Friday, 26 March 2010

Berdebat dengan Guru

Saat masih madrasah Tsanawiyah, saya sering berdebat dengan seorang guru tentang masalah agama. Sebenarnya beliau adalah seorang guru matematika, namun beliau juga belajar di sebuah pesantren yang ada di kampungnya. Belajar di pesantren sempat terputus saat beliau kuliah ke Banda Aceh. Namun setelah pulang kembali ke kampung dan menjadi guru, ia masih pergi ke pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya.

Topik pedebatan kami sebenarnya sebauh topik khilafiah dikalangan ulama Islam, yakni mengenai jumlah rakaat shalat tarawih. Beliau bersikeras bahwa shalat tarawih itu 20 rakaat ditambah dengan 3 rakaat sahalat witir. Sementara saya, seperti yang diajarkan kakek saya, cukup 8 rakaat, ditambah tiga rakaat shalat witir. Beliau menyampaikan berbagai argumen untuk menguatkan pendapatnya. Bahkan mengatakan kalau mereka yang shalat 8 rakaat tidak akan diterima oleh Allah karena tidak ada dalilnya. Tidak mau kalah, saat itu saya juga mengatakan argumen saya tentang shalat 8 rakaat. Karena masih sangat kanak-kanak (14 tahun), argumen saya sangat tidak sitematis dan mudah dipatahkan. Namun saya selalu yakin dan bertahan pada pendapat saya, 8 rakaat.

Meskipun terkadang perdebatan itu sudah tidak enak didengar, namun hubungan saya sebagai murid dengan beliau sebagai guru tidak terganggu. Seorang murid, pada masa itu, harus ta'zim kepada gurunya, sebab itu akan menjadikan ilmu yang diberikan berkah. Saya sangat yakin dengan dalil itu. Oleh sebab itu, saya membantu guru-guru saya dalam beberapa hal yang saya bisa. Seperti menanam padi dan menuai padi di sawah.

Pada suatu musim panen, saya pergi ke rumah guru yang sering berdebat dengan saya. Saat itu sabtu sore. Saya mengatakan kalau besok (minggu) saya mau membantunya memotong padi. Beliau sangat senang menyambut kedatangan saya. Apalagi saat itu padinya sudah mulai menua dan harus segera dipotong. Dengan menggunakan tuai, memotong padai sangat lambat sebab dilakukan satu-satu tangkai. Jadi kalau orang yang memotongnya banyak, maka akan cepat selesainya.

Setelah shalat ashar, beberapa temannya datang ke rumah. Awalnya kami hanya membicarakan hal-hal kecil, namun sedikit demi sdikit mengarah ke perdebatan lama, masalah rakaat shalat tarawih. Tiga orang teman guru saya yang santri pesantren berhadapan dengan Sehat Ihsan, anak kecil kelas dua madrasah tsanawiyah. Awalnya perdebatan santai sambil tertawa, namun lama-lama menjadi "panas" sebab bukan hanya masalah rakaat shalat tarawaih, tapi juga keabsahan kenduri kematian, i'adah zuhur, dan beberapa hal yang lain. Dasar keras kepala dan suka berdebat, saya tidak pernah mengalah. Saya tetap saja pada keyakinan saya meskipun sudah tidak memiiki argumen lagi. Lalu guru saya mengatakan, ya sudah nanti kamu saya hadapkan dengan Abu, panggilan untuk guru pimpinan pesantrennya. Saya katakan, tidak masalah.

Malam hari, kami shalat isya di pesantren dan mengikuti pengajian umum yang diberikan oleh Abu, pimpinan pesantren guru saya. Saya diperkenalkan kepada Abu, yang ternyata seorang laki-laki gagah paruh baya. Guru saya mengatakan saya adalah seroang yang bertahan dengan beberapa argumen khilafiah yang salah. Dia menceritakan beberapa argumen saya mengenai taraweh, shalat jum'at, kenduri kematian, dan lain sebagainya. Saya melihat guru saya bercerita dengan tidak objektif. Beberapa pendapat saya dipelintir untuk menunjukkan kekeliruan saya dalam berendapat.

Setelah guru saya selesai, Abu bertanya pada saya.

"Kamu dari mana?"

"Krueng Kluet (nama desa saya)"

"Berarti kamu kenal dengan Teungku Nyakni?"

"Oooo.. itu kakek saya"

"Kakek bagaimana?"

"Yaa.. kakek saya. Bapak dari bapak saya"

"Oo... sampaikan salam saya sama beliau. Beliau adalah guru saya dan dari guru saya. Ilmunya luas. Ia sangat paham dengan agama. Beiau sangat menghormati perbedaan pendapat. Saya sudah dua kali berjumpa dengannya dibawa oleh guru saya. Saya sangat menghormatinya."

"Baik Teungku, saya akan sampaikan."

Abu kemudian minta permisi dan meninggalkan kami. Guru saya, temannya, tidak mengerti apa yang terjadi. Saya juga tidak mengerti. Tapi satu hal yang pasti, Abu menghormati perbedaan pendapat di kalangan kami. Dan "ilmu" tentang perbedaan itu ia beroleh dari kakek saya, yang juga mengajarkan saya mengenai hal yang sama.

***

terkadang pengetahuan yang terbatas menimbulkan keangkuhan dan kesombongan, sementara seorang ahli ilmu justru sadar akan kebodohan dan kelemahannya.

No comments:

Post a Comment