Friday, 16 March 2012

Jalan Menuju Milan

Ini postingan ke sekian kali di sini. Sebelumnya sudah ada beberapa tulisan mengenai ini tapi masih terasa kurang pas buat sebuah momen yang akan kujalani insyaallah beberapa tahun ke depan: Belajar di Milan! Sungguh, ini perjalanan dan pengalaman baru yang takkan pernah kulupakan. Aku tidak bisa katakan ini pengalaman terbesar, sebab ukuran besar sebuah pengalaman selalu relatif. Tidak ada yang besar dan kecil, yang ada hanyalah bagaimana kita mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut. Dan aku akan mencoba belajar dari pengalaman ini.

Kenapa ke Milan?

Aku juga menanyakan hal yang sama. Kenapa harus belajar ke Milan? Apalagi yang akan kupelajari adalah antropologi. Entah kalau belajar mode, fasion, desain, dll. Tapi ini antro, ilmu yang tidak cocok dengan style Milan yang selama ini dikenal sebagai kota mode yang glamour. Sementara antro identik dengan ilmu masyarakat tertinggal, suku-suku terasing, masalah-masalah rill di level komunitas perkampungan. Suatu yang aneh. Menurutku dan menurut banyak teman-teman.

Tapi ini sudah terjadi. Sekarang alhamdulillah perjalanan sudah dimulai, dan pengalaman akan harus terus kucatat. Aneh atau tidak, salah atau benar, tepat atau keliru, proses ini akan saya jalani, insyaallah dengan sepenuh hati dan tekat besar untuk sukses. Mudah-mudahan Allah memudakan segala perjalanan ini, amin...

Tapi sedikit aku ceritakan di sini, kenapa aku bisa "terdampar" di Milan.

Ceritanya panjang. Tidak cukup halaman blog ini untuk merekamnya. Kalau dibuat sintron mungkin perlu 100-an episode. Apalagi sintron yang selalu mengulur-ngulur waktu, tidak padat, asal-asalan, tidak mendidik, mungkin butuh 200 episode. Hahahah. kenapa malah bicara sinetron?

Oke, kembali ke laptop. Kenapa bisa terdampar di Milan?
Ceritanya, aku harus akui sepenuh hati, secara jujur dan apa adanya. Dari lubuk hati terdalam, aku ingin kuliah ke luar negeri. Bukan di dalam negeri tidak bagus, tidak berkualitas, tidak mengajarkan hal yang kucari, bukan itu alasannya. Keinginan ini murni untuk pendidikan dan jalan-jalan. Bagiku, belajar di luar negeri bukan hanya sebuah usaha mendapatkan pengetahuan, namun juga sebuah pendidikan sepanjang jalan. Perjalanan jauh, kata pepatah, mengajarkan banyak hal: jauh berjalan banyak dilihat. Banyak dilihat banyak tahu. banyak tahu, banyak ilmu. banyak ilmu makin maju. Kira-kira begitu.

Lalu kenapa ke Milan?
Keinginan untuk belajar di luar negeri ini sangat kuat, lebih kuat dari keinginan apapun yang pernah saya miliki. Setiap hari, setiap malam, setiap ada kesempatan, saya sering membayangkan sebuah perjalanan yang luar biasa, perjalanan ke luar negeri. Terkadang ini memalukan, sebab bagi orang-orang seperti saya, berasal dari pedalaman, keluarga kecil pedesaan, tidak berprestasi di sekolah, lulus di kampus dengan IPK alakadarnya, perjalanan ke luar negeri sebenarnya adalah sebuah hayalan sulit, dan mimpi di siang bolong. Tapi saya jujur mengakui, bahwa itu bisa menjadi nyata.

Sayang seribu sayang, persyaratan penting untuk pergi ke luar negeri tidak saya miliki: Kemampuan berbahasa Inggris! Sebab semua pintu beasiswa menuju ke sana dibubuhi sebuah syarat itu, TOEFL 550! Jumlah yang berat bagiku. Meskipun aku sudah belajar bahasa inggirs sejak MTs, tapi jumlah TOEFL seperti itu tidak pernah bisa kugapai.

Aku sedikit mengeluh dengan kenyataan ini. Sebab ada beberapa teman yang memiliki nilan TOEFL bagus, namun ia tidak memiliki pengalaman penelitian, pengalaman berorganisasi, pengalaman memfasilitasi masyarakat, dan pengalaman sosial lainnya. Hanya karena nilai bahasanya bagus, ia lantas bisa kuliah di luar negeri di jurusan apapun yang ia sukai. Bahkan di jurusan yang sebelumnya tidak terkait sama sekali dengan pendidikannya. Ukurannya hanya satu, kemampuan berbahasa Inggris.

Lantas, aku yang merasa selama ini punya sedikit pengalaman bermasyarakat lebih banyak dari sebagian teman, kenapa tidak bisa melanjutkan pendidikan ke sana? Hanya karena bahasa Inggris? Itu suatu alasan yang sungguh sangat menyakitkan! Sebab bahasa adalah sebuah keterampilan yang perlu di asah. Seharusnya, tes masuk beasiswa ke luar negeri bukan hanya bahasa Inggris, tapi juga pengalaman penelitian, penglaman menulis, memfasilitasi masyarakat, dll. Lalu kalau sudah lewat, baru bahasa Inggrisnya dilatih sampai bisa.

Oke, lalu kenapa ke Milan?
Lalu saya sedikit marah. Saya katakan hal ini kepada banyak orang, termasuk sedikit kenalan dari luar negeri. Saya kataan juga kalau saya mau belajar ke sana. Beberapa teman merespon positif, beberapa yang lain menganggap saya salah alamat. Ada juga yang menyarankan saya agar terus belajar bahasa inggris. Saya merasa malu sendiri sambil diam-diam terus belajar, walaupun tidak serius. Tentang usia? saya merasa masih terlalu muda di usia 30 tahun saat itu.

Saya sangat terbantu berkenalan dengan banyak orang saat saya bergabung bersama Aceh Research Training Institute (ARTI) dan International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) selama dua tahun. Di sana saya berkenalan dengan banyak orang yang selama ini hanya saya dengar namanya, atau saya baca bukunya. Sebut saja beberapa diantaranya: Anthony Reid, Harold Crouch, Leena Avonius, Michael dan Barbara Leigh, Laura Yoder, David Cauvel, David Reeve, Minako Sakai, Edward Aspinal, Harry van Klinken dan Silvia Vignato. Dari Indonesia saya bersyukur bisa akrab dengan Eka Srimulyani, Moch. Nur IChwan, Arskal Salim, Adlin Sila, Irwan Abdullah, Pujo Sumedi, Argo Dwikromo, M. Amin Abdullah dan sejumlah guru besar di IAIN Ar-Raniry, di mana saya bekerja.

Dari mereka saya belajar banyak hal, bukan hanya ilmu penelitian, tapi juga tentang semangat, tanggung jawab, koitmen, idealisme, dan terutama, cinta. Dari mereka juga saya banyak tahu tentang belajar di Luar negeri. Dan itu semakin membuat semangat saya belajar ke sana menjadi membara. Rasanya, saya ingin besok sudah berangkat, sesuatu ayng tidak mungkin terjadi.

Kesempatan terbaik yang saya manfaatkan dengan baik pula datang dari jalinan pertemanan ini. Adalah Ibu Silvia Vignato yang menawarkan saya mengikuti seleksi di kampusnya, di Universita degli Studi di Milano-Bicocca. Sebuah kampus yang baru berusia 15 tahun di Milan, Italia. Hati siapa yang tidak tertarik? saat saya begitu berharap bahkan terbawa mimpi untuk belajar di luar negeri, saya malah ditawarkan belajar ke sana tanpa menanyakan apakah saya bisa bahasa Inggris atau tidak, berapa nilai TOEFL saja, berapa banyak karya saya, berapa kali saya ikut konferensi internasional, dll. Sungguh, ini adalah durian runtuh!

Tidak perlu jeda waktu. Saya langsung mengatakan kalau saya bersedia. Apalagi belajar antropologi, ilmu yang belakangan membuat saya penasaran dan ingin mendalaminya. Bahkan saya sudah ikut pelatihan antropologi etnografi di sebuah dusun pedalaman Jawa Tengah di bawah bimbingan Bapak Pujo Sumedi. Dan kini saya ditawarkan belajar antropologi di program Ph.D di sebuah universitas di Milan. Alhamdulillah ya Allah, sungguh sebuah rezeki yang tidak terduga.

Namun tawaran itu hanyalah sebuah tahap awal yang belum menjamin apa-apa. Saya harus melewati serangkaian proses administrasi untuk memastikan saya bisa berangkat ke sana. Antara lain, mengikuti seleksi administrasi yang dilakukan oleh pihak universitas. Untuk itu saya harus menerjemahkan semua dokumen ke dalam bahasa Italia, termasuk ijazah, transkrip nilai, dan beberapa dokumen lain. Ini membawa saya berkenalan dengan beberapa rekan di Instituto Italiano di Cultura (IIC) di Jakarta. Syukur alhamdulillah, beberapa rekan di sana sangat membantu saya dan memudahkan saya mengurus semua keperluan untuk pendaftaran itu.Terima kasih saya yang sebesar-besarnya untuk Laila, staf di IIC Jakarta.

Setelah saya mendaftar dan dinyatakan lewat, masalah timbul lagi. Dari mana biaya studi di sana? Jelas, IAIN ar-Raniry, tempat saya bekerja tidak punya uang untuk menyekolahkan saya. Apalagi bisa sendiri. Ini bukan pergi ke Indrapuri di mana kalau kita kelarapan bisa minta makan sama warga. Ini ke Milan, negeri entah berantah yang selama ini hanya saya dengar dan saya kenal karena ada klub bola; AC Milan dan Inter Milan. Pasti butuh dana banyak.

Dalam kegalauan seperti ini, Ibu Leena dan Ibu Silvia membantu saya. "Kita akan coba meminta Komisi Beasiswa Aceh (KBA) membantu studi kamu di Milan". "Kita", jadi bukan saya sendiri yang akan mengurusnya, mereka akan membantu. Saya juga melaporkan masalah ini kepada bapak Luthfi Aunie, PR II IAIN Ar-Raniry. Beliau mengatakan akan emmbantu saya mendapatkan beasiswa. Dan benar saja, mereka menghubungi KBA dan merekomendasikan saya untuk mendapatkan beasiswa S3 di Milan. Biasanya, untuk mendapatkan beasiswa S3, seseorang harus mengikuti proses seleksi dan pergi ke negara yang sudah ditetapkan oleh KBA sendiri. Namun dalam kasus saya, saya sungguh bersyukur mendapatkan sedikit pengecualian. Hal ini semakin mudah saat rektor IAIN Ar-Raniry dan jajarannya memperkuat argumen Leena dan Silvia dengan menyatakan kalau di IAIN masih sangat dibutuhkan dosen antropologi agama. Alhamdulillah, KBA mendanai saya.

Dan sekarang sebagian dari mimpi saya sudah terwujud. Alhamdulillah saya kini sudah di MIlan, mulai belajar, mulai mencari pengalaman baru, mulai menjajaki wacana baru, dan mulai mengisi diri dengan semangat baru. Semoga allah mudahkan semua urusan saya dselama di sini, dan memudahkan saya mendapatkan dan menerima ilmu pengetahuan. Amin

4 comments:

  1. Alhamdulillah.....sampai juga cita-cita kawanku ini kuliah di luar negeri, Italia lagi, seru sekali....selamat. Banyak jalan menuju Roma

    ReplyDelete
  2. ooo,begitu ceritanya..mantap,pak! :)

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Keren kak, aku juga pingin kaya kakak. Belajar di Milan pakai beasiswa :)

    ReplyDelete