
Tidak ada yang unik sebenarnya, sebab minum kopi adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir di seluruh Indoensia kopi menjadi tanaman yang memberikan penghasilan untuk warganya. Bukan hanya sekarang, sejak masa penjajahan, bahkan masa kerajaan negara kepulauan ini sudah dikenal sebagai penghasil kopi. bahkan salah satu alasan bangsa Eropa datang dan menjajah Indonesia karena mereka merebut pasar Kopi Dunia. Karenanya tidaklah heran pula kalau masyarakatnya juga penikmat kopi yang taat. Bahkan menjadikannya sebagai budaya.


Dulu, saat saya pertama kali merantau ke Banda Aceh, warung kopi yang ramai dikunjungi adalah warung kopi yang ada TV-nya. Saat itu TV masih menjadi barang langka, terutama TV besar. Maka warung kopi bersaing menyediakan TV memanjakan palnggannya. Semakin besar TV semakin banyak pelanggan. Kemudian, saat teknologi Laser Disk (LD) berkembang, warung kopi bersaing menyediakan LD. LD dipakai untuk memutar film. Mulai setelah maghrib sampai jam dua malam. Dan warug kopi dengan fasilitas LD penuh pengunjung. Bahkan saya dengar beberapa pemilik warung kopi menggunakan LD untuk memutar Blue Film untuk menarik peminat dari kalangan remaja, mahasiswa dan pemuda. Meskipun resikonya LD mereka disita oleh Satpol PP. Demikina halnya Saat VCD Player mulai marak di pasaran, teknologi LD-pun mati berganti CD. CD jauh lebih mudah dan murah. Apalagi saat masuk teknologi Ghina yang murahnya minta ampun, hampir semua warung kopi menyedikannya. Mereka mendapatkan film dari tempat-tempat penyewaan CD yang juga tumbuh pesat.
Sekarang ini, Wifi adalah tawaran terpopuler bagi pecandu kopi di Banda Aceh. Seperti dituis oleh Rahmat, hampir semua warung kopi yang baru tumbuh di Banda Aceh menyediakan wifi. Kalau malam-malam berjalan keliling kota Banda Aceh, pemandangan kerumunan anak muda di pinggir jalan dengan laptop bukan hal yang asing lagi. Saya tidak tahu dengan pasti mereka membuka apa dengan fasilitas tersebut. Namun seorang mahasiswa saya yang melakukan survey kecil-kecilan mengatakan umumnya mereka membuka facebook dan jejaring sosial yang lain. Mungkin ini perlu research lebih serius.

Seperti apa warung kopi Aceh di masa depan? Tuhan yang tahu. Namun satu hal yang pasti terus berkembang, ngopi bukan hanya sebagai sebuah budaya konsumsi amun juga gaya hidup. Saat ini wifi lagi marak-mraknya, maka warung kopi menyediakan wifi. Kalau ke depan ada teknologi publik lain yang lebih maju maka tidak heran juga warung kopi akan menyediakannya. Dalam waktu dekat akan ada perandingan piala dunia di Afrika Selatan. Pasti warung kopi di Aceh akan bersaing menyediakan layar lebar untuk memanjakan penontonnya.
Huuuhh…capek juga nulis. Ya sudah, ngopi dulu.
No comments:
Post a Comment