Saturday, 18 October 2008

Guru Besar Atau Menara Gading?

Hari ini, 16 Orang Guru Besar di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dikukuhkan. Ke-16-an Guru Besar tersebut berasal dari berbagai jurusan dan bidang keahlian; Fiqh, pemikiran Islam, Tafsir, Sejarah dan ilmu pendidikan. Ini adalah pengkuhan guru besar terbanyak di IAIN Ar-Raniry. Biasanya pengukuhan guru besar hanya diikuti oleh satu orang saja. Karenanya, ini menjadi catatan sejarah tersendiri bagi IAIN Ar-Raniry.

Bagiku ini lebih dari sekedar pengukuhan. Peristiwa ini menggambarkan latar yang ada di balik panggung. pengukuhan 16 guru besar menimbulkan tanda tanya, kenapa bisa 16 orang seklaigus? kenapa setiap orang tidak merancang pengukuhannya sendiri? selain tentu saja, effek apa yang diinginkan dari peristiwa ini?

tidak ingin menduga-duga. namun ada beberapa hal menarik dari peristiwa ini.
pertama, tidak semua guru besar memili karya fenomenal. beberapa guru besar hanya memiliki beberapa buku yang beredar di aceh, dan itupun dalam kalangan terbatas. buku tersebut juga dibuat "asal jadi" dengan kualitas layout dan setting yang jauh dari sebuah buku berkualitas. ini menunjukkan lahirnya guru besar buakn karena prestasi akademik yang tinggi namun lebih karena "rajin" dalam memngumpulkan KUM dengan membuat tulisan "kacangan" di jurnal-jurnal kampus.
kedua, rendahnya minat civitas akademika IAIN dalam mengikuti acara ini. coz.. siang hari setelah makan siang, yang hadir hanya beberapa dosen dan kelauarga dari para guru besar. sungguh ironis. ini adalah peristiwa penting di mana para guru besar akan menyampaikan hasil keilmuannya yang paling besar dan berkualitas. sayangnya tidak ada yang tertarik untuk mengikutinya. entah... mungkin mereka sudah "menjengkal" kulatisa sang guru.

namun ada yang manarik, dan menurutku mengharukan. aku yakin ini membaut smeua orang yang tidak datang akan merasa sangat rugi. yang saya maksudkan adalah, ceriat pilu di balik kesuksesan sang guru besar. ternyata, dibalik titel dan kebesarannya tersimpan peristiwa yang sungguh pedih dan sedih. mungkin "Laskar pelangi" sudha menjelaskannya. namun ini lebih targis karena berada dalam peristiwa sejarah yang bebrda dengan Babel. Ini Aceh, yang sepanjang sejarahnya adalah darah. perjuangan mereka hingga menjadi Guru Besar sungguh merupakan sebuah episode hidup yang luasr biasa.

aku salut! suatu saat aku berharap bisa berdisi di sana an menyampaikan tesisku, hasil studi sepanjang hisupku. kuingan katakan, duhai manusia, pra gur besar, menulislah! kau tidak ingin mendengat ocehanmu, aku lebih suka membaca pemikiranmu.


wah.,... banyak salah ketik. nanti kuperbaiki yach...

1 comment:

  1. Masak, sih?
    Kalau begitu ini rekor MURI, atau mungkin juga bisa masuk Guiness Book of Records...
    Di Aceh memang banyak sekali guru besar, baik di IAIN maupun Unsyiah. Sayangnya, para guru besar ini jarang yang memiliki karya yang membanggakan. Misalnya, jarang yang menulis buku atau menerbitkan tulisan di jurnal nasional dan internasional.

    ReplyDelete