Wednesday, 14 April 2010

Yang di Gedung dan yang di Lumpur

Dulu kami adalah satu, menghaiskan waktu bersama dalam riang kecil. Tertawa bersama pada hal-hal yang sama sekali tidak lucu. Main bola dengan plastik bekas yang diikat jadi satu. Main layang-layang sampai malam, sampai azan menggema. Pergi mengaji dengan sua yang selalu kami rebutkan. Tidur dan mengganggu teman perempuan yang tidur di sana. Dan esok paginya dibangunkan teungku dengan sebuah cambukan rotan kecil.

Kami juga sama-sama, ketika dua jam mendayung sepeda di jalan berbatu melintasi kampung-kampung petani. Katanya sekolah, tapi entahlah, apa benar begitu. Ada kala sepedanya bocor atau rusak, ia menumpang, berdiri di belakang sepedaku. Adakalanya sepedaku bocor rusak, aku menumpang, bediri di belakang sepedanya, dua jam melintasi jalan berbatu. Empat tahun!

Kami sama-sama putus sekolah di tengah jalan, sebelum kami mendapatkan ijazah SMA. Sebab sepertinya tidak ada yang dapat diharapkan dari sekolah. Yang ada hanyalah uang, uang, uang. Guru mendiktekan kata-kata dalam buku yang padahal bisa dibaca sendiri. Guru mengajarkan hal-hal yang kami sudah ketahui. Kepala sekolah mengharuskan mengumpulkan sejumlah uang katanya untuk ini, untuk itu. Tapi katanya begitulah pendidikan, pendidikan itu mahal.

Kami kembali ke kampung, menghabiskan waktu muda kami di sana. Pergi ke sawah berlumpur, mendaki gunung mencari rotan, pegi ke sungai memancing ikan, menanam kacang di kebun, mencuri kelapa muda tengah malam, mencuri ayam tetangga bulan ramadahan. Kalau sedang baik persis seperti malaikat, kalau sedang jahat mungkin mirip seperti iblis. Sampai akhirnya kami berpisah karena jalan kami berbeda.

Aku tetap memanggul cangkul dan parang, mencari sesuatu nasi di ladang. Ia memilih AK. Katanya bangsa ini telah berkhianat padanya, mengambil alam kita untuk perut buncitnya yang tak pernah penuh. Padahal indatu wariskan untuk kita anak cucunya. Kalau saja kita merdeka, orang Jawa jadi pemanjat kelapa. Kalau saja kita merdeka, duduk saja kita bisa kaya. Kalau kita merdeka tanpa kerja kita bahagia. Kita jadi bos, jadi raja, seperti dulu Iskandar Mua. Maka ia berjuang untuk merdeka, dengan senjata dan peperangan. Aku menjadi tameng saat ia terdesak, menjadi jaminan saat ia ditangkap, menjadi korban kalau ia melarikan diri dari kejaran musuhnya, dan ia selalu melarikan diri. Aku harus bersedia, karena ia, katanya, berjuang untukku.

Entah setan dari mana merasuk kepalanya, ia mengakhiri jalannya dengan salaman di meja runding. Itu bagus pikirku. Sebab tidak ada lagi darah tumpah, tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi penyiksanaan, penangkapan, pelecehan, pemerkosaan, pemerasan, teror dan pembunuhan. Kami bisa hidup dalam damai. Dan, dengan salaman itu ia mendapatkan, sebuah kesempatan duduk menjadi anggota dewan, katanya sebagai penyambung aspirasi rakyat. Rakyat yang mana? Dia sendiri! karena dia juga rakyat.

Perjuangannya kini sudah berhasil. Di rumah besar yang seperti istana diantara gubuk reot kami di tengah kampung, banyak pekerja yang datang dari Jawa. Mereka mengurus kebun, mengurus pabrik, membangun pertokoan miliknya yang tersebar di mana-mana. Sekarang di sudah mendapatkan citanya, duduk saja dia menjadi kaya, menumpukkan harta di mana-mana, mengganti mobil suka-suka. Sekarang ia telah mendapatkan asanya. Kalau waktu makan tiba ia bertanya: makan di mana? Sementara kami masih berkata, makan apa?

Aku masih di sini, dalam lumpur basah bersama para petani kampung di mana dulu kami menghabiskan waktu. Kami mencangkul sawah menanam padi mencari rizki. Entahkah padi dapat kami panen, atau diserang ulat dan wereng. Kemarin anakku sakit dan mati. Dukun di kampung menyerah kalah mengobati. Bawa ke dokter? Aku trauma melihat kuitansi. Kemarin rumahku roboh karena gempa, dan kini aku tinggal di tenda. Bantuan? aku tidak bisa menyusun proposal.

Sebuah kenangan terbang pada sahabatku di kantor sana. Engkau hebat sahabat, telah menjadi anggota dewan dengan pilihan hidupmu. Engkau telah berjuang untuk aspirasi rakyat. Dan rakyat itu adalah dirimu sendiri!


No comments:

Post a Comment