Tuesday, 2 March 2010

Mengganti Metode Bukan Menyalahkan

Seorang teman faceebook saya menulis di statusnya bahwa ia ditolak oleh sejumlah dosen di sebuah universitas di mana ia diundang untuk memberikan Pidato Kebudayaan. Penolakan ini berkaitan dengan aktifitas dan pemikirannya yang menyebutkan diri sebagai muslim transformatif. Kata “transformatif” sendiri dianggap sebagai kata tengah antara muslim fundamentalis dengan muslim liberal. Transformatif adalah pilihan yang tepat bagi dia untuk menggambarkan adanya usaha kaum muslimin untuk bergerak dari pandangan-pandangan yang terlalu fundamental yang menjurus pada terorisme, atau pandangan liberal yang terlalu jauh meninggalkan dasar-dasar agama.

Dalam status tersebut ia menyayangkan adanya sekelompok orang yang masih takut dengan pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan mainstrem selama ini. Ada orang yang menganggap perbedaan dalam interpretasi agama adalah kehancuran atas agama itu sendiri. Oleh sebab itu mereka berusah membentengi diri bahkan cenderung tertutup atas ide baru. Temanku mengkritik orang yang demikian. Baginya itu adalah sikap yang ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan pemikiran modern. Seharusnya sebagai dosen di perguruan tinggi mereka lebih terbuka pada perbedaan, bukannya menutup diri dan mementengi pemikiran dari ide yang berbeda.

Dalam hal pentingnya menghargai perbedaan, saya sepakat dengannya. Setiap orang memiliki hak untuk mengekspresikan diri dan mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Kita memiliki saringan sendiri untuk menerima yang benar sebagai sebuah kebenaran dan yang salah sebagai suatu kesalahan. Pasti setiap orang memiliki saringan yang berbeda dan kita tidak bisa memaksakan semua orang memakai saringan yang sama. Latar belakang pendidikan, interaksi dengan sumber ilmu pengetahuan, pertemahan dan organisasi, ekonomi dan politik bisa menjadi pengaruh yang membuat lahirnya perbedaan tersebut.

Namun saya tidak sepakat dengannya pada ungkapan-ungkapan pelabelan dan pelecehan. Bagi saya saya semua orang memiliki hak untuk mengekspresikan dirinya. Penolakan yang dilakukan sebagai dosen, kalau memang mereka memiliki hak menolak, itu adalah sebuah ekspresi kebebasannya dalam memilih. Sangat tidak bagus kalau kita menjadikan itu sebagai dasar untuk menuduhnya ketinggalan zaman dan tidak terbuka pada pemikiran baru. Itu menunjukkan diri kita memiliki egoisme yang ingin memaksanakan pemikiran kita didengar dan menjadi “ajaran” yang benar pada orang lain.

Saya sarankan padanya untuk mengganti metode. Mungkin pemahaman yang ia berikan adalah benar adanya. Bisa jadi ajaran Islam sebagaimana yang ia tafsirkan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Namun apakah metode yang ia pakai sudah sejalan dengan prinsip-prinsip humanisme? Apakah ia menghormati pemikiran dan kebebasan orang lain? Apakah ia punya sensitifitas pada perasaan orang lain di mana mereka bisa jadi merasa tenang dengan agama yang diyakininya? Inilah yang saya anggap sang teman mengabaikannya.

Yang sering terjadi adalah, kita membawa ajaran perdamaian, namun menyampaikannya tidak dengan cara damai. Kita menjelaskan tentang kebebasan berpendapat namun kita sendiri adalah orang yang memaksakan kebenaran pendapat kita sendiri dan menganggap salah pendapat orang lain. Termasuk pendapat yang menganggap “kebebasan berpendapat adalah benar.” Kita mengklaim diri sebagai orang yang liberal, namun kita mencap orang lain fundamental dan tidak menghormatinya.

Kita harus bercermin pada apa yang kita katakan, kita perjuangkan, kita tulis, yang kita lukis. Apakah kita menjadi referensi terbaik dari itu semua?

Wallahu’a’lam.


No comments:

Post a Comment