Monday, 29 March 2010

Boom Kuah Basi

Biasanya bom terbuat dari bahan kimia yang diisi dengan berbagai partikel berbahaya. Jika meleddak maka akan menghancurkan apa saja yang ada di sekiratnya. Bukan hanya orang dan bangunan, sebuah pulau bisa saja tenggelam kalau terkena bom. Ya.. pulaunya harus kecil dan bomnya harus bertenaga ledak luar biasa. Mungkin bom atom dan bom-bom lain yang dipakai Amerika untuk meledakkan Irak bisa jadi contoh yang sesuai.

Tapi belakangan ada yang unik, bom terbuat dari barang alami yang pedas dan baunya menusuk hidung. Bom sejenis ini saya dengar sedang dikembangkan di India. Bom tersebut terbuat dari ekstrak cabe India yang super pedas, terpadas di dunia. Untuk satu beulangong kari kambing mungkin hanya perlu beberapa biji saja. Ekstrak inilah yang dikumpulkan dan dipadatkan untuk dijadikan bom. Saya dengar juga, bom tersebut khusus diperutukkan buat teroris. Mereka akan kesulitan bernafas dan melihat jika kena ledakan bom ekstrak cabe.

Tapi ada yang lebih aneh, sebuah bom terbuat dari kuah basi. Bahkan teman seprofesi saya, penjual durian tahun 2000 pernah menjadi korban. Saya tidak tahu bagaimana rasanya, namun saya bisa lihat ekspresinya dan dapat bayangkan juga perasaannya setelah kena bom.

Ceritanya, tahun 2000 saya jualan durian di Pasar Peunayong, Banda Aceh. Saya bukan toke-nya, hanya seorang yang membantu mendistribusikan saja di pasar. Pemiliknya seorang teman lain yang mendapatkan durian di beberapa daerah di Aceh. Di sisi kanan tempat saya jualan ada seorang laki-laki paruh baya yang sama seperti saja juga jualan durian. Kami sama-sama bermandi keringat saat siang terik Banda Aceh yang membakar.

Tempat di mana saya berjualan tidak jauh dari sebuah kontainer sampah. Dasar orang kota, meskipun kontainer sudah disedikan, sampah tetap saja dibuang sembarangan, bahkan sampai di tempat saya jualan. Persis di depan kami, agak ke pinggir jalan ada sebuah bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman. Sepertinya salah satu bagian sampah yang tidak dibuang di kontainer sampah yang telah disediakan.

Suatu teman saya membeli air mineral dalam gelas plastik (aqua gelas) dan memberikan saya satu gelas. Saya menyimpannya karena saat itu sedang tidak mau minum. Teman saya langsung meminum sampai habis dan membuang gelas platik itu di depan kami berjualan. Gelas itu jatuh persis di dekat bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman. Saya menegurnya, agar ia membuang sampah pada tempatnya. Jangan buang sampah sembarangan, Sebab di sana tempat orang lewat dan akan sangat mengganggu pemandangan.

Teman ini menjawab: “Tidak masalah, nanti ada dinas kebersihan yang membersihkannya, kalau ngak untuk apa mereka digaji,….”

Ia belum selesai bicara saat tiba-tiba sebuah mobil sedan abu-abu melintasi jalan di depan kami. Pas di depan kami mobil itu hendak menghindari sebuah becak yang datang dari arah berbeda sehingga ia berjalan agak menepi, hanya satu meter dari kami berdiri. Mobil berjalan agak kencang karena jalan memang lagi kosong.

“Cpraaattt…” (saya lupa persis seperti apa suaranya). Bungkusan cair dalam plastik berawarna kuning kehitam-hitaman yang ada di depan kami meledak terlindas ban mobil. Air kuning kehitam-hitaman dari dalam palstik langsung terbang menuju teman saya. Air itu mengenai bagian depan baju teman saya dan sebagian mukanya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Bau menusuk hidung tidak terhindarkan. Saya tidak bisa gambarkan bagaimana baunya. Tapi itu memang sangat bau.

Saya lihat muka teman saya memerah, atau tepatnya membara. Ia menahan amarah yang maha dahsyat dan mengutuk pengendara mobil. Beberapa saat setelah ia kena bom kuah basi ia tidak berkata apa-apa, namun dalam beberapa detik kemudian keluar berbagai sumpah serapah dan “peribahasa khas” yang tidak layak diucapkan dalam situasi normal.

Ia melihat pada saya, saya katakan: “Tidak masalah, nanti ada Dinas Kebersihan yang membersihkannya…”

***

Keburukan yang kita buat akan kembali kepada kita sendiri. Mungkin dalam bentuk lain yang kita tidak sadari.


No comments:

Post a Comment