Wednesday, 7 April 2010

Bos Bule dan Bos Botak

Setelah tsunami melanda Aceh pada tahun 2004, saya pernah bekerja di sebuah organisasi asing yang berkantor di Banda Aceh untuk melaksanakan program bantuan kepada korban tsunami. Meskipun saya tidak memiliki latar belakang yang sesuai dengan pekerjaan saya waktu itu, namun karena mereka memang sedang membutuhkan pekerja, maka saya diterima di sana. Apalagi bahasa Inggris saya yang hancur-hancuran, sehingga kalau dalam keadaan normal pasti dengan lembuat akan dikatakan: kami belum punya pekerjaan yang cocok buat anda. Hanya karena darurat saja mungkin saya bisa ada di sana.

Dalam satu tahun saya bekerja, saya memiliki dua orang bos. Bos pertama saya adalah seorang bule Inggris, laki-laki, tidak terlalu panjaang dan hanya bisa bahasa Indonesia sepatah dua patah kata saja. Dia baru pertama kali ke Aceh dan ke Indonesia. Tapi dari cerita yang saya dengar, dia sudah pernah bekerja untuk program rahabilitasi di berbagai negara bekas konflik dan bencana. Terakhir, sebelum bekerja di Aceh, ia bekerja di Baghdad. Sementara bos kedua adalah orang Aceh asli, kepalanya botak, seorang profesor di sebuah perguruan tinggi di Aceh. Beliau ahli dalam berbagai penelitian sosial, terutama masalah resolusi konflik. Saya tidak tahu pengalaman kerjanya di luar negeri. Sebab selama ini saya dengar ia hanya bekerja di kampus sebagai dosen, atau sebagai staf ahli di pemerintahan.

Meskipun tidak disebutkan dan disampaikan secara langsung, saya melihat banyak hal yang berbeda diantara kedua bos ini. Tulisan ini saya posisikan dua hal saja, positif dan negatif (menurut saya), supaya lebih mudah saya ingat dan menjadi pelajaran buat saya sendiri atau pembaca lainnya.

Dalam tata ruang kantor, Bos Bule memilih berantor di ruangan yang terbuka, tidak ada pintu khusus, tidak ada meja khusus. Sekilas sama saja meja kerja dia dengan meja kerja kami. Siapapun bisa menjumpainya, kapan saja, kalau ia nampak duduk di kursi belakang mejanya, tanpa perlu permisi dan mengetuk pintu tanda minta izin. Sementara saat Bos Botak mulai berkantor, ia menyekat sebuah ruangan untuk dirinya, membuat AC khusus, membeli meja dan lemari yang lebih baik dari meja dan lemari kami. Kalau mau jumpa dan datang ke kamarnya, ketuk pintu beberapa kali dan dia akan akatakan “masuk” baru boleh masuk. Katanya supaya lebih tertip dan tidak mengganggu pekerjaanya.

Di kantor, devisi kami punya sebuha dispenser. Setiap orang bisa membuat teh dan kopi sendiri karena ada air panas di sana. Pun Bos Bule kami, tetap buat teh sendiri kalau ia mau. Bahkan tidak jarang ai menawarkan membuatkan teh untuk staf lain yang kebetulan melihatnya sedang bikin teh. Saya pernah dibuatkan segelas kopi. Dia juga melakukan hal lain sendiri, memfotocopi surat, mengelem amplop, menstempel surat dan lain sebagainya. Bos Botak kami berbeda. Katanya ia butuh dispenser sendiri di dalam ruangnnya. Karena kantor belum ada dispenser lain, maka disepenser “umum” dibawa masuk ke kamarnya. Ia bilang ke staf, “nanti kalau mau minum, ambil saja ke kamar saya.” Seingat saya tidak ada yang berani masuk kamarnya hanya untuk mengambil air. Kami lebih memilih minum kopi atau teh di luar saja.

Kalau mau masuk kerja dan berjumpa di depan pintu, ia menegur semua staf, mengatakan selamat pagi dan menanyakan kabar, sambil bersalaman sangat erat. Dengan beberapa kata bahasa Indonesia yang terbatas ia mengatakan “semoga sukses ini hari”. Kalu saya berjumpa dengan Bos Botak,sya menegusrnya, “Pagi Pak…” mencoba tersenyum, meskipuns saya jarang seklai mendapat balasan senumannya. Belakangan saya menghindar saja kalau berjumpa dengannya.

Sesekali Bos Bule saya menanyakan bagaimana perkembangan kerja yang sedang kami lakukan, apa kendala yang dihadapi dan bagaimana anda menyelesaikannya. Apa yang bisa ia lakukan untuk mempermudah pekerjaan selesai. Saya jadi malu kalau tidak memiliki progres sedikitpun. Jadinya setiap minggu saya pastikan ada yang “berubah” dari pekerjaan saya. Kalu Bos Botak juga sering menanyakan masalah pekerjaan. Bedanya ia bilang: kapan kasih laporan? segera. Kita tidak punya banyak waktu!”

Kalau ada sebuah peluang untuk pengembangan diri, seperti pelatihan, seminar apalagi konferensi akademik yang bukan diadakan oleh kantor saya melaporkan kepada bos. Saat Bos saya Bule, dia akan bilang: “Mm… itu menarik dan pasti akan sangat banyak manfaatnya. Saya akan usahakan agar kamu bisa ikut dalam program itu.” Beberapa jam kemudian dia akan telpon atau kirim email: “Oke, kami boleh ikut. Lapor ke HR supaya dibooking tiket.” Tapi ketika hal yang sama saya sampaikan kepad bols Botak saya, dia mengatakan: “Kita tidak punya dana untuk itu. Lagian kantor jga punya program sendiri untuk pengembangan SDM staf.” Beberapa jam kemudian dia tetap tidak memberikan jawaban, sebab dari jawaban pertama sudah jelas: “Anda tidak boleh ikut.”

Begitulah beda Bos Bule dengan Bos Botak. Tetunya bukan karena dia Bule dan bukan karena dia botak sifat itu ada padanya, tapi karena si bule punya niat baik untuk mengembangkan stafnya. Yang ini, tidak mesti bule, siapa saja bisa melakukannya. Kebetulan saja saya berjumpa dengan yang bule.

No comments:

Post a Comment