Friday, 9 April 2010

Tukang Parkir vs Satpam BCA

Saat duduk di kelas tiga SMA, saya bekerja sebagai tukang parkir. Posisi saya waktu itu di jalan Panglima Polim, Peunayong, Banda Aceh, persis di depan BCA sekarang. Saya bekerja mulai jam 5 sore sampai jam 10 malam. Tahun 1997 jalan di sana tidak ramai seperti sekarang. Satu-satunya yang banyak di kunjungi hanyalah Rumah Makan Nasi Goreng Desember dan ATM BCA. Selebihnya sepi saja. Sekarang ini, 13 tahun kemudian, daerah ini menjadi sangat padat dan penuh sesat, siang ata malam hari.

Menjadi tukang parkir sebenarnya bukan pekerjaan yang sengaja saya lakukan. Saya menggantikan seorang teman yang tinggal satu kos-kosan. Saat itu ia dikirim oleh sebuah organisasi ke luar daerah, kalau tidak salah ke Medan, untuk mengikuti sebuah acara. Jadi saya diminta menggantikannya selama ia tidak ada. “Kalau dapat uang ambil saja untuk kamu semuanya,” katanya. Beberapa malam sebelum ia pergi, saya sudah ditraining bagaimana menjadi petugas parkir.

Menjadi tukang parkir itu sulit, sangat sulit. Apa lagi saya dalam posisi antara merasa malu dan butuh uang yang berpadu menjadi satu. Saya merasa sangat deg-degan ketika mengangkat tangan meminta uang parkir kepada pemilik kenderaan. Batin saya mengatakan, apa hak saya mengambil uang darinya padahal saya tidak melakukan apa-apa untuk kenderaan dia. Oleh sebab itulah saya mengatur setiap kenderaan yang parkir di sana hingga menjadi rapi, kecuali mobil tentu saja. Kalau sempat saya juga mengelap temat duduknya biar bersih dari debu. Kepada kenderaan yang tidak saya “sentuh” saya tidak ambil uang parkirnya karena merasa sangat tidak enak.

Karena baru saja menjadi tukang parkir saya tidak tahu persis siapa saja yang “tidak boleh diambil” uang parkirnya karena mereka pemilik toko atau saudaranya. Beberapa orang ada dengan halus menanyakan “baru bekerja di sini ya?” katanyakepada saya. Saya hanya mengiyakan. Lalu ada yang menjelaskan kalau ia adalah pemilik toko atau pekerja, jadi biasanya tidak bayar parkir. Namun ada juga yang tidak ada kaitan apa-apa dengan tempat tersebut namun tidak mau bayar parkir. Apalagi kenderaan sudah saya atur dengan membalikkan arahnya ke jalan raya. Jadi kalau saya tidak terlihat, banyak orang yang ambil kenderaan lalu tancap gas. Saya iklaskan saya, kah yang diambil kenderaannya sendiri kok.

Namun demikian, karena tidak kenal dengan pemilik pertokoan pula saya pernah mendapatkan masalah pada malam kelima saya bekerja di sana. Ceritanya, seperti biasa saya mengatur semua kenderaan yang ada di sana. Sekitr jam sembilan malam, dari dalam kantor Bank BCA keluar seorang anak muda dengan jaket tebal dan sepatu hitam. Ia langsung menuju salah satu sepeda motor yang ada di sana yang sudah saya atur berjejer rapi. Seperti biasanya, saat ia hendak mengambil kenderaannya saya mendekat, meniupkan peluit, tanda meminta bayaran uang parkir. Ia melihat pada saya sesaat, mungkin terkejut, kemudian memberikan selembar uang sepuluh ribuan. “Simpan saja kembaliannya” katanya waktu itu. (Oiya, waktu itu uang parkir Rp. 200,-) Saya mengucapkan terima kasih banyak mendapatkan rejeki nomplok itu.

Tiba-tiba, dari belakang saya dikejutkan oleh sebuah suara orang tua. Saya tahu suara itu, satpam BCA yang malam itu kena giliran dinas. Ia nampak sangat marah kepada saya, lalu berkata:

“Hey, kamu tau tidak siapa yang barusan kamu minta uang parkir?”

“Saya tidak tahu pak,” jawab saya polos.

“Itu bos kami di sini, itu pemilik BCA ini, kenapa kamu ambil uang parkir sama dia? Dia itu menantu saya. Kamu telah membuat saya malu. Kemana saya taruh muka di hadapan dia? masak di kantornya sendiri dia harus bayar uang parkir? Kenapa kamu ambil parkir sama dia hah? kenapa?” Satpam tua itu berkata dengan sangat cepat dan nampak sangat marah.

Saya menjadi sangat takut, dan dengans ediit gemetar berkata: “Saya tidak tahu kalau itu menantu bapak. Lagian kenapa bos BCA bisa menikah dengan akan satpam?”

Beliau semakin marah mendengar kata-kata saya. Sebuah benda yang ada di tangannya dibanting ke tanah. “Bodoh!” katanya, sambil kembali masuk ke dalam kantor BCA. Saya diam saja, tidak mengerti kenapa dia bisa semarah itu. Padahal, si “bos” sendiri malah memberikan uang parkir yang lebih banyak dari gaji saya semalaman.

2 comments:

  1. Itu satpam gk da etika gk da adab. Gk bisa jd prngaman. Harus dipecat tu satpam BCA.
    Pengaman kok arogan. Smg kamu tukang parkir skrg dah jd boss ya.

    ReplyDelete
  2. Amin, hidup tukang parkir yg sudah jadi bos

    ReplyDelete