Tuesday, 27 April 2010

Kenapa Sampah Harus Dipisahkan?

Saya membawa mahasiswa ke tempat pembungan akhir sampah-sampah di Banda Aceh untuk sebuah kunjungan lapangan matakuliah metodologi penelitian. Di sana saya meminta mereka memperhatikan apa saja yang mereka lihat. Dan kalau memungkinkan saya juga meminta mereka berdialog dengan orang-orang yang ada di sana, selama tidak mengganggu pekerjaan mereka. Dalam kunjungan awal saya ke lokasi setidaknya lebih dari lima pihak yang ada di sana, pemulung, sopir truk, sopir buldozer, mandor, penjaga lokasi dan penduduk yang tinggal di dekat sana.

Kami berkunjung pada suatu hari minggu dengan menggunakan sepeda motor. Sesampai di lokasi mahasiswa saya bebaskan untuk berekspresi, melakukan pendekatan dengan orang-orang di sana dan membina komunikasi. Beberapa mahasiswa ada yang takut-takut masuk ke dalam tumpukan sampah di mana pemulung berada. Beberapa diantaranya ada yang masuk namun dengan mengangkat tinggi-tinggi celana atau rok. Ada pula yang berani apa adanya, tanpa ragu dan enggan. Begitu memang manusia, padahal sampah itu berasal dari rumahnya juga.

Di dalam kelas keesokan harinya, mahasiswa melaporkan apa yang mereka dapatkan di lapangan pada hari kunjungan itu. Banyak hal menarik yang mereke temukan. Antara lain, ternyata diantara pemulung itu ada yang sarjana. Ia tidak mendapatkan pekerjaan lain, sementara ia harus menghidupi keluarganya, hingga ia memilih menjadi pemulung. Ada juga pemulung itu mantan tenaga kerja di luar negeri dan pernah punya gaji yang sangat banyak. Namun karena boros dan suka berjudi ia jatuh bangkrut. Ia kemudian menjadi pemulung untuk menghidupi ibunya yang sudah tua. Yang lain adalah cerita mengenai anak-anak yang tidak sekolah, ibu-ibu yang hidup bersama sampah, dan lain sebagainya.

Ada satu hal yang menarik dari apa yang mereka kerjaan di atas gunungan sampah yang setiap jam semakin meninggi, yaitu mendapatkan hal-hal yang layak jual dari apa yang sudah dibuang oleh masyarakat. Bagi kita yang mungkin tidak berada di sana, tidak pernah ke sana, tidak berfikir ada hal yang berharga dari apa yang kita buang. Mungkin sebuah botol air mineral, bisa saja kaleng minuman soda, beberapa pecah belah di dapur yang tidak layak pakai, bahan bangunan yang tidak berguna, dan masih banyak lagi. Bagi mereka banyak benda yang tidak terpakai itu justru memberikan kehidupan.

Sepanjang hari mereka mengais benda-benda “berharga” itu diantara tumpukan sampah. Terkadang mereka mendapatkannya diantara sampah dapur yang berbau basi. Atau diantara duri-duri tanaman yang dipotong pemilikinya. Tidak sedikit pula barang berharga itu diperoleh dalam bungkusan berbagai macam sampah yang disatukan dalam sebuah plastik besar. Plastik itu dihancurkan, isinya diuraikan, dan di sana mereka mengais-ngais mencari apa yang dapat dimanfaatkan.

Mungkin semua kita sepakat, seharusnya tidak ada kehidupan manusia di sana, tidak ada orang yang menggantungkan harapan pada sampah-sampah yang berbau dan dipenuhi lalat. Itu jelas sebuah pekerjaan yang tidak layak, meskipun halal. Seharusnya manusia bekerja pada tempat lebih bersih dan dengan cara yang bersih pula. Sebab di sana, bukan hanya si ibu yang akan sakit, namun ia juga akan menularkan penyakit pada anak kecilnya. Di sana bukan hanya seorang laki-laki yang akan menderita ashma atau batuk akibat kuman-kuman yang bertebaran, namun juga keluarganya di rumah yang mencuci pakaiannya, atau yang bergaul dengannya saat ia belum mebersihkan diri. Namun itu tetap terjadi, dan masih juga terjadi hingga kini.

Akan tetapi tidak semua kita bisa membantu mengeluarkan mereka dari pekerjaan tersebut. Sebab itu masalah besar. Tidak ada satu tangan manusia yang mampu melakukannya. Butuh sebuah kerja besar, kerja yang melibatkan semua pihak, semua lembaga, semua kekuasaan yang ada. Sebab itu adalah masalah manusia sepanjang hidupnya. Bukan hanya di Indonesia, di negara maju sekalipun fenomena seperti ini tetap ada. Pengemis, pemulung, gelandangan, adalah fenomena biasa di berbagai kota besar dunia.

Namun bukan juga berarti kita tidak bisa membantunya. Kita bisa! Dan itu mudah. Sesuatu yang kecil kita lakukan bisa mengubah ritme kerja mereka. Sesuatu yang ringan di tangan kita akan memudahkan seharian kerja mereka. Beberapa detik yang kita lakukan akan memotong beberapa jam kerja mereka. Apa yang harus kita lakukan? Pisahkan sampah basah-sampah kering. Pisahkan sampah plastik dengan sampah yang dapat diurai oleh tanah. Bukankah itu sesuatu yang mudah? Hanya butuh waktu sepersekian detik untuk memutuskan di mana kita akan membuang sampah. Namun yakinlah, itu akan membantu banyak saudara kita yang bergelut dengan tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.

Bagi kita hanya pilihan, tapi mereka itu adalah kehidupan.



No comments:

Post a Comment