Friday, 23 March 2012

Menjadi Pemimpin Bukan Satu-Satunya Cara Membangun

Pembicaraan mengenai kepala daerah sedang hangat-hangatnya kini. Apalagi di Jakarta dan Aceh, dua daerah yang akan melaksanakan Pilkada. Seminar, diskusi hingga depat kusir bisa disaksiakan di mana-mana. Bukan hanya depat dengan kepala, terkadang berdebat melibatkan tangan, melakukan kekerasan dan bahkan pembunuhan. Di Aceh, beragam kekerasan sudah terjadi selama kampanye pemilihan kepala daerah ini. Dari pembunuhan, pembakaran rumah, pembakaran mobil, dan jangan tanya teror melalui SMS dan bahkan secara langsung. Jangan katakan di mana Polisi, sebab polisi memang tidak pernah hadir dalam situasi masyarakat menjadi korban. Semua ini dilakukan hanya karena satu alasan, menjadikan calon kepala daerah pilihannya menjadi pemenang dalam pertarungan pemilihan nantinya. Untuk apa ini semua?

Persepsi Pemimpin adalah Segalanya

Sah-sah saja mengatakan bahwa kepala daerah adalah orang yang menentukan maju-mundurnya sebuah daerah, pun sebuah negara. Sebab di tangannya ada "palu" yang bisa menentukan apakah suatu hal bisa dilaksanakan atau tidak. Jika kepala daerahnya bagus, memiliki komintmen yang bagus, maka semua akan bagus. Sebaliknya, jika kepala daerahnya korup, memiliki komitmen yang buruk dalam pembangunan maka semua akan buruk pula. Apakah ini benar?

Benar atau tidak benar, kenyataannya "paham" inilah yang berkembang di kalangan politisi dan juga masyarakat bawah. Oleh sebab itu, semua muara diskusi yang menjawab pertanyaan "bagaimana membangun suatu daerah" berujung pada "menyampaikan hasil diskusi kepada stakeholder". Rasanya para peserta mereka hasil diskusi mereka tidak akan terlaksana jika tidak diketahui oleh pemimpin. Hanya pemimpin yang bisa melaksanakan apa yang mereka mau. Seolah hanya pemimpin pula yang bisa mewujudkan apa saja yang telah mereka diskusikan.

Pandangan Orang kampus
Hal yang sama juga terjadi di kampus. Rektor, dekan, bahkan ketua jurusan dianggap sebagai posisi yang menentukan perkembangan dan pembangunan kampus. Hanya dengan duduk di salah satu posisi itu saja pembangunan kampus akan bisa diakukan, pengembangan ilmu pengetahuan bisa diwujudkan, atau kampus akan maju jika pemimpinnya juga bagus. Karenanya semua diskusi mengenai bagaimana memajukan kampus selalu berakhir pada bagaimana mempengaruhi pemimpin untuk bisa melaksanakan apa yang dihaslkan dari diskusi tersebut. Bukan hanya dengan menyampaikan langsung, masyarakat kampus biasa juga menyampaikannya melalui tulisan di media.

Persepsi Melahirkan Aksi

Tidak bisa diragukan lagi, persepsi yang demikian melahirkan aksi nyata berupa rebutan menjadi pemimpin. Saat ini bukanlah rahasia lagi kalau banyak orang ingin duduk di kursi empuk kepemimpinan suatu organisasi dan sebuah daerah. Bahkan, jauh hari sebelum pemimpin yang ada saat ini habis masa jabatannya, diskusi mengenai itu sudah dilakukan. Menggalang kekuatan dengan membangun kelomok-kelompok pendukung, membangun jaringan-jaringan, terus dilakukan oleh banyak kelompok. Tidak jarang hal ini dilakukan dengan cara memfitnah, menjelek-jelekkan, bahkan meruntuhkan martabat sesama manusia. Hal ini tidak saja dilakukan oleh orang yang hendak menjadi pemimpin, juga oleh orang yang ingin mempertahankan kepemimpinannya.

Celakanya, orang yang dipimpin juga terlarut dengan apa yang terjadi. Banyak dari mereka ikut menjadi martir untuk kemenangan seorang kepala daerah, untuk menjadi "pejuang" demi membela seorang kandidat yang dianggapnya benar, atau yang membayarnya untuk mengatakan demikian.

Di sisi lain para kritikus juga datang. Kritikus ini datang dari segala kalangan. Ada dari kampus, anak muda, pedagang, praktisi, orang yang tidak jelas pekerjaanya, semua masyarakat. Merasa merasa eksis hanya jika bisa mengkritik pemimpin. Bahkan semakin eksis jika mampu menunjukkan kata-kata pedas, kata-kata pahit dan seram. Semakin pahit kata yang ditunjukkannya ia merasa semakin eksis. Hanya apa yang dia pikirkan saja sebagai yang benar, meskipun pikiranya kadang hanya berasal dari bacaan sebuah berita di koran.

Membangun Tidak Harus memimpin

Saya sangat yakin bahwa ada banyak orang yang berfikir kalau membangun, apapun, tidak harus dengan menjadi pemimpin. Prestasi tertinggi yang dicapai manusia dalam hidupnya bukan dengan menjadi orang nomor satu di sebuah negara, atau nomor satu di sebuah daerah, organisasi, kampus, dan lain sebagainya. Saya salah seorang yang berfikir seperti ini.

Saya sangat tidak pecaya bahwa perubahan akan dilakukan oleh pemimpin. Sama sekali bukan.
Saya tidak yakin bembangunan hanya bisa dilakukan oleh presisden, kepala daerah, rektor, bos, direktur, apalagi seorang lurah. Sama sekali bukan.
Saya sangat tidak percaya kalau seorang tukang tambal ban di pinggir jalan tidak bisa mengubah wajah kota. Justru sebaliknya!
Saya tidak akan pernah setuju mengatakan seorang pemimpinlah yang bisa menentukan segala arah langkah sebuah organisasi, besar dan kecil.

Sebalik dari semua itu saya yakin bahwa semua orang yang ada dalam sebuah negara, sebuah provinsi, sebuah kampus, memiliki kesempatan yang sama untuk mengubah wajah organisasi dan lembaga dengan tanpa harus menjadi pemimpin, bahkan tidak perlu terkait dengan pemimpin "resmi". Saya sangat-sangat percaya bahwa semua orang punya kemampuan yang luar biasa untuk membangun sebuah negara tanpa harus jadi presiden, membangun daerah tanpa harus jadi gubernur, membangun kampus tanpa harus menjadi rektor, dan lain sebagainya.

Caranya, dengan melakukan hal terbaik yang kita bisa, dalam posisi kita sendiri. Seornag penulis bisa mengubah Indonesia dengan berusaha menulis sesuatu yang baik, yang bermanfaat, yang mengispirasi. Seorang akandemisi bisa melahirkan karya-karya yang berbobot memalui penelitian yang serius. Seorang warga negara biasa, bisa mengubah indonesia dengan memberikan hal yang terbaik yang bisa dilakukannya. KAtakanlah seroang juru parkir. Ia akan mengubah sebagain wajah negara saat ia bisa bertindak dengan baik dalam melaksanakan pekerjaannya. Semua orang akan memberikan kontribusi yang baik bagi perubahan dan pembanguna jika ia mampu mengubah moralnya.

Bagi saya perubahan moral, cara berfikir dan bertindak, tidak lah sepenuhnya tergantung pada pemimpin. Ada banyak orang besar yang pernah hidup di dunia ini tanpa menjadi pemimpin formal, pun di bawah pemipin yang baik.Ada banyak toko perubah di dunia yang menjadi besar tanpa duduk sebagai orang nomor satu di pemerintahan atau organisasi. Ada ribuan orang sukses di dunia ini berasal dari sebua organisasi dengan pemerintahan yang busuk. Hanya karena ia sendiri, secara pribadi, melakukan hal yang terbaik, ia keluar dari sistim buruk itu dan mengubah lingkungannya meskipun ia tidak memimpin.

Kesimpulannya: Cara lain membangun adalah memastikan secara personal anda melakukan yang terbaik dalam hidup anda sendiri dan tidak menyalahkan orang lain atas hal yang belum anda peroleh.

2 comments:

  1. Setiap dari kita adalah pemimpin. Pemimpin bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitarnya.

    ReplyDelete
  2. kemajuan merupakan bentuk ide kreatif dari seseorang.

    ReplyDelete