Saturday, 13 March 2010

Terorisme Dan Kenyamanan di Jalan

Sejak munculnya masalah terorisme di Aceh, bayangan masa-masa konflik dulu kembali menjelma. Pemeriksanaan KTP, periksa barang-barang bawaan, tanya ini itu, tanya hubungan dengan seseorang yang sama nama dengan kita, dan pertanyaan aneh lain kembali bermunculan. Setiap perjalan ke luar kota setidaknya kita harus periksa dahulu apakah sudah siap dengan KTP atau identitas lain? apakah tidak ada penampilan mencurigakan? seperti jenggot, baju koko dan baju jubah? Apakah di dalam dompet tidak ada catatan yang memakai pinsil? Apakah nama dan daerah asal anda dari Jawa? Sebab semua itu adalah identitas awal untuk dugaan teroris yang diyakini oleh aparat keamaan.

Saya merasakan sendiri saat pulang dari Aceh Barat ke Banda Aceh dua hari yang lalu. Setelah tsunami di Aceh tahun 2004, Meulaboh bisa ditempuh dengan dua jalan. Pertama jalus Tangse Pidie Jaya dan kedua jalan Calang Aceh Jaya. Melalui Tangse jalannya bagus kecuali lobang-lobang biasa sepeti halnya dimanapun di Indonesia. Hanya saja perjalanan akan menempuh pegunungan Lauser selama empat jam. Sementara melalui jalur Calang Aceh Jaya hanya ada beberapa pegunungan. Selebihnya perjalanan di pinggir pantai yang elok. Sayangnya jalan masih hancur-hancuran karena belum diperbaiki.

Saat mau pulang dari Meulaboh saya beserta lima orang teman lainnnya merencanakan jalan Tangse sebab lebih nyaman karena bisa tidur di dalam mobil. Namun seorang teman berkata: “Jalan Calang saja, nanti di Tangse banyak pemeriksaan.” Merujuk pada masa konflik dulu, pemeriksaan selalu harus turun dari mobil, kasih KTP, buka tas dan barang bawaan lain. Kalau polisinya masih “sadar” tidak masalah, pemeriksaan akan berjalan mulus dan mudah. Namun kalau polisinya lagi “mabuk” dan emosi, bisa-bisa kena dua hok, kanan dan kiri. Syukur-syukur kalau hanya di perut. Seringnya di pipi kanan dan kiri. Itulah yang terbayang, sesuai dengan pengalaman masa lalu, masa konflik. Akhirnya kami pulang jalur Calang. Jalan berbatu dan bedebu. Hanya ada satu kali pemeriksanaan Polisi saja. Alhamdulillah lancar.

Begitulah hidup di Aceh kalau aparat kemanan sudah mulai beraksi. Beberapa teman mengurungkan niatnya pergi ke luar kota belakangan ini. Sebab ada satu kalimat yang sangat terkenal di Aceh: “Jangan berurusan engan aparat (polisi dan tentara) mereka menentukan apakah kita salah atau tidak.” Jadi meskipun kita tidak bermasalah dengan terorisme, separatisme, pengedar narkoba, namun merekalah yang menentukannya. Kalau mereka mau menjadikan kita teroris, maka jadilah. Ada saja alasan yang bisa diberikan. Mereka yang punya senjata dan merekalah penguasanya.

Saya sedih banyak pengamat yang masih juga menyarankan pendekatan militer untuk menyelesaikan terorisme di Aceh. Apakah Indonesia tidak memiliki indetelejen? Apakah Indonesia tidak bisa melakukan pendekatan budaya? Apakah tidak ada cara damai dalam menyelesaikan amsalah? Entahlah, mugkin orang Aceh ditakdirkan nyalakan senjata sebagai pengantar tidurnya sepanjang masa.

Dulu separatis diburu Kopasus, sekarang teoris diburu Densus. Ke depan entah apa lagi. Nasibmu Aceh!

No comments:

Post a Comment