Monday, 19 April 2010

Abu Rokok dari Jendela Mobil

Saya bersua dengan seorang teman lama. Teman yang dulu kami sama-sama bekerja di sebuah perusahaan batu bata. Sebagai buruh. Kini ia sudah meninggalkan Banda Aceh dan bekerja di sebuah perusahaan lain. Saya tidak tahu apakah posisinya masih sebagai buruh atau sudah naik kelas, jadi bos. Atau setidaknya jadi asisten bos. Tapi bukan itu topik bahasan dalam tulisan ini.

Ia sedang mencari pembeli mobilnya. Sebuah mobil sedan mengkilat berwarna hitam. Sudah dua hari di Banda Aceh, ia belum menemukan pembelinya. Padahal ia mau menjual dengan harga yang lebih murah dari pasaran, bahkan ia mau kasih diskon besar, katanya. Tapi belum ada yang berminat. Sebab jual mobil tidak sama dengan jual emas, kapan saja di mana saja mudah. Ia nampak sedikit susah, karena ia punya waktu hanya sampai lusa, dua hari setelah kami berjumpa.

Semula saya heran kenapa ia mau menjual mobilnya. Padahal dari ceritanya, ia baru saja membeli mobil itu. Apakah karena ia tidak suka mobilnya? Apakah karena sudah ketinggalan zaman? Apakah karena sudah tidak tidak butuh lagi? Tidak mungkin, ia baru saja membeli mobil. Entah kalau orang terlalu kaya. Tapi ia orang biasa saja yang tidak mungkin gonta-ganti mobil secepat membalik telapak tangan. Saya tanyai dia kenapa.

Syahdan, katanya memulai kisah. Dua bulan yang lalu ia dan anak kecilnya yang berusia belum genap empat tahun jalan-jalan sore di dalam kota. Mereka memilih jalan-jalan dengan sepeda motor, tidak dengan mobil. Lebih meyenangakan dan santai, katanya. Anaknya duduk di posisi depan kenderaan. Istrinya di belakang. Seperti umumnya anak-anak yang duduk di depan, ia tidak mengenakan helm untuk si anak, tidak juga kaca mata untuk menghindari debu atau cahaya. Mereka jalan pelan-pelan. Maklum, jalan untuk main-main saja.

Pada sebuah jalan lurus yang sedikit sepi, sebuah mobil melintasi mereka. Sebuah mobil Kijang berwarna silver. Dia tidak tahu punya siapa, atau siapa yang ada di dalamnya. Pasti pemiliknya, atau punya hubungan dengan pemilikknya. Atau pencuri yang sedang melarikan mobil hasil curiannya. Terserah, siapapun pemiliknya tidak penting. Yang pasti seorang manusia yang memiliki akal budi, entah digunakan atau tidak wallahu’a’lam.

Persis berada beriringan dengan sepeda motonya, kaca jendela mobil terbuka. Sebuah tangan putih berjam tangan kecil berwarna kuning keemasan keluar dari jendela itu. Hanya sedikit saja, tidak nampak seluruh lengan, apalagi muka. Mungkin lebih sedikit dari pergelangan tangan hingga nampak juga jam yang ia kenakan. Tidak jelas juga apakah tangan laki-laki atau perempuan. Dan, itu juga tidak penting.

Masalahnya adalah di sela-sela tangan putih berjam tangan keemasan itu terselip sebatang rokok berwarna putih yang diujungnya merah terbakar dan berabu. Dengan sangat terampil dan profesional salah satu jari tangan itu mematik batangan putih tersbut. Entah terlalu keras, bara api dan abu rokok itu jatuh semua berpisah dari batangnya. Hembusan angin membuat api itu terbang dengan cepat. Dan lalu, tiba-tiba, hinggap di mata anak teman saya yang saat itu ada di sisi kiri mobil di bagian pinggir jalan. “Aduh…..” si anak berteriak sambil reflek menutup dan mengucek mata kirnya. Sementara mobil terus berlalu entah ke mana.

Teman saya berhenti dan menyanyakan ada apa kepada anak saya. Ia mengatakan abu rokok orang yang dalam mobil masuk kedalam matanya. Dia tidak sepat menghindar karena sangat dekat dan sangat cepat. Kejadiannya berlngasung tiba-tiba dan sama sekali tidak dapat diprediksi. Namun si anak melihat tangan dari balik jendela mobil memetik api, lalu api itu pula yang masuk ke dalam matanya.

Ia melihat mata anaknya memerah dan segera mencuci dengan air mineral yang dibawa. Namun mata itu tetap saya memerah. Ia mengatakan pada anaknya itu tidak masalah, sebab nanti juga akan sembuh. Dan anak kecil itu mengerti dan berhenti menangis kesakitan. Mereka pulang ke rumah, apalagi hari sudah mulai senja. Di rumah ia memberikan obat steril mata yang banyak dijual di toko obat. Mungkin itu iritasi ringan karena debu saja. Dia begitu yakin.

Nyatanya, sepanjang malam si anak mengeluh sakit dan mengucek matanya. Kataya perih dan sakit. Ia kemudian membawa si anak ke dokter, malam-malam. Dokter memberinya obat, sebungkus pil yang harus diminum oleh sianak. Memberikan obat tetes yang harus diteteskan ke mata si anak. Pil boleh pakai malam ini, obat tetes mulai besok, kata dokter. Dan si anak bisa tidur dengan tenang malam itu.

Besoknya ia mengeluh sakit lagi. Mengatakan matanya perih. Hari itu juga teman saya membawa anaknya ke puskesmas. Setelah diperiksa tersenyata ada masalah dengan matanya. Harus dibawa ke rumah sakit. Sebab hanya di sana ada dokter spesialis mata. Hari itu juga ia membawa si anak ke sana. Setelah diperiksa, teman saya mendapat kabar yan kurang sedap. Matanya harus dioperasi, operasi besar. Untuk sementara si dokter memberikan obat sampai hari operasi tiba. Teman saya menjelaskan masalah penyakit anaknya, namun saya tidak cukup memahami.

Dan hari operasi itu hampir tiba. Ia butuh uang besar, seperti yang dokter kabarkan. Ia harus menjual mobilnya. Dan sekarang, sambil minum kopi bersama saya, ia menunggu pembelinya. Di mana pembuang abu rokok dari jendela mobil? Mungkin ia sedang mematik api rokok di tempat lain. Entahlah.

***

Hati-hatilah dengan apa yang kita lakukan. Terkadang bagi kita iseng, sederhana, asal-asalan, tapi bagi orang menjadi sebuah petaka, musibah yang menghancurkan, bahkan menjadi penderitaan sepanjang hidupnya. Dan kalau ini terjadi, kutukan, cercaan, dan dosa, akan mengalir ke rekening amal kita sepanjang masa. Na’uzubillah.


No comments:

Post a Comment