Friday, 19 March 2010

Sufi dan Seks

Kenapa banyak kiai poligami? Saya tidak tahu dengan pasti sampai seorang teman menceritakan sebuah kisah.

Katanya, seorang kiai adalah orang yang sangat rajin beribadah. Ia menghabiskan hidupnya dalam jalan Tuhan. Sementara menikah, dan melakukan hubungan seksual adalah bagian dari ibadah. Sang kiai pasti dengan senang hati akan melakukannya, selalu! Apalagi saat melakukan hubungan seksual yang bernilai ibadah tersebut ada momentum di mana ia mungkin bisa sangat dekat kepada Tuhan. Setidaknya, ia akan menemukan beberapa biji tasbih. Ia juga akan menemukan puncak-puncak pendakian menuju Tuhan. Apalagi di sana juga ia akan mendapatkan lorong-lorong gelap yang sunyi, di mana ia bisa mengulang-ulang zikirnya dan melafalnya dengan cepat. Perjalan itu akan berakhir pada ekstase, saat ia melepaskan segala-galanya kecuali dia sendiri.

Cerita ini dianalogikan sebagai sebuah pendakian spiritual oleh sang teman yang sedang berusaha menjadi sufi. Katanya, seorang sufi yang bermujahadah menuju Tuhan dan seorang laki-laki yang melakukan hubungan seksual hampir sama. Sang lelaki akan mendapatkan kepuasan setelah ia berlama-lama bermain di taman birahi. Saat organsme ia akan terputus dengan dunia di sekitarnya. “Apakah orang organsme sadar dengan apa yang ada di sekelilingnya? pasti tidak” katanya. Demikian halnya dengan seorang yang ekstase di jalan Tuhan. Ia akan penuhi jiwanya dengan Tuhan. Ia akan isi batinnya dengan Tuhan. Apa yang dilihatnya adalah Tuhan. Apa yang dirasakannya adalah kehadiran Tuhan. Pada saat demikian ia akan terlepas dari segala sesuatu yang ada di sekitarnya sebab ia telah menyatu dengan Tuhan. Mmmm… menaik… menarik, ujar saya.

Saya jadi teringat dengan beberapa buku Paulo Coelho. Dalam beberapa novelnya menggambarkan bagaimana cinta dan hubungan seksual yang dilakukan manusia bukan hanya sebagai cara memuaskan nafsu birahi, namun juga jalan menuju pada Tuhan. Seingat saya ada satu bagian dalam Davinci Code, novel bestseller karya Dan Brown yang juga menceritakan hal yang sama. Pada satu waktu Sophie melihat kakeknya, Suniere melakukan hubungan seksual yang kemudian diidentifikasi sebagai sebuah upacara spiritual. Penggambaran ini adalah dua diantara beberapa penjelasan lain yang menghubungkan antara seks dengan pendakian spiritual yang dilakukan manusia.

Tentu sangat berbeda antara apa yang diceritakan Paulo Coelho dan Dan Brown dengan cerita teman saya di atas. Ia hanya menjadikan hubungan seksual sebagai media pemahaman tentang bagaimana seorang sufi menemukan Tuhan. Sementara dalam novel-novel tersebut justru menjadikan hubungan seksual sebagai media menemukan Tuhan. Meskipun itu bukan hal yang tidak mungkin, namun itu bukan konteks yang ingin saya kemukakan di sini.

Jadi, kembali kepada cerita teman saya, salah satu cara mengerti jalan sufisme, pahamilah jalan hubungan seksual. Dan untuk mengerti bagaimana hubungan seksual maka lakukanlah! bagi yang sudah menikah tentunya.

No comments:

Post a Comment