Saturday, 27 March 2010

Demi Cinta Kau Kubunuh Nak!

Ada sepasang suami-istri yang tinggal tidak jauh dari kampung kami. Suaminya seorang dokter spesialis penyakit dalam yang sudah sangat terkenal di Banda Aceh. Sementara istrinya seorang bidan yang bekerja di sebuah rumah sakit umum, juga di Banda Aceh. Saat ini mereka sudah berumur separuh baya dan tinggal berdua di sebuah rumah mewah di salah satu sudut kota.

Mereka menikha tahun 1983 karena saling mencintai. Adalah seorang anak yang menjadi dambaan hati pengikat kasih selalu mereka damba. Namun setahun, dua tahun, tiga tahu, dan lima tahun berlalu belum ada juga tanda-tanda. Tidak mungkin mereka tidak tahu “caranya” sebab selain itu adalah naluri manusia, juga keduanya paramedis yang belajar menekuni seluk beluk fisiologi manusia. Dari kabar angin yang pernah saya dengar, saat itu mereka sudah sangat mendambakan seorang buah hati penyejuk mata penenang jiwa. Segala cara mereka lakukan, berobat pada dokter, dukun, para normal, dalam dan luar negeri. Dan tentu saja, berdoa. Terkahir pada tahun 1992 mereka menunanaikan ibadah haji ke Makkah.

Alhamdulillah, beberapa bulan pulang dari sana terjadi keanehan pada si istri. Ikan tawar dibilang asin, sayur asin dibilang pahit, suka yang masam-masam, suka bakso, dan berbagai keanehan yang lain. Pasti mereka lebih dahulu tahu dengan tanda-tanda itu karena mereka memang ahlinya. Dan benar saja, sembilan bulan kemudian seorang anak laki-laki sehat, tampan, lahir ke dunia. Mereka membuat namanya Syukran Peunawa. Syukran berarti terima kasih, dan penawa berarti penawar rindu, penawar harap dan penantian orang tua.

Syukran tumbuh sehat karena kedua orang tuanya memang tenaga kesehatan. Beberapa pekerja didatangkan kerumah untukmengurus anak mereka. Seentara kedua orang tuanya, meskipun cinta dan sangat sayang pada anak yang memang mereka nantikan sejak lama tetap tidak mungkin menunggunya sepanjang hari. Tapi tidak masalah, karena orang yang mereka pilih untuk mengasuhnya dapat memenuhi kebutuhan si anak. Di akhir minggu mereka berekreasi ke berbagai tempat. Bahkan tidak jarang, ketika anaknya sudah mulai masuk sekolah, masa liburan diisi dengan jalan-jalan ke luar negeri.

Si anak tumbuh sangat manja. Bahkan hampir menamatkan pendidikannya di sekolah dasar ia masih belum bisa membuka dan memakai baju sendiri. Tapi tidak masalah, bapak dan ibunya bisa menggaji orang untuk memakaikan pakaian kepada anak mereka. Pada usia SMP sifat manjanya menjadi lebih-lebih lagi. Ia meminta bapaknya membelikan sebuah sepeda motor, dan itupun bukan masalah pada orang tuanya. Pada awal-awal masuk SMA bahkan ia minta orang tunya membelikan ia mobil. Lagi-lagi bagi orang tuanya tidak masalah, karena mobil juga bukan barang terlalu mahal bagi mereka. Si anak hidup sangat bergantung pada orang tuanya, tidak kreatif, tidak berfikir tentang masa depan, bahkan tidak peduli dengan resiko.

Saat ia duduk di kelas dua SMA, ia minta orang tuanya membelikan ia sebuah sepeda motor besar yang mirip-mirip pembalap di televisi. Semula orang tunya keberatan, sebab ia sudah ada sepeda motor, dan bahkan ada sebuah mobil, Untuk apa lagi sepeda motor? Namun mereka tidak kuat menahan tatkala si anak berulah, ia pulang larut malam, tidak mau makan, tidak mau ke sekolah, tidak mau mandi. Akhirnya hati mereka luluh, sebuah sepeda motor besar yang diimpikan datang ke rumah pada hari minggu.

Si anak senang bukan main. Ia berterima kasih pada kedua orang tuanya, mencium dan memeluknya. Segera mengenakan pakaian dan hendak pergi entah kemana. Katanya ia akan menjumpai teman-temannya. Biasa, remaja yang suka menunjukkan kepada temannya apa yang baru yang dimilikinya. Dan hari ini ia akan menunjukkan pada teman-temannya sebuah sepeda motor besar yang gagah dan model terbaru yang baru dibeli orang tuanya. Orang tunya melepas dengan senyuman.

Tapi untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Pagi minggu yang cerah itu adalah akhir pertemuan dari orang tua dengan satu-satunya anak mereka. Setelah sebuah SMS masuk ke nomor ibunya mengatakan ia tidak bisa pulang makan siang, sampai sore hari tidak ada kabar berita dari si anak. Setelah maghrib seorang rekan bapaknya yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit di mana ia bekerja menelponnya. Hanya satu kalimat pendek yang terucap dari mulut temannya: “Syukran ada di sini”. Bergegas, kedua orang tuanya menuju IGD dengan hati yang tidak tenang. Sepuluh meit kemudian, ketika mereka tiba, mereka mendapatkan anaknya, Syukran, telah terbujur kaku berlumuran darah. Dokter mengatakan, Syukran diambil di sebuah jalan sepi yang sering dipakai remaja untuk balapan liar di sore hari.

***

terkadang cinta yang berlebihan justru membunuh mereka yang kita cintai

No comments:

Post a Comment