Tuesday, 4 November 2008

Belajar Semangat Dari Sejarah

Sungguh menyedihkan, sejarah dan budaya ‘Nanggroe’ kita ada di tangan orang lain. Sarjana-sarjana asing mendominasi penelitian masalah budaya Aceh. Mereka menulis hampir setiap jengkal sejarah Aceh, dalam berbagai bidang. Oleh sebab itu bukanlah suatu yang mengherankan kalau mau belajar nilai-ilai budaya Aceh masa lalu, kita harus ke Belanda, harus ke Perancis, ke Portugal, ke Inggris, ke Malaisya dan negara-negara asing lainnya. Padahal kita akan belajar tentang diri kita sendiri, belajar bagaimana budaya kita masa lampau telah membawa kemegahan dan kemajuan bagi masyarakat. Namun terpakasa kita ke luar negeri, sebab itu semua hanya dimiliki oleh orang lain, dikerjakan oleh orang asing. Kita mau mengetahui kerajaan Iskandar Muda, maka harus merujuk karya Denis Lombard. Ia dengan detail menjelaskan bagaimana kehidupan sosial dan kerajaan Aceh di Masa Iskandar Muda. Ia sampai kepada kesimpulan bahwa kerajaan Aceh masa Iskandar Muda bukanlah mitos dan hayalan yang dibesar-besarkan, namun fakta berbicara bahwa Iskandar Muda dengan kerajaan Aceh Darussalam benar-benar sebuah bangsa berdaulat diantara bangsa-bangsa lain di dunia. Demikian juga Antony Raid yang menjelaskan dengan cara yang amat apik mengenai sejarah konflik di Aceh. Mereka mengkaji masyarakat kita budaya kita, fenomena hidup kita yang kita lakoni sehari-hari.

Demikian halnya kalau kita mau belajar budaya Aceh masa lalu, maka kita mesti baca buku Snouck Hurgronje, The Achehnese. Dia yang mampu dengan menjelaskan detai dan mampu menggali akar budaya masyarakat Aceh. Ia menjelaskan Daboih bukan hanya dari fenomenanya, namun sampai pada sya’ie dan asal usulnya. Ia menjelaskan bagaimana Rapa’i begitu berkembang di Aceh sebagai sampai menjadi keseniah biasa padahal sebelumnya ia adalah berasal tarekat sufi. Kita juga hanya dapat menyaksikan bagaimana Drawes dan Brakel menjelaskan datail hidup dan sya’ir-sy’air Hamzah Fansuri, menghubungkannya dengan karya sastra sufi Persia dan Timur Tengah. Demikian juga Nieuwenhuijze mendata dan meneliti karya-karya Syamsuddin as-Sumatrani, hubungan dia dengan Hamzah Fansuri, posisi dia dalam kekuasaan Iskandar Muda dan pengaruh ajarannya pada rakyat Aceh. Semua itu ada di tangan sarjana luar. Mereka bahkan lebih tahu tentang masyarakat kita dari pada kita sendiri. Kita menjelaskan masyarakat kita dengan merujuk pada tulisan mereka. Sungguh ironis!!

Saya tidak memaksudkan bahwa kajian yang telah dilakukan oleh orang luar salah, keliru atau kurang bijaksana. Pusn saya tidak anti –apalagi menolak- hasil yang telah mereka kemukakan dari studi jujur yang merka lakukan. Namun dari sisi kemandirian bangsa, menurut saya, hal itu semua adalah suatu yang memalukan. Tuhan telah memberikan kita kapasitas isi kepala yang sama dengan orang luar. Tuhan telah menciptakan setiap insan memiliki jumlah sel dan potensi otak yang sama. Bahkan di tanah kita, Tuhan telah menumbuhkan tanaman yang baik, mengalirkan sungai yang banyak, memberikan gas, semen, minyak, emas agara kita dapat hidup dan berkembang menjadi sebuah bangsa yang maju. Kenapa kita tidak memanfaatkannya?

Sadar Sejarah
Saya kira, masyarakat Aceh harus kembali sadar akan kebesaran sejarahnya. Sadar dan mengerti sejarah bukan berarti harus mengambil dan mengikuti sejarah yang ada selama ini bulat-bulat tanpa pertimbangan. Sadar sejarah bukan pula ingin bernostalgia yang membuat kita terbuai dengan romantisme sejarah. Namun dalam setiap sejarah selalu ada pelajaran. Bukalah salah satu isi pokok al-Qur’an adalah sejarah? Dan berkali-kali Allah tegaskan bahwa sejarah adalah pelajaran bagi manusia. Fir’un dengan kesombongannya ia binasa. Namrut dengan keangkuhannya ia binasa. Kaum Nabi Nuh, dengan keingkarannya mereka punah, dan masih banyak cerita lain dalam al-Qur'an yang semuanya diharapkan menjadi I’tibar dalam hidupan.

Dalam kasus Aceh, maka sejarah Aceh masa lalu haruslah menjadi i’tibar bagi kita untuk kehidupan yang lebih baik. Namun berapa orang yang mengerti sejarah itu? Berapa orang yang faham akan nilai kebenaran sejarah? Dan yang lebih pahit, berapa orang yang mengerti dan mampu menjelaskan secara objektif sejarah Aceh kepada generasi berikutnya? Mungkin hanya bisa dihitung dengan jari tangan. Ada yang mau mengerti namun tidak tersedia cara untuk mendapatkan kebenaran sejarah tersebut. Ada pula yang punya fasilitas untuk dapat mengetahui, namun ia tidak memanfaatkannya.

Maka tidak heran kalau saat ini, mungkin, generasi muda Aceh lebih faham Colombus menemukan benua Amerika daripada Islamisasi Pasai. Remaja Aceh lebih faham Cerita Elizabeth dan Pangeran William dari pada Iskandar Muda dan Putro Phang. Bahkan banyak mahasiswa yang saya temui mengerti dengan baik teologi Pembebasan Gustavo Guiterez dari Amerika Latin daripada Tasawuf Pembebasan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani, padahal secara konseptual tidak jauh berbeda.
Kondisi ini sungguh riskan. Baru tiga abad berlalu kita mulai kehilangan jejak sejarah bangsa kita sendiri. Sedikit demi sedikit bukti sejarah musnah, nilai sejarah hilang, dokumentasi sejarah dibawa orang ke luar. Mungkin suatu saat nanti, entah kapan, kita akan berdiri di atas sebuah kerangka sejarah yang rapuh. Kita nampak hebat, namun yakinah bahwa itu akan bertahan dua atau tiga priode saja, lalu akan rubuh kembali. Dan kemudian kita akan kembali menjadi bangsa yang rendah.

Gerakan Intelektual
Saya pikir sekarang saatnya melakukan gerakan intelektual untuk sadar diri, sadar akan kebesaran bangsa, sadar akan kebesaran Islam dan Aceh masa lalu. Hal ini, seperti saya kemukakan di atas, bukan untuk menghayal dan terbuai, namun untuk memicu semangat bahwa kita adalah bangsa besar, bangsa hebat, bangsa yang pernah menjadi perhatian dunia karena kemajuan peradaban. Bukan malah sebaliknya seperti kini, kita dikenal karena mengemis, lemah, meminta-minta bantuan asing untuk memberdayakan diri. Kita menghiba, melaporkan berbagai kelemahan dan penderitaan kita kepada siapapun yang datang dengan maksud agar mereka iba, prihatin lalu mengulurkan tangan memberi bantuan.

Kita harus sadar diri dan berdikari. Kesadaran ini perlu dipupuk sejak dini dan dalam berbagai sektor. Di lingkungan mahasiswa misalnya, senior mahasiswa tidak perlu meng-ospek-i adik leting dengan peloncoan, dengan mepermalukan dan sok hebat sebagai senior. Demikian juga training organisasi, tidak perlu bentak-bentak, lari tunggang langgang, masuk hutan keluar hutan, masuk got, tidur di kamar mayat tanpa maksud edukasi dan hanya mengedepankan senioritas. Itu permainan klasik yang tidak berarti lagi sekarang. Sekarang saatnya membangun sebuah komunitas dengan nyali intelektualisme tinggi. Perkenalkan kepada mahasiswa baru bagaimana mengakses internet, bagaimana mendapatkan pelayanan dan memanfaatkan pustaka, bagaimana mengakses kerjasama antar lembaga, bagaimana membuat proposal penelitian, bagaimana membuat tulisan ilmiah, membuat tulisan di jurnal dan lain sebagainya. 

Jangan seperti selama ini, senior mahasiswa menunjukkan kegarangan dan kehebatan ototnya di hadapan mahasiswa baru. Ia menyembunyikan otaknya dibalik topi senior. (Undang-undang Senior, Pasal satu, senior tidak pernah salah. Pasal dua, kalau senior salah lihat pasal satu). Dan ini akhirnya menjadi lingkaran setan yang tiada henti, yang diikuti kembali oleh generasi berikutnya. Cukup IPDN!
Dunia akademik harus bangun dan mengambil jalan baru. Dosen-dosen meneliti dengan jujur dan penuh dedikasi. Bukan hanya melengkapkan syarat penelitian saja untuk mengambil uang di lembaga penelitian. Namanya penelitian lapangan, namun realisasinya duduk dibelakang meja, mendapatkan data di halaman koran, dan hayalan, mengolahnya dengan kalkulator hp. Namanya penelitian pustaka, namun rujukan tulisan populer, buku populer, “katanya”, “menurut cerita”, “kuat dugaan,” tanpa mencoba menelusuri berbagai kajian yang ada sebelumnya. Akhir priode serahkan laporan ke lembaga yang mendanai, ambil uang, selesai. Kemana hasil penelitian digunakan? Siapa yang memanfaatkannya? Paling cecak dan tikus dibalik lemari besi.
Demikian juga dengan lembanga-lembaga lain, jangan hanya assessment, lalu menggunakannya sebagai komoditi untuk mendapatkan uang. Kemiskinan didata bukan untuk perbaikan nasib si miskin, namun untuk mendapatkan simpati donor mencurahkan dana kepada lembaga yang kemudian dibagi-bagikan sebagai hadiah istimewa. Laporan akhir? “Ah…itu gampang…bisa diatur.” Lembaga harus benar-benar menjadi lembaga yang mengerti dan menjadi rujukan dalam mengambil kebijakan. Lembaga yang bergerak dalam bidang pertanian misalnya, harus memiliki data kongkrit mengenai petani, bukan untuk menjual mereka, namun untuk mendapatkan peta bagaimana meningkatkan taraf kehidupan petani. Demikian juga lembaya yang bergerak dalam bidang perempuan, anak dan gender. Bukan hanya megungkapkan bagaimana penderitaan perempuan sebagai cerita pilu, namun bagaimana sekali ungkap benar-benar efektif menjadikan mereka sebagai wanita yang terberdaya. Jangan jadikan cerita mereka sebagai novel lisan yang dijual di donor untuk mendapatkan uang hak cipta.

Penelitian dan Marwah
Ke depan, suatu saat, kita berharap, setiap orang yang mau meneliti tentang Aceh, maka sumber awalnya adalah studi yang telah diilakukan oleh orang Aceh sendiri. Tentu hal ini tidak mungkin terwujud tanpa metodologi riset yang kuat. Hasil penelitian ecek-ecek akan dibuang ke tong sampah atau dijadikan bungkus ikan asin di Pasar Aceh. Hanya penelitian yang baik, memeiliki kerangka konseptual yang jelas, sistematis, dan dari sisi metodologi memiliki dasar filosofis yang jelas saja yang akan menjadi referensi akademik dan dalam menentukan kebijakan pada dimensi yang lebih luas. Orang akan menjadikan itu sebagai sebuah kebenaran awal dan menjadi rujuakan akademik jika benar-benar mengikuti metodologi yang benar. Sementara penelitian yang gegabah, lemah, campur baur, akan dibuang dan tidak berguna.
Menurut hemat saya, penelitian yang dilakukan sendiri akan lebih kuat dibandingkan dengan penelitian orang luar disebabkan, pertama, kita adalah pelaku dan pemilik alam, budaya dan sejarah yang ada dalam komunitas kita. Dengan demikian kita akan lebih meresapi dan seolah sedang “menulis tentang diri kita sendiri”. Kita sedang menjelaskan keseharian kita baik secara individu maupun secara sosial. Dengan begini maka penelitian akan semakin hidup,akan semakin bermakna. Kedua, kita lebih dekat dengan sumber data primer, dengan sumber studi yang menjadi rujukan utama. Dengan demikian apapun yang kita teliti akan sangat mudah mendapatkannya karena ia ada di sekitar kita. Kita punya banyak waktu untuk melakukan pendekatan, untuk berusaha agar objek tersebut benar-benar dapat terlihat dari berbagai dimensi.

Menurut saya, penelitian-penelitian mengenai khazanah budaya Aceh akan mempu menjadikan Nanggroe ini terhormat. Sedikit demi sedikit kita maju dan bersaing dengan dunia internasioanl dalam bidang kajian keilmuan. Mungin hari ini kita hanya mampu mengaji dan menunjukkan kebesaran budaya kita saja, namun ke depan sedikit demi sedikit kita mulai merambah dunia luar dengan kajian-kajian yang mencengangkan. Kita mampu menulis pemikiran yang berbeda terhadap berbagai fenomena yang ada. Dan akhirnya, dengan demikian kiata berharap Aceh benar-benar seperti dulu kala, meceuhu ban sighom donya. Insyaallah.

No comments:

Post a Comment