Monday, 15 August 2011

Lelaki Tua yang Menamatkan al-Qur'an Tiga Hari Sekali

Saat itu tahun 2006 akhir, persis masyarakat Aceh sedang disibukkan dengan pemilihan umum kepala daerah pertama setelah konflik dan tsunami. Saya berkunjung ke sebuah dayah di Simpang Mamplam, Bireun. Dayah itu tidak terlalu tua, namun ada banyak anak yatim yang ditampung di sana. Sebagian mereka adalah korban tsunami tahun 2004. Sebagian yang lain anak dari orang tua yang kurang mampu secara ekonomi. Di sana mereka tinggal sambil belajar agama Islam.

Tokoh sentral dalam dayah itu adalah seorang kakek tua yang dipanggil dengan sebutan "Abi". Beliau kakek berusia -saat itu- 87 tahun. Meskipun ia tidak lagi mengajar di dayah secara formal, namun nasehat-nasehat, petuah dan "ceramahnya" selalu dinantikan santri dayah. Menurut pengakuannya, ia kurang beruntung dalam hal ibadah. Sebab dalam usia yang sudah sangat tua ia baru memiliki kesempatan menunaikan haji. Yakni tahun 2003, saat usianya sudah 84 tahun. Itupun setelah sebuah proyek reklamasi pantai dilakukan pemerintah daerah dan ia mendapatkan mengganti rugi tanah dengan harga yang lumayan tinggi.

Jauh hari sebelum naik haji, ia sudah bernazar. Kalau nanti kesempatan naik haji datang dan ia bisa pulang ke Aceh dengan selamat, maka ia akan mengisi waktunya dengan membaca al-Qur'an. Setelah ia benar-benar mendapatkan kesempatan naik haji dan pulang dengan selamat, ia menunaikan nazarnya. Awalnya, ia menamatkan membaca al-Qur'an sekali sebulan. Namun lama-lama semakin meningkat. Saat saya datang ke sana, ia mengaku biasa menamatkan al-Qur'an sekali dalam tiga hari. Bahkan terkadang dalam dua hari!

Kemarin (11/08/2011) di Bandara Banda Aceh, saya tanpa sengaja berjumpa kembali dengan beliau, setelah lima tahun yang lalu. Ia ternyata hendak berangkat ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Umrah. "Ini tahun ketiga saya berangkat ke sana," katanya. Artinya, dalam tiga tahun terakhir ini, setiap puasa ia pergi ke Makkah untuk berumrah. "Apa Abi masih kuat?" tanya saya. "Alhamdulillah, saya bisa berjalan sendiri meskipun dengan tongkat", katanya.Memang terlihat, di bandarapun ia berjalan sendiri. Meskipun terkadang seorang cucunya yang masih remaja memapahnya, namun jelas nampak kalau tenaganya masih sangat kuat untuk lelaki seusianya.

Perjumpaan ini mengingatkan saya perjumpaan kami lima tahun yang lalu. Ia duduk di sebuah balai kayu di depan rumahnya. Sebuah al-Qur'an terbuka di depannya. Al-Qur'an itu terus terbuka sepanjang hari. Setiap ia memiliki waktu kosong ia mendekatinya, dan membaca ayat-ayat suci itu. Dengan cara ini ia menamatkan al-Qur'an tiga kali dalam sehari; "Sudah tiga tahun, sejak saya pulang dari haji", katanya.

Lalu saya memilihat pada diri sendiri sambil membela diri: "Beliau bisa karena beliau tidak punya kesibukan, cuma itu saja yang dipikirkannya" kata saya dalam hati. Lalu bagian hati yang lain menjawab: "Iya, kamu memang sibuk, sangat sibuk, tidak mungkin bisa membaca al-Qur'an sepeti beliau".

No comments:

Post a Comment