Wednesday, 3 March 2010

Tabungan DPR di Bank Budi Anjlok!

“Aku mulai menyimpan di rekeningmu–bukan simpanan uang, tapi kontak. Kukenalkan kau pada orang ini dan orang itu, aku mengatur perjanjian-perjanjian, selama tidak melanggar hukum. Kau tahu kau berutang budi padaku, tapi aku tak pernah minta apa pun darimu.”

Itulah Bank Budi yang diperkenalkan Paulo Coelho, Novelis Brazil yang mahsyur dengan Al-Chemist. Dalam novelnya The Zahir memperkenalkan istilah Bank Budi tersebut. Intinya adalah hubungan yang terbina antar manusia laiknya sebuah bank di mana kita bisa menabung dan menarik kembali uang yang kita simpan. Bedanya, dalam Bank Budi kita menyimpan “jasa budi”. Inilah yang menjadikan orang lain merasa “berhutang budi” pada kita dan akan membalasnya ketika ia punya kesempatan. Balasan-balasan atas budi tersebut menjadi sebuah jaring yang membangun komunikasi dan relasi baik diantara manusia.

Dalam dunia pendidikan dan Human Relation dikenal juga istilah Bank Emosi. Hampir sama dengan Bank Budi, bank Emosi adalah tabungan yang kita berikan kepada orang lain berupa kepercayaan dalam membina hubungan. Tabungan ini bisa ditarik dan ditambah kembali sesuai dengan yang kita inginkan seperti halnya dalam bank biasa. Bedanya, penambahan jumlah “tabungan” dalam Bank Emosi sangat tergantung dengan kepuasan si Bank. Anda bisa saja menabung jasa besar, namun itu tidak memberikan kepuasan pada orang tempat anda menabung, maka nilainya akan kecil. Sebaliknya anda bisa saja melakukan hal yang kecil, namun kalau itu membuat orang senang, nilai tabungan anda akan menjadi sangat besar. Beda lain, dan ini paling penting, kalau rekening di tabungan Bank Emosi ditarik, maka untuk mengembalikan kepada bentuk semula anda butuh waktu lebih lama dan “dana” lebih banyak dari apa yang anda tarik.

Baik. Usaha yang dilakukan Pansus Ceuntury telah menjadi sebuah tabungan Bank Budi anggota DPR kepada lebih 100 juta rakyat Indonesia. Dalam hati banyak orang telah tertanam kepercayaan dan keyakinan bahwa DPR benar-benar tlah memainkan perannya dengan baik sebagai wakil rakyat. Terlepas dari berbagai sikap mereka sendiri yang mencemarkan kelompoknya, apa yang dilakukan Pansus mendapat banyak dukungan dari masyarakat Indonesia. Lebih lagi apa yang dilakukan oleh anggoat dewan ini disiarkan langsung oleh televisi dan diberitakan besar-besar oleh media cetak. Jadinya, masyarakat sendiri seolah menjadi bagian dari pansus yang sedang menelaah apa yang dilakukan oleh petinggi negara dalam mengelola keuangan negara.

Bagi saya itu semua adalah tabungan berharga yang telah didepositokan oleh anggoat DPR pada rekening Bank Budi masyarakat Indoensia. Semua orang yang sepakat dengan DPR merasa senang dan puas dengan apa yang dilakukan wakil mereka. Otomatis jumlah tabungan mereka didalam bank Budi semakin membesar. Di mana-mana orang mulai bangga dengan wakilnya. Beberapa wakil yang tidak memihak pada arus utama untuk mengusut Century dianggap bukan wakil yang baik. Ini indikasi bahwa kepuasan masyarakat kepada wakilnya sangat baik. Dan ini indikasi tabungan wakil rakyat dalam rekening Bank Budi yang ada pada masyarakat juga semakin besar.

Sayangnya, kejadian Selasa 2 Maret 2010 kemarin menjadikan tabungan ini dikuras habis oleh anggota DPR sendiri. Menjadikan gedung terhormat sebagai warung kopi untuk berdebat tanpa akhir lalu saling “menyerang” merupakan ulah mereka yang menyebabkan kepercayaan kepada anggota dewan juga menurun. Tontonan sikap kekanak-kanakan dan depat kusir saling interupsi menjadikan DPS sebagai ajang di mana kekerasan dan ketidakdewasaan dipertontonkan. “Moral dan etikanya rendah, mereka kampungan” kata Jimly Ash-Shiddique. Sikap-sikap seperti ini menjadikan tabungan DPR dalam Bank Budi masyarakat Indonesia mulai terkuras habis. Dan suatu saat akan habis dan bahkan minus. Mereka butuh waktu lama dan usaha besar untuk kembali bisa membuka tabungan di hati rakyat Indonesia.

No comments:

Post a Comment