Wednesday, 24 March 2010

Semangat Peneliti Asing

Sudah dua tahun terakhir saya berteman dan membangun relasi dengan beberapa peneliti asing yang datang ke Aceh. Awalnya saya mengikuti sebuah pelatihan penelitian yang dilaksanakan oleh Aceh Research Training Institute (ARTI) di Banda Aceh. ARTI sendiri awalnya dipimpin oleh seorang peneliti dari Amerika Serikat. Programnya sederhana saja, melakukan pelatihan kepada siapa saja yang berminat dan mendaftar ke kantor ARTI. Pelatihan ini sendiri dibimbing oleh beberapa peneliti internasional, nasional dan peneliti lokal Aceh.

Selama melakukan pelatihan di sana saya mendapatkan banyak teman peneliti dari berbagai negara. Beberapa diantaranya adalah mahasiswa yang sedang melakukan penelitian di Aceh untuk keperluan akademiknya, tesis master atau Ph.D. Namun beberapa yang saya kenal adalah peneliti senior yang memang sudah malang melintang dalam konteks penelitian di Indonesia. Dari mereka saya belajar banyak hal, khususnya dalam masalah penelitian sosial.

Pelajaran yang sangat penting pada awal saya berkenalan adalah masalah dikotomi kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian. Sebelum bergabung dengan mereka saya seringkali disibukkan dengan masalah istilah ini. Apakah kualitatif itu metode, pendekatan, teknik atau apa? Nah, saat permasalah ini saya bicarakan dengan David Reeve, penulis Biografi Ong Hok Ham, ia mengatakan, itu semua adalah istilah saja. Penelitian adalah cara kamu menjawab masalah penelitian. Metodenya terserah saja, mana yang menurutmu dapat membawa kepada hasil yang kau inginkan. Tentu saja ia memberikan beberapa penjelasan lebih lanjut yang sedikit agak panjang. Namun saya mencatat adanya “penyederhanaan” metode dalam penelitian yang diberikan David. Dan ini sangat memudahkan saya dalam menempatkan masalah penelitian dan memetakan rencana-rencana penelitian.

Hal lain adalah menghubungakan konteks-konteks lokal dengan perkembangan ilmu yang lebih luas di dunia. Bagaimana konteks lokal yang hendak kita teliti dapat dihubungkan dengan sebuah teori besar keilmuan yang sedang berkembang. Saya berkenalan dengan Anthony Reid, profesor sejarah yang banyak menulis mengenai sejarah Aceh. saat itu saya menulis megenai kenduri kematian dalam suku Kluet. Saya tidak sadar kalau topik yang saya pilih adalah topik yang berhubungan secara luas dengan berbagai teori ilmu sosial, sampai Toni menjelaskannya. Dia adalah guru yang hebat!

Saya berkenalan dengan Harold, profesor politik dari Australian National University yag ahli politik Indoensia. Ia memimpin ARTI lebih dari satu tahun. Dan selama itu pula yang sering berdiskusi dengannya. Saya sangat teringat berbagai “kemudahan” yang ditunjukkan Harold dalam sebuah penelitian. Saat itu saya terjebak pada kesulitan dalam menentukan “teori” yang sesuai untuk penelitian yang akan saya lakukan. Namun Harold membebaskannya dengan pendapat bahwa penelitian adalah cara kita menulis sesuatu yang terjadi di lapangan dengan kaedah-kaedah akademik. Kesampingkan teori, bekerjalah. Teori akan datang menjemputmu saat data sudah ada di tangan.Prinsipnya hampir sama dengan slogan Majalah Tempo, “enak dica dan perlu”, kata Harold.

Saya tidak bisa menyebutkan semua yang saya kenal. Namun saya akui beberapa peneliti yang saya kenal memeiliki dedikasi yang kuat dan kesungguhan dalam melakukan penelitian. Saya melihat mereka melakukannya dengan sangat halus dan detail. Beberapa peneliti asing yang datang ke Aceh bahkan lebih banyak tahu mengenai Aceh dari pada saya sendiri yang selama hidup berada di Aceh. Hampir semua aspek yang ada di Aceh belakangan ini terekam dengan baik oleh peneliti-peneliti ini. Beberapa hasil penelitian mereka yang saya lihat membuktikan semua ini.

Namun satu hal yang saya salut dari mereka, semangat yang tidak pernah pudar. Saya sendiri adalah orang yang “naik-turun”. Terkadang, kalau lagi semangat, saya melakukan penelitian dengan ssangt serius. Namun kala semangat itu pudar, saya menelantarkan beberapa tugas penelitian saya sehingga menjadi menumpuk. Akibatnya, ketika deadline tiba, -seperti sebulan kedepan- saya akan sibuk dengan penulisan. Jadinya, kualitas artikel hasil penelitian yang saya buat menjadi sangat rendah. Pelajaran-pelajaran yang saya dapat dari mereka tidak sempat saya terapkan. Saya kembali kepada kebiasaan penelitian di kampus, “yang penting selesai”.
Saya masih harus terus belajar!

No comments:

Post a Comment