Thursday, 1 March 2012

Presentasi Kandidat Ph.D yang Merekam Dunia

Tiga hari yang lalu saya mengikuti presentasi teman-teman mahasiswa Ph.D Antropologi di Universitas Milano-Bicocca, Milan. Semua mahasiwa Ph.D (mulai tahun kedua) wajib melaporkan perkembangan hasil penelitiannya selama setahun terakhir di hadapan para dosen dan mahasiswa yang lain. Laporan ini sebagai cara untuk menunjukkan bahwa mereka punya perkembangan dalam studinya dan juga sekaligus agar teman-teman yang lain bisa memberikan saran atas apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Seperti biasanya di Eropa, meskipun ini sebuah forum resmi, namun tidak teralu kaku. Para professor enjoy saja duduk berbaur bersama mahasiswa. Tidak ada juga pembukaan resmi oleh pejabat kampus. Saat pembukaan, Dekan program Ph.D yang duduk di kursi paling belakang berdiri dari kursinya dan mengatakan; "ayo kita mulai, silakan!" Acarapun dimulai.

Hari pertama menampilkan lima orang mahasiswa Ph.D yang hampir selesai. Penelitian mereka sudah mencapai babak akhir dan tahun ini adalah tahun terakhir mereka di kampus. Karena itu, presentasi masing-masing mahasiswa agak lama. Satu orang menghabiskan waktu satu jam, termasuk tanya jawab. Hari kedua presentasi dilakukan oleh lima orang, mereka baru sekali ke lapangan dan sudah mulai menulis laporannya. Sementara hari ketiga presentasi oleh enam orang. Mereka juga sudah pergi ke lapangan untuk penelitian pendahuluan, sudah menyiapkan proposal dan merencanakan penelitian lanjutan.

Apa yang menarik dari presentasi ini adalah, penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswi ini (yang umumnya berusia 25 tahunan) bukan di Milan atau Italia. Dari belasan yang presentasi hanya dua orang saja yang penelitiannya di Italia. Selebihnya, mereka melakukan penelitian di mana-mana di seluruh dunia. Di Afrika dan Timur Tengah, mereka melakukan penelitian antara lain di Mesir, Yordania, Yaman, Kamerun. Di Asia mereka melakukan penelitian di Thailand, Jepang dan Cina. Di Amerika Latin ada di Brazil. Ada juga yang di Eropa seperti di Spanyol dan Rusia. Bukan hanya di negara-negara "dunia ketiga" mereka juga melakukannya di negara maju seperti Amerika Serikat.

Mahasiswa muda ini menguasai bahasa negara di mana mereka melakukan penelitian. Saya merasa cemburu ketika melihat mahasiswa yang melakukan penelitian di Timur Tengah sangat fasih bicara bahasa Arab. Saya sendiri yang belajar bahasa Arab sejak sebelum sekolah masih belum bisa hingga sekarang. Atau mereka yang sangat fasih bahasa Jeang, Cina dan Thailand. Padahal saya jadi tetanga negara-negara itu namun sama sekali tidak pahamam apa yang mereka tulis dan apa yang mereka bicarakan.

Coba kita lihat jauh ke depan. Denganc ara seperti ini apa yang akan terjadi di masa yang akan datang? Tidak lain adalah: rekaman peradaban sebuah bangsa. Bangsa-bangsa yang tidak merekam sendiri peradabannya dengan jujur, di masa depan akan harus pergi ke negara lain untuk mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Sebab bangsa lain mengirimakn begitu banyak mahasiswa ke negara mereka sekarang ini untuk belajar. Mereka belajar sambil merekam apa saja yang ada di negara tersebut dalam bentuk penelitian. Penelitian ini pastiu akan terdokumentasikan dengan baik dan akan bertahan dalam waktu yang lama.

Untuk kasus Aceh misalnya, kita harus mengakui Belanda-lah yang sudah merekam Aceh pada abad 19 dan bahkan 20. Saat ini, jika ingin mengetahui Aceh di masa lalu maka tidak ada pilihan kecuali harus pergi ke Belanda. Di sana tersimpan ratusan buku tentang Aceh, baik yang ditulis oleh orang Aceh sendiri atau yang ditulis oleh orang Belanda mengenai Aceh. Saat menulis dulu, mungkin mereka hanya mengungkapkan pengalaman kunjungannya saja, namun kini ia menjadi bukti otentik dari sebuah sejarah perjalanan hidup sebuah bangsa.

Sayang sekali, kesadaran merekam peradaban ini tidak terlalu tumbuh di dunia akademik kita. Penelitian dosen (pengalaman saya cuma di IAIN) sering kali tidak mencoba mengangkat apa yang ada dalam masyarakat, namun malah menunjukkan apa yang baik kepada mereka berdasarkan konsep yang dibangun oleh ulama ratusan tahun yang lalu dan dalam masyarakat yang berbeda. Bukan tidak bagus, namun menurut saya itu tidak akan menjadi sebuahc atatan sejarah yang akan berguna. Apalagi karya Ilmiah bukanlah sebuah analisis kebijakan yang akan menjadi dasar kongkrit dalam menyusun undang-undang. Jadinya, sebuah karya yang demikian akan dismpan di perpustakaan, lalu dibaca oleh para tikus.

Celakanya, peneliti asing datang ke Aceh sepanajng tahun untuk melakukan penelitian. Hasilnya pasti mereka bawa ke negara mereka sendiri. Sementara orang Aceh sendiri tidak melakukannya. Katanya tidak ada dana. Tapi saya tahu sekali kalau banyak peneliti asing yang datang ke Aceh juga dengan dana yang sangat minim. Lantas kenapa kita tidak melakukannya? Karena integitas akademiki di Aceh memang belum sebagus di negara asing. Kita masih belum sadar akan pentingnya mendokumentasikan semua hal yang terkait dengan perkembangan bangsa sendiri. Di masa depan kita mengagungkan sejarah yang penuh mistik dan kebohongan. Persis seperti cerita kesultanan Aceh yang berkembang saat ini, penuh mistis, irrasional dan terlalu banyak hayalan.


No comments:

Post a Comment