Thursday, 8 April 2010

Bangkai Kucing di Tengah Jalan

Saat melewati sebuah jalan raya saya melihat bangkai seekor anak kucing yang nampaknya baru saja digilas kenderaan. Darah masih merah dan basah di sekitarnya. Beberapa bagian organ perutnya sudah keluar, terburai di sekitar bangai itu. Saya tidak tahu dengan pasti apakah mobil ataukah motor yang melakukannya. Apakah ia sengaja ataukah tidak menabraknya. Faktanya kucing itu sudah mati dan, saat saya lewat ia masih ada di sana, terbaring diantara laju kenderaan.

Laki-laki, perempuan, mobil besar, mobil kecil, motor, becak, pejalan kaki hanya lewat di sisi kanan dan kiri kucing malang itu. Sebagian menghidnari menggilasnya dengan ban kenderaannya yang keras. Namun tidak banyak yang sanggup melakukan itu karena mereka tiba-tiba saja melihat bangai kucing ada di sana. tanpa ayal mereka kembali melibas si kucing malang. Saya tidak tahu pasti ebrapa kali sudah, sejak ia digilas pertama sekali, kenderaan lain melakukan hal yang sama. Saya terrus berjalan meninggalkan bangkai itu.

Sepanjang jalan saya berfikir, kenapa tidak berhenti saja walau sejenak untuk mengambil bangai kucing kecil itu. Berhenti, ambil, buang ke tong sampah. Mungkin itu hanya butuh beberapa detik. Paling lama dua menit. Apalah artinya dua menit dibandingkan waktu minum kopi dan tidur berjam-jam yang jelas manfaatnya kecil. Kalau saya turun dari kenderaan dan “menyelamatkan” bangkai kucing itu, saya tidak akan kehilangan apa-apa. Tidak ada waktu yang saya buang, tidak ada deal ibsnis yang tertinggal, tidak ada mahasiswa yang saya abaikan, tidak ada pekerjaan kantor yang saya tinggalkan. Jadi kenapa saya tidak lakukan?

Mungkin kini, saya masih tetap melanjutkan perjalanan, bangkai kucing itu sudah habis digilas. Bangkai kucing kecil berbulu merah yang saya tidak pernah liaht ketika ia hidup, pasti sudah menghilang dari jalanan. Apalah artinya bangkai kucing, dibandingkan dengan ban besar truk pembawa tanah, batu, aspal, semen di jalan raya. Sekali gilas mungkin kucing itu hilang menjadi debu. Jadi kenapa saya harus susah? kenapa saya harus sibuk? kenapa saya harus menjadikannya beban pikiran? ya sudah, lupakan saja. Tapi saya tidak enak hati, apa yang harus saya jawab kalau natidi akhirat saya ditanya Tuhan, apa yang kalu lakukan pada makhluk-Ku yang terzalimi?

Bergegas, saya kembali, belok arah. Jalan besar di kota yang dibelah dua dan menyisakan beberapa jalur untuk memotong menyebabkan saya harus tetap berjalan ke depan sampai ada tampat berbelok. Saya pacu kenderaan leih cepat dari sebelumnya. Saya ingat-ingat lokasi di mana bangkai kucing itu tergeletak tanpa daya. Saya lewati beberapa motor pasangan muda yang asik memadu cinta di atas motor di jalan raya. Saya lewati sebuah mobil sedan mengkilat yang nampaknya sedang hati-hati takut kenderaaanya tergores aspal. Saya lewati sebuah angkutan kota yang berhenti mendadak. Saya lewati semua, kecuali tukang kebut. Dia melewati saya.

Sesampai saya di lokasi di mana bangkai anak kucing malang tergeletak, saya harus memarkirkan kenderaan lalu menyeberang jalan dengan kaki. Di tengah trotoar saya berhenti, menunggu kenderaan yang tidak melambatkan lajunya. Dari sana saya sedikit bersyukur, bangkai kucing itu masih ada. Meskipun ia sudah rata dengan jalan. Saya cari plastik bekas yang banyak bertebaran di tengah trotoar. Sebuah palstik hitam tersangkut di pohon kere yang ada di sana. Syukurlah.

Dari totoar, saya lihat ke seberang. Seorang laki-laki yang nampaknya jarang mandi memanggul sebuah goni putih di belakangnya. Dan di dalamnya ada beberapa isi yang saya tidak tahu. Tangan kirinya memegang salah satu pinggir goni yang dijulurkan ke punggung melalui pundaknya. Tangan kanannya memegang sebuah besi yang ujungnya bengkok dan runcing. Sesekali ia mengais tumpukan sampah di sisi jalan. Beberapa barang yang ia anggap bermanfaat dimasukkan ke dalam goni.

Persis ketika saya hendak menyeberang karena jalan sudah aman, ia berada di dekat bangkai kucing. Serta merta matanya tertuju ke sana. Tiba-tiba ia bergumam: “Duhhh kucing cantik yang malang….” lalu dengan tangannya, tanpa perlu melapisinya dengan palstik, ia memungut bangkai kucing itu yang ternyata masih bisa dipungut dengan satu tangan. Ia mengangkatnya. Melintasi saya yang berdiri tercengang hendak melakukan hal yang sama. Lalu membuang bangkai itu ke sebuah kontainer yang tidak jauh dari sana. “Istirahatlah kau dengan tenag…” katanya.

Kertas plastik jatuh dari tangan saya. Saya terlambat beberapa detik saja dibandingkan sang pemulung. Saya perlu beberapa menit untuk mengambil keputusan menolong anak kucing yang malang, atau tidak. Sementara ia langsung melakukan begitu melihat anak kucing malang itu ada di depannya.Saya perlu banyak alasan untuk membantu. Sementara ia melakukannya tanpa beban. Saya perlu sejumlah pertimbangan untuk berbuat baik. Sementara ia malukakannya tanpa pertimbangan apa-apa.

6 comments:

  1. salut buat bapak. dan saya pun pernah punya cerita hampir sama. Saya terlalu banyak berpikir saat itu,takut tangan kotor lah, malu diliatin orang karna mungut bangkai dan akhirnya sayapun menyesalinya dan menangis

    ReplyDelete
  2. sungguh menyentuh, tapi tak lantas berhenti berbuat baik yg lainnya sekecil apapun kan ?

    ReplyDelete
  3. Berbuat baik aja pake mikir lamaaa banget.
    Kejafian kita sama sy lamgsung minggirin mobil. Turun nyrbrang jln ambil tu kucing lucu yg dah mati pinggirin biar gk dilindas lg.

    ReplyDelete
  4. Berbuat baik aja pake mikir lamaaa banget.
    Kejafian kita sama sy lamgsung minggirin mobil. Turun nyrbrang jln ambil tu kucing lucu yg dah mati pinggirin biar gk dilindas lg.

    ReplyDelete