Tuesday, 27 April 2010

"Menjual" Nama Polisi

Suatu hari, saya pulang dari kantor untuk makan siang di rumah. Siang itu matahari sangat terik di Banda Aceh. Rasanya, kalau selama ini matahari hanya satu, hari itu tetap satu. Namun satu-orang satu matahari. Begitu panasnya! Angin saja yang biasanya membawa kesejukan, hari itu tidak bisa berbuat banyak. Bahkan anginpun terasa panas. Benar-benar panas membakar. Saat itu saya pikir ini adalah hari terpanas yang pernah saya rasakan di Banda Aceh. Namun waktu saya merasakan hari lain yang juga panas, saya mengatakan hal yang sama.

Saya pulang melalui jalan yang tidak biasa saya tempuh. Dari kampus saya berbelok ke kiri. Jalan ke sana memang akan lebih jauh sampai ke rumah. Namun akan lebih teduh karena banyak pepohonana di sisi kanan dan kiri jalan. Apa lagi itu adalah daerah perkampungan, kenderaan juga tidak sepadat jalan protokol yang membuat suasana panas semakin terasa, selain panas matahari juga panas hati karena sikap sebagian pengguna jalan yang maunya enak sendiri.

Baru satu kilometer berjalan ke arah kiri saya melihat seorang ibu setengah baya yang agak kurus bersama seorang anak laki-lakinya yang juga kurus berbdiri di samping jalan. Melihat dari pakaian yang mereka kenakan saya tahu kalau mereka adalah pengemis. Apalagi saya susah beberapa kali melihat mereka. Dan, bukan maksud hendak mengingat-ingat, saya juga pernah memberikan mereka sedikit sedekah. Kenapa mereka ada di jalan ini? karena mereka juga minta sedekah ke rumah-rumah dan ke tempat-tempat di mana ada orang duduk di depan rumah.

Semula saya kira mereka hendak menyeberang jalan. Namun buat apa? sebab di sebernag jalan di mana mereka berdiri adalah tanah kosong yang tidak ada rumah sama sekali. Jadi pasti mereka menunggu becak atau angkutan dan mereka akan pergi ke suatu tempat ke mana mereka akan melanjutkan pekerjaannya. Namun dari jarah beberapa puluh meter sebelum sampai ke arah ke duanya, saya melihat anak kecil itu melambaikan tangannya. Semual saya tidak tahu apa artinya, namun ketika saya melihat ke belakang tidak ada kenderaan lain, saya tahu kalau mereka meminta saya berhenti.

Saya berhenti persis di depan mereka berdiri. Si ibu membuka pembicaraan. Ia mengatakan hendak pergi ke Darussalam (daerah kampus). Saya katakan kalau saya mau pulang ke arah yang berbeda. Ia malah mengatakan boleh juga pergi ke arah yang sama dengan saya. “Nanti turunkan kami di pasar” katanya. Memang, dari tempat di mana ia berdiri tidak jauh lagi sudah sampai ke sebuah pasar tradisional. Namun saya sedikit kaget, kenapa ia begitu cepat menggantikan tempat tujuannya. Karena saya tahu mereka pengemis, daerah operasinya bisa ke nama saja, tidak terbatas pada daerah tertentu saja, saya memerikan tumpangan.

Si anak duduk persis di belakang saya, dan si ibu duduk di belakanganya. Seorang ibu yang mengenakan rok biasanya duduk menyamping. Namun saya lihat ibu ini membuka sandalnya, menyibak sedikit roknya, lalu naik ke motor saya, duduk seperti laki-laki. “Sudah” katanya, menandakan ia sudah duduk di posisi yang tepat dan sudah boleh berangkat.

Saya membawa kenderaan pelan-pelan saja, sebab di belakang ada seorang anak dan seorang perempuan. Apalagi jalan di sana juga tidak terlalu bagus dan sempit. Saya mencoba untuk hati-hati. Sebab saya yakin betul, kalau terjadi sesuatu dengan mereka, sayalah yang akan bertanggung jawab. Apalagi mereka tidak jelas siapa orangnya, di mana rumahnya, siapa saudaranya. Seadainya mereka harus masuk ke rumah sakit pasti saya yang harus menanggung biayanya. Saya tidak mau ambil resiko.

Ketika hendak masuk ke pasar, saya membawa kenderaan lebih pelan lagi. Sambil sedikit menghadap ke belakang saya bertanya kepada si ibu, ia mau turun di mana. Ia menjawab, namun tidak jelas. Saya bertanya lagi. Ia menagatakan lewat mesjid. Mesjid masih ada sekitar 200 meter lagi. Namun itu sudah di luar pasar dan bukan ke arah saya pulang. Saya memutuskan mengantarnya, sebab tidak terlalu jauh. Sesampai di masjid saya berhenti dan mengatakan kalau mereka sudah sampai. Tapi malah si ibu diam saja dan tidak bergerak menunjukkan ia mau turun. Ia justru mengatakan kalau ia mau ke rumah sakit.

Rumah sakit berada di arah yang berseberangan dengan masjid. Dan itu berarti ke arah rumah saya, namun masih lebih jauh lagi. Saya mulai curiga dengan mereka. Sebab sudah tiga kali tidak konsisten dengan rencananya sendiri. Dan saya pernah mendengar seorang teman yang kehilangan dompet setelah membonceng seorang ibu dengan seorang anak laki-lakinya. Saya tidak bisa meraba dompet karena di depan ada ransel, dibelakang ada si anak yang duduk sangat dekat dengan saya. Lalu saya menghentikan kenderaan, saya tanya si ibu, sebenarnya ia mau ke mana. Si ibu menjawab dengan ragu, meskipun kemudian ia mengatakan rumah sakit. Saya sedikit mencoba tegas, mengatakan dengan suara lembut dan ramah: “Saya bawa ke kantor polisi saja ya, nanti ibu bisa minta bantu mereka.” Si ibu mejawab dengan cepat dan segera turun. “Oo.. ngak apa-apa. kami turun di sini saja”. Ia menggendong anaknya turun dari motor, lalu pergi dengan sangat cepat ke arah pasar.

Ternyada dalam kondisi seperti ini polisi bisa “dijual”. :-)



No comments:

Post a Comment