluku yang secara literal berarti ”melalui” atau menempuh jalan; atau juga berarti perangai atau perilaku. Suluk juga dikaitkan dengan aktivitas ruhaniah seseorang yang mengambil suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati dan jiwa, mengendalikan nafsu, bertaubat dari dosa-dosa. Seorang salik melatih diri agar selalu ingat kehidupan ukhrawi yang lebih panjang dan penting di atas kehidupan duniawi. Kehidupan dunia hanya persinggahan dimana bekal amal dikumpulkan dan ibadah disiapkan. Sebab hanya itu yang berguna dalam perjalanan abadi di akhirat kelak.

Berbeda dengan ibadah biasa yang dilakukan kaum muslimin, suluk adalah sebuah pola ibadah yang dijabarkan dalam tarekat. Dan seperti kita ketahui tarekat sendiri adalah bagian dari pelaksanaan tasawuf. Dalam tasawuf seseorang diajarkan untuk melakukan latihan dan usaha (riadah dan mujahadah) agar ia bersih dan dapat melakukan penyaksian (shafa wa musyahadah). Untuk itu diperlukan langkah-langkah tertentu (maqamat) dan kondisi hati (ahwal) yang selalu fokus pada Allah. Ini semua dilakukan sebagai proses yang selalu berjalan seiring dengan kehidupan sang sufi.

Seseorang sufi yang pernah melakukan usaha tersebut dan dianggap berhasil menggapai puncak tertinggi dalam tasawuf (ittihad, hulul, musyahadah, mukasyafah, dll) serta fana dan baqa di dalamnya mengajarkan jalan yang ditempuhnya kepada orang lain. Dari sini kemudian lahir tarekat. Tarekat pada dasarnya adalah jalan yang ditempuh oleh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah, dan mengajarkan jalan tersebut kepada orang lain agar orang lain juga menempuh jalan sebagaimana pernah ia lakukan sehingga mereka juga sampai kepada Allah.

Karena tarekat mulanya adalah pengalaman personal, maka bentuknya sangat beragam. Di Indonesia terkenal antara lain tarekat Naqsabandiyah, Syattariyah, Haddiyah, Chistiyah, Maulawiyah dan lain sebagainya. Suluk sebagaimana dipraktekkan di dayah-dayah di Aceh merupakan sisi praktis dari sebuah tarekat Naqsabandiyah. Tarekat lain meliki model suluk yang lain pula, seperti debus/rapai pada tarekat Rifa’iyyah, Sama’ (tarian sufi) pada tarekat Maulawiyah, ziarah dalam tarekat Syattariyah dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu suluk dilakukan dengan bimbingan seorang mursyid atau khalifah. Seorang mursyid suluk adalah mereka yang telah pernah mengikuti suluk dan dinyatakan telah ”lulus” oleh gurunya. Tidak semua orang yang pernah mengikuti suluk dapat menjadi khalifah. Seorang guru hanya mewariskan ilmu ini pada beberapa orang muridnya yang dianggap memiliki pengetahuan dan ketaguhan hati yang kuat. Sementara yang lain tetap hanya menjadi seorang salik biasa dan tidak memiliki hak untuk mempimpin suluk. Seorang mursyid yang dimpilih oleh gurunya dianggap memiliki pengalaman dan pengetahuan spiritual lebih sempurna dari salik yang lain.

Seorang salik (Aceh: salek), harus mengikuti apa yang ditetapkan dan diarahkan oleh mursyidnya, baik dalam adab sikap harian maupun dalam bacaan. Pada kali peratama mengikuti suluk, diadakan sebuah acara tahkim sebagai pernytaan sang salik akan taat kepada gurunya sepanjang pelaksanaan suluk. Seorang Mursyid akan membimbing sang salik sebagaimana dokter mengobati pasien. Sang salik akan dibimbing berdasarkan ”penyakit hati” yang dideritanya. Dan dalam proses ini sang salik berjanji akan mengikuti apapun bentuk bimbingan, arahan, petunjuk guru. Kata Imam al-Ghazali, seorang murid harus seperti mayat yang dibandikan oleh gurunya. Seorang salik yang tidak memiliki guru dan mencoba-coba menjalani jalan tarekat tanpa guru inilah yang dikenal dengan salik buta (salek buta).

Fana Dalam Suluk
Seorang salik dibimbing oleh mursyidnya untuk melakukan perjalanan menuju hakikat tertinggi yakni berada sedekat mungkin dengan Allah. Untuk ini mereka harus melalui berbagai tahapan yang dikenal dengan maqam (jama’ maqamat) dan hal (jama’ ahwal). Maqam adalah stasion atau tingakatan yang dilalui oleh seorang salik. Tahapan ini biasanya dimulai dengan taubat nasuha. Taubat dapat dilakukan dengan mandi taubat dan shalat taubat. Baru kemudian melakukan serangkaian zikir kepada Allah sebagai pernyataan bahwa ia bertaubat. Taubat dianggap sebagai pernyataan akalu seorang salik telah bertekat akan menjadi hamba yang ”berbeda” yakni meningalkan perilaku, sikap hidup, cara pandang duniawi menuju sikap hidup spiritual yang berorientasi pada ukhrawi.

Dalam prosesi suluk semua tahapan yang akan dilalui oleh seorang sufi dilakukan dengan zikir. Zikir adalah kunci dalam suluk. Seorang sufi sedikit demi sedikit memfokuskan diri pada Allah dan melupakan hakikat dunia dan dirinya. Sang salik mencoba mengosongkan pikirannya dari pikiran yang berorientasi materi kepada pikiran yng berorientasi Tuhan. Zikirnya difokuskan sedemikian rupa dengan hati yang selalu terhubung dengan Allah. Ini dilakukan dengan tiga level zikir yang disebut dengan zikir asma’, zikir sifat, dan zikir zat. Zikir asma yakni berzikir dengan ungkapan ”Allah.... Allah.... Allah.. ” Zikir sifat dilakukan dengan menyebutkan salah satu sifat Allah, misal: ”ya latif.... ya latif..” dan seterusnya. Dan pada tahapan akir seorang salik berzikir dengan zat Allah, ”hu... hu... hu...” dan seterusnya.

Proses ini butuh waktu lama. Tidak semua sufi bisa naik ”peringkat” dari zikir asma ke zikir sifat. Mursyid akan tersu mengontrol dan memperhatikan sang salik dalam usaha tersebut. Tidak jarang seorang salik yang sudah mengikuti suluk berkali-kali dan bahkan bertahun-tahun tetap tidak mampu berzikir dengan sifat karena hatinya yang tidak bisa diatur. Ia tidak mempu melepaskan diri dari pandangan dunia dan ketertarikan hatinya dengan materi. Mulut dan lidahnya menyebut nama Allah, namun hati dan pikirannya melayang memikirkan dunia. Ia tidak benar-benar membersihkan hati menuju sesuatu yang Maha Suci.

Kemungkinan Anarkis
Dalam usaha awal menetapkan hati mencapai fokus pada Allah (baik asma’, sifat maun zat) tersebut, maka hati seorang salik akan berada dalam kondisi labil. Bahkan ada saat-saat tertentu yang hatinya kosong. Hatinya baerada Dalam transisi menuju perubahan kepada fokus, ia dipengaruhi oleh aspek-aspek ego dan setan yang coba menghalangi dan mempengaruhi. Aspek ego dan nafsu memberikan ruang kepada setan untuk masuk dan mengacaukan konsentrasiya, membujuk agar hati tidak fokus kepada Allah dengan berbagai cara, seperti mendorong ujub, riya’, takabur, pamer dan lain sebagainya. Setan juga bisa mendorong seorang salik dengan ”seolah” mengabari kabar-kabar ghaib dari langit, ”membuka hijab ketuhanan” dan menampakkan kebesaran kekuasaan Allah.

Pada saat yang demikian, jika seorang salik lalai maka ia bisa salah. Di sinilah salik perlu selalu ingat pada Mursyidnya. Sebab sang mursyidlah yang akan menyatakan kepadanya apakah ia telah benar-benar telah ”sampai” pada hakikat, atau hanya sebuah fatamorgana spiritual yang dibawa setan. Kalau sang salik mangkir dan telah puas dengan apa yang disaksikannya tanpa bimbingan mursyid, maka sangat mungkin ia tertipu dan keluar sebagai seorang yang ”aneh.” Hal ini bisa kita lihat dari beberapa orang yang mengaku menjadi ”nabi” setelah ia berzikir 40 hari dan menerima ”wahyu” dari Allah. Ini tidak lain disebabkan ia merasa puas dengan kesan pertama yang mempesona, ia mengukuti kesan itu dan meninggalkan pembimbing spirituanya. Padahal apa yang ia alami adalah sebuah godaan dan tipu daya Setan yang justru menyeretnya pada kesesatan.

Dalam masa transisi tersebut di atas pula nampak berbagai dosa, kesalahan, kelemahan sang salik dalam hidupnya. Karenanya, jika ia tidak fokus dan tetap patuh pada aturan zikir yang telah diajarkan mursyidnya, seorang salik bisa pula bertindak ”berbeda” dari kebiasaannya sehari-hari. Ia bisa menunjukkan keberingasan, kekejaman, anarkisme dan lain sebagainya. Karena pada saat tersebut ia berada di ”posisi nol”. Penagruh bisikan dan sebuah bayangn dapat masuk ke dalam hatinya dan mendorongnya melakukan berbagai hal. Kekerasan bisa saja salah satu diantaranya. Ia mencoba mengapresiasikan diri dengan melakukan kekerasan dan mencederai orang lain. Mungkin dalam praktek tersebut ia mendapatkan kepuasan dan ketenangan berdasarkan bisikan yang didengarnya.

Apakah bapak Abdullah Daud yang mebunuh tiga rekannya yang sedang suluk mengalami hal ini? Wallahu’a’lam.

1 comment: