Wednesday, 21 April 2010

Kalau Pengemis jadi Sales

Saat sedang duduk santai di sebuah warung kopi seorang laki-laki muda dengan pakaian lusuh mendekat. Ia mengenakan sebuah kopiah yang juga lusuh. Dari sedikit rambutnya yang nampak jelas ia tidak pernah merapikannya. Kakinya yang dilapisi sandal jepit tua dibiarkan bedebu dan tumbuh beberapa kudis kecil. sekilas ia berbedan tegap dan sehat. Di tangannya ada selembar kertas yang sudah dipres. Kertas yang nampak lusuh dan berlipat tidak rapi. Ia mengandeng sebuah tas samping yang berisi sesuatu. Saya tidak tahu isinya apa.

Asssalamu’alaikum, katanya tatkala mendekat pada kami. “Bie seudekah bacut keu aneuk yatim” (berikan sedikit sedekah untuk anak yatim) katanya. Ia mengungkapkan itu sambil menyodorkan kertas lusuh di tangannya ke hadapan kami. Matanya menatap jelas ke mata kami. Wajahnya dipasang memelas, mengharap iba dan perhatian. Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan dalam lubuk hatinya. Tidak pula ada yang bisa memastikan apakah penampilannya menunjukkan wujud asli dirinya atau hanya kamuflasse saja. Yang pasti saat itu ia berdiri di depan kami mengharapkan sedikit sedekah, yang katanya untuk anak yatim. Diakah anak yatim itu? wallahu’a'lam.

Oke, sementara kita tinggalkan cerita ini.

Tahun 1997 saya masih semester satu kuliah di sebuah perguruan tinggi di Aceh. Pada masa liburan semester saya mendaftar bekerja di sebuah perusahaan distributor perlengkapan rumah tangga dengan sistem penjualan door to door. Saya sebenarnya mendaftar sebagai office boy agar punya tempat tinggal gratis sambil kuliah. Namun ketika wawancara, menejernya mengatakan semua orang yang akan bekerja di sini harus ditraining dulu. Training lapangan. Semula saya tidak tahu training lapangan seperti apa, setelah saya ikuti ternyata saya diminta jadi sales, menjual produk mereka dari pintu ke pintu, sepanjang hari. Karena dianggap sebagai training, maka saya ikut saja.

Pada hari mulai kerja, saya dan beberapa orang lain yang diterima bersamaan dibriefing di sebuah ruangan dalam kantor. Kami diajarkan cara bersalaman, cara berbicara, cara menawarkan produk, cara berjabat tangan, menatap mata calon pembeli, dan berbagai hal lain yang bersifat teknis dan filosofis. Kemudian kami mengikuti sales senior dalam beroperasi di lapangan untuk melakukan observasi langsung tentang implementasi metode tersebut. Hal ini berlangsung tiga hari, baru kemudian kami dipercayakan untuk membawa produk sendiri dan menjual sendiri.

Ternyata menjadi sales bukan hal yang mudah. Meskipun di kantor rasanya saya sudah percaya diri, bisa tersenyum dengan lugas, bersalaman dengan erat sambil menatap mata calon pembeli, berbicara dengan baik dan lancar, namun di lapangan sungguh berbeda. Ada rasa malu, rasa takut, rasa was-was dan segala rasa yang lain saat berhadapn dengan segala jenis orang. Sebab di lapangan kita tidak hanya berjumpa dengan seorang ibu yang santun, namun ada beragam jenis ibu-ibu dengan aktifitas sehariannya. Ada pegawai di kantor, ada polisi, tentara, bapak-bapak yang bengis, dan lain sebagainya. Jadi perlu beragam model pendekatan yang perlu dipraktekkan dan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Itu sungguh sangat berat.

Akan tetapi, dibantu dengan bacaan, latihan, sharing pengalaman dengan teman seprofesi, sedikit demi sedikit masalah itu teratasi juga. Bahkan pada minggu kedua bekerja di sana saya sudah mendapatkan kesempatan naik tingkat karena berhasil ring the bell (mencapai penjualan harian yang standar) satu minggu berturut-turut. Manajer kami yang berasal dari Jakarta berjanji akan mengirim saya ke Surabaya untuk latihan lebih lanjut dan mengembangkan perusahaan di Aceh. Namun saya memilih melanjutkan kuliah dan mengatakan kalau bekerja sebagai sales hanya pada waktu liburan saja.

Kembali ke cerita pengemis.

Pengemis pada prinsipnya telah memiliki keberanian yang luar biasa dalam menghadapi beragam jenis orang. Ia memiliki rasa percaya diri dalam menawarkan “produknya.” Ia juga memiliki kemampuan dalam mengatur mimik muka dan gerak badan untuk menimbulkan rasa pada calon “konsumennya”. Apalagi seorang pengemis telah terlatih berjalan berjam-jam dan ke berbagai tempat sepanjang hari. Secara fisik mereka kuat dan peuh dedikasi untuk pekerjaannya. Secara potensi mereka memiliki kemampuan untuk “menundukkan” calon konsumennya. Dan dua hal ini adalah dua hal penting bagi seorang sales.

Saya tidak tahu apakah ini ide yang tepat. Tapi sepertinya beberapa pengemis yang ada di Banda Aceh (entah kota lain di Indonesia, saya tidak tahu bagaimana performa pengemisnya) dapat di “upgrade” menjadi sales. Mereka hanya perlu diubah pakaian dan penapilan. Dibekali sedikit metode penjualan untuk masyarakat modern. Mengubah wajah prihatin menjadi wajah penuh senyum. Mengubah tatapan sedih menjadi tatapan penuh percaya diri. Dengan demikian mungkin pengemis akan “naik pangkat” menjadi sales yang sukses. Bagaimana menurut anda?

No comments:

Post a Comment