Saturday, 20 March 2010

Ngopi; dari TV, LD, CD ke Wifi

Semua masyarakat di dunia memiliki budaya sendiri. Sebagian berasal dari warisan genarasi masa lalu mereka. Namun tidak sedikit yang terbangun karena perubahan zaman dan penyesuaian antara lokalitas dengan kehidupan modern yang dibawa televisi dan media lainnya. Salah satu budaya baru itu adalah apa yang belakangan marak berkembang di Aceh, budaya minum kopi.

Tidak ada yang unik sebenarnya, sebab minum kopi adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir di seluruh Indoensia kopi menjadi tanaman yang memberikan penghasilan untuk warganya. Bukan hanya sekarang, sejak masa penjajahan, bahkan masa kerajaan negara kepulauan ini sudah dikenal sebagai penghasil kopi. bahkan salah satu alasan bangsa Eropa datang dan menjajah Indonesia karena mereka merebut pasar Kopi Dunia. Karenanya tidaklah heran pula kalau masyarakatnya juga penikmat kopi yang taat. Bahkan menjadikannya sebagai budaya.

Di Aceh, kopi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pergaulan sosial masyarakat. Tahun 2008 yang lalu saya melakukan penelitian di Kluet, sebuah suku kecil di Aceh Selatan. Di sana, setiap kehadiran kita di sebuah rumah masyarakat langsung dihidangkan kopi tanpa minta persetujuan dulu. Padahal saat itu saya sudah meninggalkan kopi selam tiga bulan. Namun karena saya sedang melakukan penelitian sangat tidak enak kalau menolak pemberian tersebut. Jadinya, saya ketagihan minum kopi lagi. Hal yang sama saya temukan dalam masyarakat Gayo di Kabupaten Bener Meriah. Sama halnya dengan di Kluet, setiap kita datang bertamu ke rumah seorang warga langsung disuguhkan kopi. Jadinya saya harus minum kopi minimal tiga kali sehari. Istimewanya, masyarakat Gayo adalah penghasil kopi. Bahkan kebanyakan kopi yang ada di Aceh berasal dari dataran tinggi Gayo. Kopi Gayo juga diekspor ke luar negeri. Sebuah perusahaan Belanda berdiri di sana untuk keperluan ekspor tersebut.

Budaya minum kopi bukan hanya dalam rumah tangga, tapi lebih “heboh” lagi dalam pergaulan sosial. Warung kopi tumbuh sangat banyak di Aceh. Saya yang tinggal di kota Banda Aceh menjadi saksi pertumbuhan warung kopi yang sangat pesat tersebut, terutama pasca tsunami di Aceh. Untuk menarik peminat beragam cara pula dilakukan oleh pemiliknya. Tidak hanya dalam desain dan penempatan bangunan, namun juga fasilitas hiburan.

Dulu, saat saya pertama kali merantau ke Banda Aceh, warung kopi yang ramai dikunjungi adalah warung kopi yang ada TV-nya. Saat itu TV masih menjadi barang langka, terutama TV besar. Maka warung kopi bersaing menyediakan TV memanjakan palnggannya. Semakin besar TV semakin banyak pelanggan. Kemudian, saat teknologi Laser Disk (LD) berkembang, warung kopi bersaing menyediakan LD. LD dipakai untuk memutar film. Mulai setelah maghrib sampai jam dua malam. Dan warug kopi dengan fasilitas LD penuh pengunjung. Bahkan saya dengar beberapa pemilik warung kopi menggunakan LD untuk memutar Blue Film untuk menarik peminat dari kalangan remaja, mahasiswa dan pemuda. Meskipun resikonya LD mereka disita oleh Satpol PP. Demikina halnya Saat VCD Player mulai marak di pasaran, teknologi LD-pun mati berganti CD. CD jauh lebih mudah dan murah. Apalagi saat masuk teknologi Ghina yang murahnya minta ampun, hampir semua warung kopi menyedikannya. Mereka mendapatkan film dari tempat-tempat penyewaan CD yang juga tumbuh pesat.

Sekarang ini, Wifi adalah tawaran terpopuler bagi pecandu kopi di Banda Aceh. Seperti dituis oleh Rahmat, hampir semua warung kopi yang baru tumbuh di Banda Aceh menyediakan wifi. Kalau malam-malam berjalan keliling kota Banda Aceh, pemandangan kerumunan anak muda di pinggir jalan dengan laptop bukan hal yang asing lagi. Saya tidak tahu dengan pasti mereka membuka apa dengan fasilitas tersebut. Namun seorang mahasiswa saya yang melakukan survey kecil-kecilan mengatakan umumnya mereka membuka facebook dan jejaring sosial yang lain. Mungkin ini perlu research lebih serius.

Namun demikian, beberapa warung kopi di aceh masih bertahan dengan “Keasliannya”. Mereka tidak menyediakan fasilitas apapun selain kopi. Daya tariknya adalah kelezatan kopi dan aromanya yang khas. Warung kopi seperti ini biasanya dikunjungi oleh pecandu kopi yang memang tidak berkepentingan dengan wifi. Dan inipun tumbuh subur seiring dengan meningkatnya pecandu kopi. Sebuah warung kopi yang menjadi langganan saya adalah warung kopi tradisional yang khas. Pemiliknya seorang Kepala Desa yang membangkang pada Soeharto di zaman Oede Baru. Beliau membuka warung kopi sejak tahun 1969 hingga sekarang. Karena usianya sudah sangat tua, ia hanya membuka warung kopi selama tiga jam, setelah shalat subuh di masjid hingga jam delapan pagi. Jadinya warung itu penuh setiap pagi buta meskipun tanpa fasilitas apa-apa dan lampu yang remang-remang. Yang duduk di sana umumnya orang tua. Saya mungkin yang termuda menjadi pelanggannya.

Seperti apa warung kopi Aceh di masa depan? Tuhan yang tahu. Namun satu hal yang pasti terus berkembang, ngopi bukan hanya sebagai sebuah budaya konsumsi amun juga gaya hidup. Saat ini wifi lagi marak-mraknya, maka warung kopi menyediakan wifi. Kalau ke depan ada teknologi publik lain yang lebih maju maka tidak heran juga warung kopi akan menyediakannya. Dalam waktu dekat akan ada perandingan piala dunia di Afrika Selatan. Pasti warung kopi di Aceh akan bersaing menyediakan layar lebar untuk memanjakan penontonnya.

Huuuhh…capek juga nulis. Ya sudah, ngopi dulu.

No comments:

Post a Comment