Monday, 19 April 2010

Cara Anak Berbagi Jajan

Kampung asli saya ada di pedalaman Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Jaraknya 60 km dari kota kabupaten, Tapak Tuan atau 480 km dari provinsi, Banda Aceh. Tidak terlalu jauh memang kalau dengan pesawat terbang. Sayangnya, jangankan pesawat terbang, jalan dari aspal saja belum lancar. Sampai sekarang, setelah 65 tahun Indonesia -katanya- merdeka. Masa sih? Ya sudah kalau tidak percaya, jalan saja sendiri, pasti menyenangkan, naik rakit, jalan becek, berdebu, dihadang jurang, dll. Pokoknya, seru! Bisa bayangkan bagaimana nasib kampung kami tahun 1985 atau 25 tahun yang lalu?

saat itulah saya sekolah Madrasah Ibtidaiyah, setingkat SD. Sekolah kami persis seperti bangunan sekolah si Lintang dan temannya dalam Laskar Pelangi. Bahkan masih lebih baik sekolah mereka karena hanya ditopang oleh satu kayu dan satu sisi saja. Sementara sekolah saya harus ditopang disetiap sisi. Dindingnya terbuat dari bleut, anjaman daun kelapa yang disusun rapi. Atapnya daun rumbia. Lantainya tanah yang telah mengeras dan memutih. Kata pak guru saat itu, lantai yang mengeras itu lebih kuat dari semen. Dan itu membuat kami sangat bangga.

Tapi ada yang istimewa dengan pakaian kami. Meskipun di pedesaan yang sangat jauh dari kota, lebih separuh laki-laki mengenakan kacamata. sayangnya kacamatanya cap alam dan diletakkan di -maaf- pantat. Kacamata yang terbuat dari celana pendek yang kumal karena terus dipakai. Akibatnya di belakang jadi aus dan menimbulkan robek di dua sisi yang berdampingan, mirip kacamata. Jangan tanya soal alas kaki. Sandal jepit adalah alas kaki termewah yang pernah kami kenal. Kalau lihat teman-teman di kecamatan (kalau sesekali sempat ke kecamatan) yang pakai sepatu, justru nampak aneh. Bagaimana mungkin orang bisa berjalan kalau kakinya dibalut semua? Yah… tapi begitulah cara pikir kami dulu.

Kami tidak memiliki kantin sekolah. Sebab murid sekolah juga sangat sedikit. Ada tiga orang pedagang keliling yang mengunjungi kami setiap hari. Masing-masing membawa mainan plastik, mie goreng dalam bungkusan kecil, dan es seukuran jempol kaki yang panjangnya sejengkal. Ketiganya berasal dari kampung lain di kecamatan. Mereka datang ke sekolah kami tidak tentu waktunya. Namun karenan waktu masuk kelas kami yang juga tidak jelas, kami selalu berjumpa dengannya setiap hari.

Nah, saat jajan adalah saat terindah pada masa kecil. Tidak semua kami memiliki uang ajan yang cukup untuk membeli es dan mie goreng. Beberapa anak tidak diberikan jajan oleh orang tua mereka. Bagaimana mau kasih jajan anak, untuk kebutuhan lain saja sulit? Namun beberapa anak berinisiatif mencari uang sendiri, menjual kelapa, membantu di sawah/kebun, membantu membawa padi ke pabrik, mencari ikan, dan lainnya. Uang itulah yang menjadi uang jajan. Jangan berharap orang tua akan memberikan. Itu hil yang mustahal, atau hal yang mustahil terjadi.

Namun meskipun tidak ada uang, bukan berarti tidak bisa makan es atau makan mie goreng. Inilah bukti kasih sayang dan pertemanan diantara anak-anak. semua orang datang dan mengerumuni penjual jajanan. Hanya beberapa orang yang membeli. Namun es yang dibelinya tidak pernah dimakan sendiri, tapi berbagi dengan teman yang lain. Sebuah es yang pajang sejengkal bisa dinikmati oleh tiga hingga lima orang. Sebungkus kecil mie goreng bisa dimakan oleh dua sampai empat orang. Semuanya kebagian merasakan es dan mie goreng.

Yang paling seru adalah cara berbaginya. Sebuah es yang dibungkus plastik di buka dengan mulut di bagain atasnya. Lalu es dikeluarkan sedikit, 2-3 cm lalu digigit untuk dipatahkan. Es yang sudah patah di dalam mulut dikeluarkan kembali ke telapak tangan dan diberikan kepada teman. Kalau ada lima orang, maka lima kali pula es itu digigit dan dipatahkan kemudian dibagikan kepada teman. Saat es itu diterima, warnanya sudah sedikit berubah. Bagaimana tidak? es yang mulai mencait tersebut telah dipegang tanpa alas oleh tangan yang sejak pagi bermain tanah dan debu. Jadinya, apapun warna es, akan berubah menjadi hitam kecoklatan. Dan itu sangat nikmat. Anda yang tidak pernah coba pasti tidak sanggup membayangkan kenikmatannya. :-)

Demikian halnya dengan mie goreng berbungkus kecil. Satu bungkusan dibawa ke kelas atau ketera sekolah yang sempit. Di sana mie berbungkus daun pisang itu dibuka dan digelas di lantai tanah. Beberapa orang segera mengerubuninya. Tangan-tangan kecil yang belum dicuci dengan bersih lalu terjulur mengambil sejumput kecil dan memakannya. Terkadang belum sampi ke mulut sebuah tangan lain menyambar dan membawa ke mulutnya. Itu adalah sebuah prestasi laur biasa. Bagaimana tidak? Sejumput mie yang ada di tangan orang bisa disambar dan dimakan! Pemiliknya marah? Not at all! malah menjadi bahan tertawaan besama.

Itulah pengalaman masa kecil, 25 tahun yang lalu. Sekarang semua sudah berubah. Anak-anak, di mana saja, kapan saja, selulu menciptakan sejarahnya sendiri. Di manapun dan bagaimanapun, masa kecil adalah sebuah kenangan. Dan dari sana kita belajar arti kehidupan.

No comments:

Post a Comment