Monday, 22 March 2010

Diimami Pasien RSJ

Kampung kami terletak di tengah kota Banda Aceh, persis di belakang Rumah Sakit Jiwa. Jalan menuju RSJ langsung melintasi kampung kami. Karena itu sering kali di jalan lewat pasien RSJ yang sudah lumayan sembuh untuk membeli rokok, beli mie, atau sekedar lewat tanpa alasan. Tidak semua yang lewat di sana bisa dinyatakan sembuh. Sebab beberapa yang saya jumpai masih suka ngobrol sendiri, berceramah, mengais tumpukan sampah mencari makanan, dan perilaku lainnya. Bahkan sering juga mereka menakut-nakuti anak-anak, meskipun tidak melakukan pelecehan seksual seperti yang kebanyakan dilakukan oleh orang yang mengaku tidak gila di berbagai daerah di Indoensia.

Kisah ini diceritakan oleh seorang bapak kepada saya, minggu lalu. Peristiwa ini sendiri terjadi tahun lalu, pas bulan puasa.

Sudah biasa masjid kami melaksanakan shalat berjamaah setiap waktu tiba. Saat matahari sudah menunjukkan waktu zuhur, seorang anak muda mengumandangkan azan menandakan shalat segera dimulai. Setelah azan, beberapa jamaah yang datang melaksanakan shalat sunat qabliah zuhur dua rakaat. Ini butuh waktu beberapa menit. Mereka melaksanakan di berbagian pojokan masjid. Sebagai di sisi dinding, ada di balik tiang, dan banyak pula di saf terdepan.

Seorang lelaki muda yang mengenakan serban berwarna putih bersih melaksanakan shalat persis di belakang tempat imam berdiri. Bajunya berwarna abu-abu mencapai lutut. Sementara celananya longgar dan hanya sampai ke mata kaki. Dengan pakaian demikian jelas, siapapun akan menduganya sebagai seorang yang terpelajar dalam agama. Sebab pakain demikian umumnya dipakai oleh orang yang baru tamat dari pesantren atau kiai atau kelompok oraganisasi islam tertentu yang banyak berkembang saat ini. Ia shalat sangat khusyuk. Bahkan muazin harus menunggu agak lama sebelum mengumandangkan iqamah karena ia belum menyelesaikan shalatya. Setelah selesai shalat ia berdoa dengan khusyuk pula, matanya sedikit terpejam dan kepala menengadah ke atas. Hingga tiba mu'azin mengumandangkan iaqamah, tanda shalat akan dimulai.

Melihat pakaian dan laku yang demikian, beberapa orang tua mempersilahkannya maju ke depan menjadi imam. Apalagi hari itu imam kampung tidak datang. Setelah melihat kiri dan kanan ia maju penuh percaya diri. Ia menghadap jamaah yang hanya satu saf dan dengan suara keras dan tegas mengatakan: Lurus, rapat dan rapikan saf, samakan tumit dengan garis hitam. Saf yang rapi adalah setengah dari pahala shalat. Lalu ia berbalik menghadap kiblat dan mengangkat takbir: Allaaaahu Akbar! Kami mengikutinya dari belakang.

Pada rakaat pertama setiap shalat sebenarnya tidak memerlukan waktu yang terlampau lama. Hanya membaca doa iftitah, al-fatihah dan sebuah surat pendek atau beberapa ayat dari al-Qur'an. Namun kali ini sudah berlangsung sedikit lama. Saya mendengar beberapa jamaah membatuk atau bedehem. Nampaknya mereka "mengingatkan imam" agar jangan terlalu lama. Tapi imam masih dalam posisinya semula. Satu...dua...empat... sudah lebih lima menit kami belum juga ruku'. Imam masih saja khusyuk dengan bacaannya. Bahkan sesekali ia terdengar berdesis melafalkan sesuatu.

Tiba-tiba, dari luar masjid terdengar suara gaduh. "Tadi dia di sini menghilangnya. Coba ke belakang masjid. Di kamar mandi. Tadi dia pakai serban putih....." entah apa lagi. Sepertinya ada banyak orang di luar sana yang sedang mencari orang tertentu.

"Nyopat lhon" (saya di sini) teriak sang imam tiba-tiba. Kami sangat kaget. Konsentrasi menjadi buyar. Apalagi tiba-tiba sang imam langsung berjalan ke luar masjid, menerobos saf di belakangnya. Ia terus berteriak. "Nyopat lhon...nyopat lhon...." Sebuah suara lain terdengar dari luar masjid. "Ooo.. ternyata kamu di sini. Cepat pulang ke Rumah Sakit. Pergi ngak permisi. Itu ada keluarga yang datang." Jamaah kamipun buyar lalu bubar. Kami tertawa cekikan bersama. Ternyata imam kami pasien rumah sakit jiwa. Kami terpaksa mengulang shalat dari pertama.

***

Jadi, jangan tertipu dengan pakaian. Kami mengangkatnya menjadi imam (pemimpin shalat) karena surban dan baju koko yang ia kenakan. Tapi pakaian tidak hanya kain tenunan yang dijahit rapi. Pakaian bisa berbentuk partai, suku, agama, daerah, kemampuan retorika. Pilihlah pemimpin karena kita benar-benar mengenalnya, bukan mengenal dia dari pakaiannya saja.

No comments:

Post a Comment