Wednesday, 21 April 2010

Motor Tua Bisa jaga Diri

Seorang rekan kerja saya, sebut saja namanya Pak Salim, memiliki motor tua, Honda Astrea 800. Bagi anda yang familiar dengan kenderaan ini pasti tahu, salah satu bentuk khasnya adalah tempat duduk yang lebih panjang dibandingkan motor lain, apalagi motor keluaran terbaru saat ini. Motor keluaran terkini umumnya memiliki tempat duduk yang miring ke depan. Jadi jika duduk berboncengan, yang dibelakang otomatis melorot ke depan. Dadanya akan disandarkan ke punggung pengendara sepeda motor tanpa harus diminta. Pasti ini menyenangkan bagi pasangan anak muda dan remaja yang sedang dimabuk cinta.

Meskipun saya dan banyak teman yang lain mengganti motor kami dengan motor “yang lebih bagus” dan keluaran yang lebih baru, tidak bagi Pak Salim. Ia sepertinya merasa cukup puas dengan kenderaan yang ia miliki saat ini. Padahal semua sangat yakin, dengan jabatannya sekarang, serangkaian pekerjaan produktifnya, prestasi-prestasi dan ketenarannya, membeli motor yang lebih baik bukanlah hal yang mustahil. Bahkan saya sangat yakin pula membeli mobil juga suatu hal yang wajar untuknya. Namun ia tidak melakukan itu. Ia tetap setia dengan motor bututunya.

Setiap duduk bersama teman-teman di kantor atau sambil minum kopi bersama, ada teman yang meledeknya, mengatakan untuk apa motor seperti itu, sekarang sudah tidak zamannya lagi. Apalagi motor itu tidak praktis; larinya pelan, onderdilnya sudah tidak menarik, suaranya tidak halus meskipun tidak sampai mengganggu orang lain, catnya juga tidak mulus lagi, dan beberapa kekurangan yang lain. Namun sepertinya beliau tidak bergeming dengan uagkapan-ungkapan canda bernada sinis itu. Sampai hari saat esay ini saya tulis beliau masih menggunakan motor tuanya.

Saya sendiri adalah satu diantara banyak orang yang suka dengan hal-hal baru, termasuk motor. Saya berpedoman pada praktisnya, bukan pada fungsi dan manfaat semata. Jadi meskipun saya punya motor lama yang masih bisa dipakai, namun kalau sering rusak, bolak-balik ke bengkel, dan tidak serasi dengan motor lain saat diparkir, itu sedikit mengganggu batin saya. Makanya saya termasuk orang yang heran kenapa Pak Salim masih bertahan dengan motor tuanya dan sama sekali tidak berniat menggantikan dengan yang sedikit lebih bagus. Tidak mesti baru, seperti yang saya miliki, namun setidaknya “nyaman” dipandang mata.

Suatu hari, kami pergi takziah ke rumah salah seorang teman yang orang tuanya meninggal dunia. Kami pergi bersama-sama dengan motor. banyak juga yang pergi dengan mobil. Bersama saya antara lain ada Pak Salim dan Pak Muladi. Pak Muladi adalah salah seorang teman yang sangat sering “menceramahi” Pak Salim mengenai motornya. “Sudahlah Pak, bapak ganti saja motor itu. Sakit juga mata kita melihatnya, tidak serasi kalau lagi parkir. Masa ngak bisa beli yang baru? Kan proyek bapak banyak sekarang.” Begitu antara lain yang diungkapkan Pak Muladi pada Pak Salim. Namun biasanya Pak Salim tidak menanggapi, ia hanya menjawab ala kadar saja.

Saat kami pulang dari takziah, azan ashar menggema di masjid. Kami sepakat untuk berhenti menunaikan shalat jamaah sambil melepaskan lelah dan gerah. Di halaman masjid kami parkirkan kenderaan. Saya dan Pak Muladi membutuhkan waktu yang lama untuk parkir. Sebab selain mendirikan kenderaan di tempat yang “aman” kami juga harus memasang kunci pengaman. Selain kunci stang, saya memasang kunci pengaman di rantai. Pak Muladi lebih banyak lagi; kunci stang, gembok rantai dan rantai ban depan. Tiga pengaman. Ini semua kami lakukan untuk menjamin kenderaan kami aman dari pencurian. Apalagi belakangan ini pencurian kenderaan bermotor sangat sering terjadi. Sementara Pak Salim hanya butuh beberapa saat. Dia dirikan motornya di posisi yang pas, mengkunci stang, lalu pergi ke tempat wudhu. Ia seolah meninggalkan kenderaan begitu saja, tanpa khawatir kenderaannya akan dicuri maling.

Jujur saya katakan, meskipun saya sudah mengunci kenderaan dengan kunci pengaman, saya tetap belum yakin kenderaan saya akan aman. Sangat banyak kenderaan yang hilang maskipun sudah ada kunci pengaman. Jangankan pakai kunci pengaman, di rumah saja banyak kenderaan yang hilang, apalagi di masjid dan di luar. Itulah yang membuat saya selalu teringat pada motor yang diparkir di depan masjid sepanjang shalat jamaah. Bahkan diam-diam dalam hati yang paling dalam saya berharap agar imam sedikit mempercepat shalat agar saya bisa melihat kenderaan dan menjaminnya tidak hilang dicuri orang.

Sesaat setelah selesai shalat, saya dan Pak Muladi hanya berzikir sebenar lalu keluar masjid segera untuk memastikan motor kami tidak masalah. Alhamdulillah, motor saya masih ada di tempatnya, begitu pula dengan motor kedua teman saya. Namun saya melihat Pak Salim masih di tempat duduknya. Ia berzikir dengan tenang tanpa beban. Seolah ia tidak peduli dan berfikir tentang motornya. Seolah ia mempasrahkan saja motor itu jika dicuri orang. Kami butuh waktu 10 menit untuk menunggu beliau selesai berzikir dan berdoa baru kemudian keluar masjid.

Saat keluar masjid Pak Muladi berseloroh lagi. “Panjang kali do’anya pak?” Pak Salim hanya tersenyum, lalu mengatakan: “Pasti kalian keluar karena takut motor dicuri orang kan? Makanya lebih enak seperti motor saya, aman, tidak ada yang peduli. Ibadah kita tenang, nyaman. Berdoa dengan tenang tanpa rasa was-was. Sama sekali kita tidak khawatir motor kita akan hilang. Motor tua bisa jaga diri.” Katanya. Saya baru maklum kenapa ia tidak menggantikan motornya. Lalu kami berangkat pulang.

***

Terkadang harta dan obsesi yang berlebihan menjadikan jiwa kita tergantung padanya dan menjauhkan diri kita pada rasa nyaman dan tenang dalam kedamaian sejati mengingat Allah.

2 comments:

  1. mestinya kalau memang merasa benar2 "mampu", tidak perlu khawatir motor hilang, toh kalu iya, masih bisa beli lagi. kalo emang orang yg pas2an, yg beli motor bagus cuman karena mslh gengsi, yah apa2 jd nggak tenang.


    (#saya cuman la nyasar dari jalan2 di internet nee)

    ReplyDelete