Friday, 26 March 2010

Tawa Sebagai Bahasa

Namanya Muhyat. Namun karena usianya sudah lebih 100 tahun, orang memanggilnya Mbah Muhyat. Ia adalah seorang lelaki sepuh di dusun Wonodadi, sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah. Hampir semua persoalan adat dan supranatural warga dusun bertanya kepadanya. Sebab selain memiliki pengalaman yang panjang, ia juga seorang yang menguasai berbagai ilmu Jawa Kuno, semacam mujorabat dan astrologi. Ia juga diyakini bisa menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita warga, seperti demam dan sakit-sakitan yang lain. Di tengah belantara di mana rumah sakit sangat jauh dan transportasi yang sulit, berobat dengan ramuan dan rajahan adalah pilihan yang paling logis. Dan Mbah Muhyat adalah “dokter” bagi 55 KK yang menetap di tengah hutan Pinus Kabupaten Pekalongan tersebut.

Satu hari, ketika saya berada di sana, saya duduk berbincang dengan beberapa warga. Pada jam 10.00 pagi warga yang saya ajak berbincang mulai meninggalkan saya karena harus kembali bekerja. Pada saat itulah seorang perempuan yang sudah sangat tua datang di depan saya. Ia berbicara dalam bahasa Jawa yang sama sekali tidak saya pahami. Bukan karena dialeknya asing atau kecepatan biacaranya, namun saya memang tidak paham sama sekali bahasa Jawa, selain ngeh, monggo, dan mutur nuwun. Saya mengatakan kepadanya kalau saya tidak bisa berbahasa Jawa, namun bukannya mendengar saya, ia malah terus berbicara dan kadang tertawa. Demi menghormatinya, saya juga tersenyum dan kembali mengatakan kalau saya dari Aceh dan tidak bisa bahasa Jawa.
Saya bangun dan hendak meninggalkannya. Namun ia menunjukkan ujung gang di mana dia tadi keluar. Ia terus berjalan ke ujung gang tersebut. Ketika saya melihat ke belakang, ia masih berada di sana dan tersenyum. Hati kecil saya mengatakan kalau nenek tua itu mengajak saya ke rumahnya. Saya mengikuti kata hati dan berjalan menuju gang itu. Benar saja, ketika saya menuju gang, ia mulai berjalan lagi hingga sampai ke sebuah rumah. Saya lihat ia membuka pintu lebar-lebar.

Sesampai di rumahnya saya ucapkan salam dan dijawab oleh seorang laki-laki yang jauh lebh tua dari si nenek. Ruang di mana saya masuk adalah sebuah ruang kecil. Di sana ada sebuah meja dengan dua kursi panjang di sisinya, sebuah ranjang dan sebuah kursi rotan di bagian kaki. Si nenek duduk di kursi rotan. Sementara si kakek menjumpai saya dan langsung berbicara bahasa Jawa. Saya kembali katakan kalau saya tidak bisa bahasa Jawa karena saya dari Aceh.

“Ooo…Aceh…Aceh…” kata si kakek sambil melihat pada istrinya dilanjutkan dengan beberapa potong kalimat dalam bahasa Jawa. Mereka berdua tertawa. Dan melihat mereka tertawa saya juga tertawa. Kami tertawa serempak untuk alasan yang berbeda.

Si kakek menunjuk istrinya kepada saya sambil memegang telinga lalu menggoyang-goyangkan telapak tangannya yang lain ke arah saya. Saya pahami kalau si nenek tidak bisa mendengar lagi. Itu mungkin yang menyebabkan tadi beliau tidak mempedulikan saya ketika saya berbicara. Si kakek juga kerap setengah “berteriak” ketika bicara pada istrinya. Saya katakan -dengan bahasa Indonesia- tidak masalah, saya juga tidak bisa bahasa Jawa. Si kakek menjawab lagi dalam bahasa Jawa lalu kemudian tertawa. Saya juga ikut tertawa. Kami terus berbicara saling menjawab namun saling tidak mengerti dengan apa yang kami ucapkan. Yang selalu kami lakukan adalah tertawa di akhir setiap kalimat. Tertawa lepas seolah kami saling mengerti dan sudah akrab bertahun-tahun.

Mbah Muhyat mengambil sebuah buku dan menunjukkan kepada saya. Buku yang sudah lapuk dimakan usia. Buku tulisan tangan dalam huruf wanacaraka yag seperti cacing kepanasan. Ia membaca buku itu dengan irama khas Jawa. Katanya, itu nembang dari Kitab Pertimah. Ia terus membacanya, dan saya menyimak dan menikmati alunan suara tuanya yang mulai serak. Setelah ia menutup bukunya, ia kembali mengatakan beberapa kalimat lalu tertawa. Saya juga tertawa.

Saya mengambil dan membuka-buka buku itu. Di sampulnya tertulis 1921. Saya tidak tahu pasti apa arti tahun itu. Saya tunjukkan padanya, tahun tersebut, lalu ia mengatakan sesuatu, lalu kembali tertawa. Saya tidak bisa menangkap maksudnya. Kemungkinan kalau bukan tahun pembelian buku, bisa saja tahun awal ia mulai menulis. Di beberapa halaman yang lain saya menemukan beberapa model perhitungan bulan jawa dan penunjuk arah mata angin. Ia kembali menjelaskan apa maksud gambar-gambar itu, lalu tertawa. Saya juga ikut tertawa.

Tidak terasa saya sudah menghabiskan waktu dua jam disana. Sebuah kopi dengan pemanis gula aren dan sepiring kipang yang diberikan sudah hampir habis. Saya masih tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Namun sepanjang dua jam itu kami tertawa bersama-sama. Saya tidak tahu apa katanya, dan saya yakin sekali kalau dia juga tidak tahu apa yang saya katakan. Namun tawa dan gerak yang kami lakukan menjadi alat komunikasi yang mengakrabkan pertemanan kami.

Setelah minta permisi dan pulang, saya berfikir, bagaimana mungkin kami bisa sangat akrab, berbicara selama dua jam padahal tidak saling mengerti bahasa yang kami pakai? Entahlah, tapi itu terjadi.

Tertawa adalah bahasa universal



No comments:

Post a Comment