Tuesday, 2 March 2010

Pertokoan dan Pohon Yang Hilang

Pasca tsunami akhir tahun 2004 yang lalu pembangunan di Aceh berlari lebih cepat. Apalagi kondisi keamanan yang lebih baik dengan berakhirnya konflik antara GAM dan Pemerintah Indonesia pada pertengahan tahun 2005. Ini menyebabkan iklim usaha dan pembangunan di Aceh semakin baik. Bukan hanya di kota Banda Aceh, namun juga di kota-kota lain di Aceh.

Salah satu pembangunan yang tumbuh pesat adalah pembangunan pertokoan. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya modal usaha yang diberikan lembaga Internasional dan pemerintah kepada masyarakat Aceh pasca bencana Tsunami. Kalau anda melakukan perjalanan sepanjang dari Banda Aceh ke Medan Sumatera Utara lewat darat, maka akan nampak di sisi kanan dan kiri jalan pertokoan yang baru dibangun, Pertokoan ini berada persis di pinggir jalan, baik jalan raya maupun nasional maupun jalan kabupaten. Hampir di semua kota di Aceh memiliki model pembangunan toko yang sama. Apalagi di tengah-tengah kota, seperti Banda Aceh, Bireun, Lhokseumawe dan kota lain di Aceh.

Toko dibangun menghadap jalan dengan lebar 4,5 meter dan memanjang ke belakang tergantung luas tanah. Bangunan ini dibuat berderet bersambung sehingga semua lahan termanfaatkan untuk bangunan. Umumnya ketinggian toko hanya dua atau tiga lantai. Beberapa bangunan mencapai lima lantai, namun itu sangat jarang. Dalam satu lahan yang memanjang mengikuti jalan 50 meter bisa muat sepuluh pintu toko. Di beberapa tempat di Kabupaten Pidie dan Aceh Utara ada pertokoan yang bersambung hingga 100 meter bahkan lebih.

Secara penggunaan lahan, ini memeng efektif karena semua tanah dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif. Namun di sisi lain pembangunan pertokoan demikian mengabaikan dua hal penting untuk keselamatan hidup manusia. Pertama, tidak ada jalan keluar di saat darurat. Dengan jenis pertokoan yang berderet, maka toko yang berada di tengah-tengah tidak memiliki jendela kecuali di bagian depan dan belakang saja. Otomatis ini menyebabkan kondisi di dalam pertokoan yang sangat gelap jika tidak ada listrik dan pengap. Lebih bahaya lagi, pertokoan demikian tidak memiliki jalan darurat untuk kondisi-kondisi gempa dan bencana kebakaran.

Kedua, jenis pembangunan pertokoan seperti ini menyebabkan tertutupnya banyak permukaan tanah sehingga sangat terbatas ruang untuk tumbuhnya pepohonan. Hampir semua pertokoan di Aceh tidak memiliki pohon di depannya. Bagian depan dipakai untuk parkir, dan itupun sangat smpit. Kondisi demikian, selain tidak bagus dalam pandangan, juga tidak bagus untuk menjaga lingkungan yang hijau. Tidak ada ruang yang bisa ditanami tumbuhan.

Di Kota Fajar, salah satu kota kecamatan di Aceh Selatan, kota dirancang dengan jalan berpetak yang sangat simetris. Jalan lurus memotong ke Timur-Barat dan Utara-Selatan. Di sisi kiri dan kanan jalan dibangun pertokoan seperti pertokoan di atas. Kondisi ini menyebabkan di kota kecil tersebut hampir tidak ada ruang untuk tumbuhan dan pepohonan. Yang terjadi adalah, kota kecil di pinggiran gunung itu terasa sangat panas di siang hari. Untuk berlindung kita harus pergi ke bangunan umum sebab kita tidak mungkin berlindung dari sengatan matahari didepan pertokoan orang.

Sepertinya, pemerintah Aceh, Provinsi dan Kabupaten perlu memikir ulang tata kota khususnya masalah model pembangunan pertokoan. Kalau ini terus berlanjut maka sepuluh tahun mendatang, kita tidak akan menemukan pohon besar tumbuh di dalam kota. Kegersangan dan kekeringan pasti akan menjadi keseharian kita. Mau?

No comments:

Post a Comment