Wednesday, 7 April 2010

Arti Seorang Teman

Satu sore minggu lalu, katika saya pergi ke warung kopi, saya mendapatkan di sana seorang teman lama bersama temanya. Saya sebutkan saja naman teman itu, Bapak Kamal. Beliau adalah dosen di IAIN Banda Aceh. Usianya memang tidak terlalu muda lagi, mungkin sekitar 55 tahun atau lebih sedikit. Namun penampilannya yang “gaul” membuat ia nampak 15 tahun lebih muda. Sementara di sisinya duduk seorang bapak yang mungkin sudah berusia lebih dari 60 tahun. Mereka minum kopi berdua.

Saat saya tiba Pak Kamal mempersilahkan saya bergabung. Karena tidak mau mengganggu mereka, saya mengatakan mau duduk di tempat lain saja. Namun ia mengatakan tidak masalah, dan tetap bersikukuh agar saya bergabung bersama, sambil menarik sebuah kursi untuk saya. Saya kira ini tawaran serius, dan saya bergabung di meja mereka.

Saya diperkenalkan kepada temannya Pak Kamal, ternyata nama beliau Pak Helmi. Pak Helmi pernah menjadi seorang pejabat di sebuah pemerintah kabupaten di Aceh. Pejabat teras. Banyak keputusan yang lahir dari tangannya. Ia menjadi pejabat sudah lama. Namun menduduki posisi “pincak” yang “basah” hanya beberapa tahun saja.

Menurut teman saya, mereka sudah lama berteman, sejak kuliah beberapa puluh tahun yang lalu. Mereka adalah teman satu kos-kosan yang sangat kopak. Ukuran kompaknya adalah mereka punya satu periuk yang sama untuk menanak nasi. Jadi seperti sebuah keluarga, begitu. Meskipun sebenarnya kalau dilihat dari asal daerah mereka berjauhan, apalagi punya hubungan famili, pasti tidak ada sama sekali.

Mereka tidak terpisah sampai tamat kuliah dan bekerja. Meskipun bekerja di institusi yang berbeda mereka masih saling menyapa dan berkunjung. Sesekali Pak Kamal yang mengajak Pak Helmi minum kopi, atau sebaiknya. Saya kira sebagai teman yang baik dan sebagai rekan kerja yang baik memang demikian harusnya. Karena saling berkunjung tersebut mereka mulai merasa sangat dekat dan merasa sebagai anggota keluarga.

Lima tahun yang lalu, Pak Helmi menjadi pejabat di salah satu kabupaten di Aceh. Jabatannya cukup “basah” dan menentukan banyak hal, terutama yang berkaitan dengan dana, baik bantuan sosial maupun urusan proyek tertentu. Selama itu pula Pak Kamal tidak pernah menghubungi Pak Helmi, dan sebaliknya. Mereka merajut cerita masing-masing. Kesibukan kerja Pak Helmi dengan jabatan barunya membuat ia tidak pernah menghubungi Pak Kamal lagi sebagaimana biasanya. Telpon menanyakan kabar saja tidak pernah, apalagi mengajak minum kopi bersama.

Nah, saat saya duduk bersama mereka, Pak Kamal menceritakan pengalaman dia selama menjabat. Seperti biasanya, seorang mantan pejabat selalu memuji diri dan kebijakan yang ia lakukan saat duduk diposisi tersebut. Bukan hanya masalah pekerjaan yang ia ceritakan, namun juga beberapa kunjungannya ke kota lain, bahkan ke negara tetangga. Satu hal yang tidak luput diceritakan adalah beberapa orang yang menjadi temannya ketika itu. Dan ia menyesali mereka tidak bersamanya lagi sekarang karena dia tidak memiliki jabatan lagi. Lalu Pak Helmi mengatakan:

“Hanya satu nih, yang tidak mau menghubungi saya, Pak Kamal. Makanya ia tidak dapat apa-apa. Padahal waktu itu saya punya banyak cara kalau ia mau mendapatkan bantuan [uang]. Ini jangankan datang ke kantor, telpon saja tidak pernah.”

Pak Kamal diam sejenak. Namun sambil sebuah senyuman tidak lepas dari bibirnya ia mengatakan: “Dulu Bapak tidak punya teman, saya menjadi teman bapak untuk minum kopi bersama. Lalu bapak punya jabatan, bapak juga punya banyak teman yang ingin mendapatkan manfaat dari jabatan bapak, saya menghidnar saja. Nah, sekarang ketika mereka menjauhi bapak, saya datang lagi menjadi teman bapak. Dan kita minum kopi lagi seperti lima tahun yang lalu.”

***

Saat kita berfikir buruk pada seorang teman sejati, ternyata ia memiliki niat lebih mulya dari yang kita pikirkan.

No comments:

Post a Comment