Monday, 5 March 2012

Ketika Milanese Meneriakkan “Boikot Israel, Bebaskan Palestina!”


Sabtu (03/03), saat sedang jalan-jalan di pusat kota Milan, saya melihat ada banyak polisi anti huru hara yang berdiri di beberapa ruas jalan. Perasaan saya tidak ada yang aneh dengan suasana kota sore itu, semua berjalan seperti biasa. Karena merasa tidak ada masalah, saya lanjutkan aksi jalan-jalan cuci mata. Tapi beberapa menit saya meninggalkan rombongan polisi yang nampaknya sedang berjaga-jaga itu, saya terkejut dengan suara dentengan lonceng yang sahut-menyahut dari arah saya datang. Saya balik lagi ke belakang, ternyata ada ratusan orang sedang menggelar demonstrasi!

Saya mencoba kembali ke jalan semula dan mendahului rombongan pendemo supaya bisa mebaca poster dan spanduk yang mereka bawa. Belum sempat saya dahului, mereka sudah berhenti di depan katedral Duomo, bangunan peninggalan abad pertengahan yang kini menjadi simbol kota Milan. Di sana mereka menggelar orasi bergantian, dan membentangkan spanduk yang berisi berbagai macam aspirasi. Mereka juga membawa beberapa foto, beberapa bendera negara asing (negara non-Italia), dan beberapa simbol negara tertentu.

Saya tidak tahu pasti dari kelompok mana pendemo ini. Namun dari cat di muka beberapa demonstran, bendera, dan tulisan di mobil yang dihiasi dengan tulisan “no tav”, nampaknya ini kelompok mayarakat pendukung ide sosialis di Milan. Sebelum ini, saya pernah melihat juga, mereka melakukan demo kepada pemerintah Italia menuntut pembukaan lowongan kerja yang lebih banyak dan meninkatkan standar upah. Kelompok ini memiliki hubungan dekat dengan Partai Komunis Italia yang belakangan sedang berkampanye anti liberalisme dan pasar bebas.

Isue paling penting yang diteriakan dalam demonstrasi ini adalah pembebasan Palestina dan beberapa negara lain yang saat ini berada di bawah “penjajahan” Amerika dan Israel. Menurut demonstran, hak untuk mengatur sebuah negara dengan batas teritorial tertentu ada pada manusia yang didup dalam teritorial tersebut, tidak ada urusan dengan bangsa lain. Peran Amerika dan Israel selama ini dianggap oleh demonstran telah menjadi dasar ketidakamanan dunia. Ketakutan akan perang dan kekacauan bukan lagi disebabkan oleh terorisme kelompok tertentu, namun oleh berbagai statemen dan kebijakan politik luar negeri Amerika dan Israel di media masa.

Oleh sebab itu, demi keamanan dunia dan menghargai hak rakyat pemilik suatu negara, sudah saatnya negera-negara yang berada dalam penjajahan Amerika dan Israel diberikan hak untuk merdeka segera. Beberapa negara yang mereka teriakkan dalam demonstrasi kemarin adalah: Palestina, Suriah, Kolombia, dan Kuba. Namun penekanan paling penting nampaknya pada Palestina. Spanduk yang meneriakkan kemerdekaan Palestina jauh lebih banyak dibandingkan dengan spanduk lain yang dibawa oleh demonstran. Bahkan, teriakan “Boicott Israel, Palestina libera” menggema di sepanjang demonstrasi ini dilakukan.

Bagi saya ini menarik sebab banyak orang yang saya kenal menempatkan isu Palestina sebagai isue keagamaan bukan kemanusiaan. Karena yang dikedepankan isue perebutan masjid bersejarah yang berdiri di sana. Oleh sebab itu sering kali dukungan buat pembebasan Palestina hanya diikuti oleh kalangan dari agama tertentu saja. Buruknya lagi, di Indonesia, pendukung pembebasan Palestina adalah masyarakat dari partai politik tertentu sehingga kerap dilihat sebagai kepentingan politik pula. Jadinya, dukungan pada pembebasan Palestina di Indonesia sangat kecil dan tidak kuat. Padahal, dalam posisinya sebagai negara besar, seharusnya Indonesia bisa memainkan peran yang lebih besar dalam membantu Palestina merdeka.

Andai alasannya “kemanusiaan”, seperti yang diteriakkan dalam demonstrasi di Milan ini, mungkin dukungan dari masyarakat Indonesia akan berbeda. Sebab demi kehidupan semua manusia, maka sudah seharusnya semua orang peduli dengan nasib Palestina, bukan hanya agama tertentu saja apalagi partai politik tertentu saja. Di Palestina hidup manusia dengan berbagai agama, Islam, Kristen dan Yahudi. Semua mereka terancam dan hidup tidak nyaman di negara mereka sendiri. Semua mereka pasti tidak menginginkan perang dan menginginkan negara yang merdeka. Adanya beberapa “perselingkuhan” yang dilakukan pejabat Palestina dengan kepentingan asing di sana tidak menjadi dalil untuk mengatakan Palestina tidak bisa mendapat dukungan untuk menjadi sebuah negara merdeka. Bagaimanapun mereka punya sejarah, dan mereka adalah pimilik sah tanah Palestina. Bangsa asing wajib minggir dari sana dan pulang mengurus rumah tangga mereka sendiri.

1 comment: