Saturday, 17 April 2010

Mati Membeku Karena Takut

Saat masih anak-anak, kami suka mandi di kali. Saya kira semua orang yang punya latar belakang kampung dengan banyak kali di dalamnya pasti suka mandi. Biasanya kami mandi dari pagi sampai sore, sampai mendekati azan maghrib. Saat keluar dari kali pandangan berasap, mata merah, tangan pucat, ujung jari sudah mengerut seperti mayat. Dua tangan disilangkan ke dada menahan dingin gemetaran. Meskipun kampungku bukan dataran tinggi, namun kalau sudah mandi berjam-jam tetap saja dingin. Apalagi sore hari begitu keluar dari kali langsung diterpa dengan angin pegunungan yang sejuk.

Mandi anak-anak bukanlah mandi biasa. Mandi yang biasanya dilakukan untuk membersihakn kotoran dan menyegarkan badan. Kalau anak-anak mandi adalah permainan. Maklum di kampung tidak ada playgroup dan TK. Jadinya mandi di kali yang airnya belum tentu bersih adalah TK dan Playgroup. Tidak ada guru, tidak ada pembimbing. Semua orang bergembira dan menikmatinya. Apalgi kalau sedang main som-som batei; sebuah batu disembunyikan di tempat rahasia di dalam air, lalu teman-teman mencarinya. Siapa yang memperoleh batu itu, ia berhak menyembunyikan kembali. Permainan ini membuat kami harus terus menyelam dan berburu batu di dalam air.

Meskipun mandi di kali ini menyenangkan, namun bukan tanpa halangan. Tempat mandi yang kami pakai juga dipakai oleh orang dewasa. Beberapa orang dewasa mengalah kalau melihat kami sedang mandi dengan mencari pemandian lain yang ada di sepanjang kali. Namun beberapa yang lain langsung marah-marah, melemparkan kayu ke dalam lair dan menyuruh kai berhenti. Sebab kalau kami sedang mandi maka air menjadi kotor. Air menjadi coklat berlumpur. membuat orang tidak nyaman untuk mandi. Makanya mereka memarahi dan menyuruh kami untuk segera berhenti. Namun namanya anak-anak, begitu di suruh langsung berhenti, namun kalau yang menyuruh sudah pulang, kami mandi lagi.

Pada suatu hari kami mandi di kali belakang masjid. Kali ini dipakai orang dewasa untuk mandi sore dan jamaah shalat maghrib untuk berwudhu. Makanya mereka sangat marah kalau mendapatkan air kumuh ketika tiba di sana. Seorang penjaga masjid selalu mewanti-wanti kami agara jangan mandi sampai sore. Sebab sore hari orang mau mandi dan berwudhu. Namun kami tetap tidak peduli. Kalau mulai mandi siang, biasanya berhenti petang, ketika beberapa orang dewasa sudah tiba dan memaksa kami keluar dari kali dengan mata memerah.

Nah, satu hari kami kena gatah dari kelakuan kami sendiri. Saat itu kami mulai mandi dari jam 10.00 pagi. Saat azan zuhur kami masih mandi. Penjaga mesjid datang ke kali. Kami bersembunyi dibalik tanaman kangkung yang banyak tumbuh di sisi kanan dan kiri kali. Penjaga masjid tidak jadi berwudhu di situ karena air kotor, ia langsung pergi. Di depan masjid ada sebuah kali lain yang bisa dipakai buat wudhu, namun tidak bisa dipakai untuk mandi. Setelah ia menghilang kami melanjutkan mandi.

Setelah shalat zuhur, penjaga masjid kembali ke kali dengan sebuah parang yang telah diasah mengkilat. Sesekali ia menerawangkan ke arah matahari hingga menimbulkan cahaya yang menunjukkan parang itu sangat tajam. Kami sangat ketakutan melihatnya. Hampir serentak kami langsung bersembunyi di balik tanaman kangkung. Badan kami ada dalam air, tapi kepala keluar untuk bernafas. Dari balik tanaman kangkung liar yang lebat kami mengira kakek tua penjaga masjid tidak tahu kami ada di sana. Kami menunggu sampai ia pergi untuk kemudian melanjutkan mandi dan bergembira.

Celakanya, ia tidak pulang-pulang juga. Malah, dengan parang di tangannya, ia membersihkan rerumputan di tepi kali yang dekat dengan masjid. Sesekali dia melihat ke arah tanaman kangkung di mana kami bersembunyi. Kami semakin ketakutan. Padahal saat itu kami sudah mandi empat jam. Ditambah berendam di bawah tanaman kangkung 30 menit, kami sudah mulai kedinginan. Namun untuk keluar sangat takut. takut dengan parang kakek penjaga masjid. Jadi kami bertahan di bawah tanaman kangkung menunggu sang kakek pergi yang kami tidak tahu kapan.

Tubuh sudah terasa sangat dingin. bibir sudah membiru. mata sudah memerah. saya melihat seorang teman dari balik tanaman kangkung sudah mulai menangis, tidak tahan menahan dingin. Tapi untuk keluar kami sangat takut. Takut dengan parang kakek penjaga masjid yang terus memotong rumput di tepi kali. Sementara untuk terus berendam di sana kami juga sudah tidak tahan. Apalagi saat itu hari mulai sore. Angin pengunungan menjadikan air semakin sejuk dan membuat kami semakin kedinginan. Semua kami, sepuluhan anak yang berada di balik tanaman kangkung itu terasa mulai membeku.

Tiba-tiba seorang orang dewasa datang untuk mandi. Dia lihat air sangat bersih, tidak seperti biasanya. Padahal di dekat tangga turun ke kali ada baju anak-anak. Sedikit mengherankan. bagaimana mungkin banyak baju anak-anak tetapi airnya bersih? Ia bertanya pada kakek penjaga masjid, pada kemana anak-anak? Apa mereka meletakkan baju di sini lalu mandi di tempat lain? Kakek penjaga masjid menunjukkan parangnya ke arah kami. Mengatakan kepada orang dewasa tersebut kalau kami seddang bersembunyi.

Bapak ini maklum kalau kami di sana sudah lama dan ketakutan. "Ya sudah... keluar, cepat keluar. Sudah boleh pulang." Kami yang tidak tahan lagi berendam langsung keluar dari balik tanaman kangkung. Berenang ke tepi dan naik ke darat. Semua kami sudah gemetaran menahan dingin. Mata sudah memerah dan berasap. Bibir pucat kebiru-buruan menahan dingin. Telapak tangan sudah pucat. jari-jari mengkerut. tangan disilangkan di dada mengurangi dingin. Kami ambil baju, memakainya dan lalu pulang ke rumah masing-masing tanpa biacara sepatah katapun.

Dan beberapa hari setelah itu kami tidak mandi lama-lama di kali. Takut kalau Kakek penjaga masjid menakut-nakuti kami lagi. Namun itu hanya satu atau dua minggu. Selanjutnya kebiasaan itu kembali lagi.

***

Saat kita sadar ada yang salah dengan apa yang kita lakukan, maka hati terus gundah, pikiran susah dan menderita. Padahal ada pintu maaf, kenapa tidak dipakai?


No comments:

Post a Comment