Thursday, 18 March 2010

Sulitnya Meminta Maaf

Minggu yang lalu saya dikirimi sebuah SMS oleh seorang staf akademik salah satu fakultas di kampus. Isinya ia memberitahu saya ada sebuah mata kuliah yang harus saya asuh di fakultas tersebut. Dengan jelas, dalam SMS tersebut, dituliskan saya masuk jam ke V, ruang dua hari kamis. Saya katakan Oke saja. Tapi minggu lalu sya tidak bisa masuk karena masih berada di luar kota. Insyaallah minggu depan (minggu ini maksudnya) saya akan masuk.

Hari ini, jam 16.20, seperti jadwal biasa saya datang ke kampus. Masuk ke ruangan seperti yang tertulis di SMS. Tidak ada mahasiswa di sana. Mungin mereka sedang shalat ashar, batinku. Lima menit, sepuluh, lima belas menit berlalu. Saya mencoba keluar ruangan, tidak ada siapapun di sana. Sekelompok mahasiswa duduk di depan ruang agak jauh. Saya tanyakan mereka masuk mata kuliah apa. Ternyata bukan mata kuliah yang saya asuh.

Lalu saya menelpon nomor yang dulu mengirimi saya SMS. Saya tanyakan, apakah benar saya masuk jam Ke V ruang 2 hari ini? Tidak ada jawaban. Saya tekan nomornya dan saya telpon, tidak diangkat. Sekali lagi saya ulang, tidak juga. Saya mencoba sampai empat kali, hasilnya sama saja.

Saya pergi ke bagian akademik Fakultas tersebut yang berada agak jauh dari ruang kuliah. Petugas piket baru saja menggunci ruangan dan siap-siap mau pulang. Saya minta ia kembali dan mengambil absen yang biasanya diantar ke kantor saya. Dia mendapatkannya, dan betapa saya sedikit kesal, di sana tertulis saya masuk jam ke III.

Sebuah SMS masuk ke hp saya, seorang yang tadi saya hubungi. Ia mengatakan benar saya masuk hari ini, tapi jam ke III. Saya balas, kenapa dulu di SMS katanya jam ke V? Ia menjawab, “tidak, saya beritahu kalau Bapak masuk jam ke V.” Saya diam saja dan tidak membalas lagi. Saya ambil tas lalu pulang. Saya baca suart alfatihah dan saya hadiahkan pahala untuknya. Mudah-mudahan ia mendapatkan keampuan dari Allah atas khilafnya.

Hanya saja saya berfikir; kanapa ia tidak meminta maaf saja? apakah itu sesuatu yang sulit? Apakah ia begitu yakin dengan SMS-nya yang padahal masih tersimpan di HP saya? Padahal satu kata maafnya mungkin menjadikan hati saya tidak larut dalam kesal menyalahkannya. Dan ia tidak akan “kecil” karena mengakui kesalahannya. Sebab -kata para sufi- maaf adalah pintu bagi persahabatan, dan jalan bagi ketaqwaan.

Maaf sobat, saya ambil kisah ini untuk i’tibar bagi saya sendiri.

No comments:

Post a Comment