Tuesday, 27 April 2010

Satu Kelahiran Satu Pohon

Apakah anda punya sebatang pohon yang umurnya persis sebaya dengan anda dan anda mengetahui di mana pohon itu? Jika ada, itu pasti sebuah hal yang menakjubkan dan sebuah kebanggaan. Dan anda dengan bangga akan mengatakan, “Ini pohonku!”

Saya dan semua orang kampung suku Kluet, Kabupaten Aceh Selatan memilikinya. Ada sebuah tradisi khusus di sana yang membuat hal ini bisa terjadi. Setiap orang yang lahir, pada hari itu juga akan ditanami sebatang pohon untuk menandainya. Dalam lubang yang akan ditanami dimasukkan segala darah dan benda lain selama proses persalinan. Kemudian di atasnya dimasukkan pohon tertentu yang menjadi pilihan orang tuanya, kelapa, mangga, durian, dan lain sebagainya. Selama ini pohon yang dipilih adalah pohon keras dan berumur panjang. Jadi bukan pohon buah-buahan atau sayuran.

Beberapa waktu yang lalu, saat pulang ke kampung saya kebetulan datang ke bekas rumah di mana saya dilahirkan. Rumah itu sekarang sudah menjadi kebun karena semua masyarakat sudah pindah ke pinggir jalan. Dan di sana berdiri dengan kukuh sebatang pohon durian yang sedang berbuah lebat. Ibu mengatakan “Nyan a kah” (itu -pohon- kakak mu). Artinya pohon itu adalah kakak saya. Kenapa disebut kakak? karena sebuah pohon jelas “lahir” lebih dahulu sebelum saya lahir. Hanya ia dipindahkan ke lubang itu pada saat saya lahir. Lalu sejak itu kami tumbuh bersama hingga sekarang ini.

Biasanya sebuah pohon besar akan hidup lebih lama dari manusia. Saya melihat sebatang pohon durian yang ada di belakang rumah nenek. Nenek mengatakan pohon itu memang sudah seperti sekarang ini sejak beliau masih kecil. Besar batangnya, cabang-cabangnya, rimbun daunnya, persis sama ketika beliau masih kanak-kanak. Dan saat itu, di usianya yang ke 80 tahu lebih, pohon durian itu masih berdiri di sana dengan tampilan yang persis sama. Entah berapa lama sudah ia hidup di sana menyaksikan perkembangan dan hiruk pikuk kampung kami, tidak ada yang tahu.

Setiap pohon yang tumbuh bersamaan dengan lahirnya seorang manusia di kampung tidak ikut mati ketika orang tersebut mati. Maka kampung kami, alhamdulillah, sampai saat ini masih rimbun dipenuhi pepohonan. Tidak ada keluhan dari masyarakat tentang panasnya udara. Ada angin pegunungan dan hamparan sawah membentang yang disaring oleh pepohonan sebelum masuk ke rumah. Makanya tidak perlu AC, tidak perlu kipas angin. Pohon-pohon itu memainkan peran penting menggantikan keduanya.

Program “satu orang satu pohon” yang dicanangkan pemerintah saat ini sepertinya perlu mencontoh tradisi orang Kluet di kampung saya. Disana sejak lahir seorang anak telah ditanami sebatang pohon. Dan ketika ia dewasa, ia akan tahu mana pohonnya, dan ia akan menjaga pohon itu. Kalau ia bermurah hati, ia akan menanam sebatang atau beberapa batang pohon lain di dekat pohonnya. Dan di sana akan tumbuh sebuah hutan kecil yang menjadi sumber air bagi kehidupannya, dan sebagai penyaring udara segar bagi hidupnya.

Dengan menanam pohon kitsa selamatkun bumi. Selamat hari bumi.

No comments:

Post a Comment