Tuesday, 6 April 2010

Ada Tuhan dalam Bola? (1)

Satu dari teman saya di kos-kosan tahun 2002 adalah alumni pesantren yang sangat taat dan alim. Ia menjalani harinya dengan bedakwah, memuji Allah; sepanjang jalan, dalam shalat, dalam makan, dalam semua aktiitas yang ia lakukan. Ia juga sangat ramah dan dermawan. Apalagi banyak nasehatnya yang sangat “berisi” dan menjadi teladan yang baik untuk menjalani kehidupan. Karenanya tanpa ragu kami mengangkatnya menjadi imam untuk mushalla kecil di kos-kosan kami. Dia yang menjadi imam dan memberikan siraman ruhani setiap shalat maghrib dan -kadang-kdang- subuh. Apa yang ia sampaikan sungguh, menentramkan hati.

Namun ada satu hal yang paling ia benci; kebiasaan kami menonton pertandingan bola kaki. Sebab lebih dari setengah teman-teman yang ada di kos-kosan adalah penggila bola. Hampir setiap akhir minggu, saat liga-liga di Eropa dilaksanakan, kami beramai-ramai menunggu dengan sabar di depan televisi. Karena di kos-kosan tidak ada TV, maka kami menontonnya di warung kopi yang agak jauh dari kos-kosan. Kami datang ke sana beberapa saat sebelum pertandingan di mulai. Kalau jam 02.00 dini hari, seperti pertandingan La Liga, maka jam 01.00 kami mulai bergerak. Sebab kalau terlambat bisa-bisa tidak kebagian kursi.

Nah, perilaku inilah yang paling dibencinya. Katanya, nonton bola membuang-buang waktu. Tidak ada manfaat apapun yang bisa dipetik di dalamnya selain capek, mengantuk pagi hari, habis uang bayar air dan makan mie. Sementara yang dilihat hanya gambar manusia seukuran telunjuk yang bergerak dalam layar televisi. Bersorak saat tercipta gol, berdesah saat gagal gol, berkeluh kesah saat tim kesayangan kalah, bergembira saat tim kesayangannya menang. “Itu konyol!” katanya dalam sebuah ceramah setelah maghrib. “Sama sekali tidak ada manfaatnya. Jak mita boh-boh sidom na cit!” katanya mengumpamakan dalam bahas Aceh.

Dasar anak kos, seusia pula dengan sang ustaz, semua tertunduk dan saling memandang saat ia cerita demikian. Namun pada malam-malam saat pertandingan akan dilaksanakan, kami kembali mendatangi warung kopi buat nonoton bola. Bahkan tidak segan kami mengajaknya juga, meskipun kami yakin ia akan menolak dan memberikan sedikit “pencerahan” agar kami segera meninggalkan kebiasaan “buruk” itu. Hal ini terjadi berbulan-bulan, hingga dilaksanakan piala dunia tahun 2002.

Tahun 2002 itu saat itu saya sudah pindah kos ke tempat lain karena melanjutkan pendidikan. Saya tidak pernah mendengar ceramahnya lagi. Apalagi “bahasannya” mengenani bola. Meskipun masih di Banda Aceh, kami sudah jarang bertemu. Di lokasi baru di mana saya tinggal, saya merajut pengalaman lain. Dan di kosan lama, dimana teman kami sang ustaz tinggal, ia merajut pengalaman lainnya. Tidak semua pengalamannya saya ketahui.

Suatu hari, masih di tahun 2002 akhir, saya berjumpa dengannya. Ia bicara tentang Inter MIlan dan Bacelona, serta menomentari perhelatan akbar para penggila bola di seluruh dunia yang baru beberapa bulan berlalu. Semula saya menduga ia mau menghujat teman-teman yang menyukai klub bola tersebut. Namun ketika mendengar lebih jauh, saya mendapatkannya mendeskripsikan dengan baik kekuatan dan kelemahan tim-tim bola tersebut. Katanya ada peluang-peluang yang diabaikan oleh pelatih, ada hal-hal yang tidak dilakukan oleh pemain. Bahkan ia menawarkan beberapa tips, kepada saya (meskipun dia tahu kalau saya bukan bagian dari manajemen Barcelona dan Inter Milan), sehingga kedua tim dapat tampil lebih bagus.

Karena heran, saya bertanya, “kenapa Teungku (ustaz) sudah suka bola?”

“Karena dalam bola ada Tuhan,” katanya.

Ia menjelaskan panjang lebar.

bersambung…..

***

Janganlah membenci sesuatu dengan berlebihan, mungkin saja engkau belum mengenalnya. Tapi ketika engkau tahu ada pelajaran di sana, engkau menjadi berubah. Alangkah malunya mereka yang dulu mengejek dan menjelekkan sesuatu tetapi kemudian berlaih memuji dan menyanjungnya.

2 comments: