
Si Birah punya obsesi besar untuk menjadi raja di atas raja-raja lain yang ada di kampung tetangga. Apalagi konon di kampung tetangga rajanya bukan dari kalangan ayam jago. Sebagian dari bangsa burung, sebagian kambing, sebagian kerbau. Namun ia tidak peduli, ia yakin akan mengalahkan mereka semua. Karena itu ia menyiapkan berbagai perlengkapan perang untuk penyerangan kampung tetangga. Dengan kedigdayaan senjatanya, Si Birah dan pasukannya dapat menaklukkan satu persatu kampung-kampung itu. Hingga lama kelamaan ia benar-benar menjadi raja di atas raja-raja. Raja diraja.
Menjadi raja diraja membuat Si Birah merasa banyak musuh. Ia terus merasa berbagai bangsa, berbagai suku hendak menghancurkan dan merebut kekuasaannya. Ia menjadi sangat protektif menjaga kekuasaannya. Setiap orang yang dianggap melanggar hukum lantas disiksa dengan siksaan yang berat, apakah hukuman itu sesuai dengan aturan atau tidak, itu bukan masalah baginya. Ia, dengan kekuasaannya, dapat membuat hukum sendiri. Kalau ia keliru, para ulama, para cendikiawan, para cerdik pandai dan perangkat adat akan membenarkannya. Dan sejarah tentang Si Birah ditulis oleh mereka yang ada di sekitarnya.
Namun umur ayam tidaklah lama. Masa kegemilangan itu akhirnya hancur. Kekuasan Si Birah diwariskan pada anak cucunya. Namun mereka tidak sejago Si Birah. Apalagi, sebuah bangsa entah dari mana datang menyerang. Berbagai pasukan dikerahkan, berbagai senjata dikeluarkan, namun pasukan asing itu tetap tak terkalahkan. Meskipun pasukan asing itu tidak mampu menduduki kampung Si Birah, namun kekuasaan keturunan si Birah sudah hancur lebur. Mereka terpencar ke mana-mana. Hingga beberapa tahun kemudian sulit menentukan apakah Si Birah benar-benar punya keturunan atau tidak.
Pada suatu masa, kampung Si Birah dianggap terlalu lemah. Ia dianggap tidak pantas menjadi kampung dengan pemerintahan sendiri. Lantas entah ide siapa, kampung si Birah masukkan sebagai sebuah dusun kecil di dalam sebuah kecamatan yang lebih besar. Beberapa sisa pasukan Si Birah mencoba berontak. Mereka merasa di hina diturunkan derajat dari sebuah kampung menjadi sebuah dusun. Sayangnya, pasukan ini bukanlah pasukan si Birah. Lambat laun mereka takluk. Bukan takluk dalam perang, tapi menyerah di meja perundingan. Sesuatu yang jika Si Birah masih hidup pasti akan dikutuknya.Namun sayang Si Birah sudah tiada. Kini, orang-orang yang mengatasnamakan generasi penerusnya berselemak dengan jabatan, pangkat, dan kekuasaan yang diperoleh sebagai imbalan terima kasih dari bangsa lain.
Belakangan, entah dari mana mulainya, mereka bicara lagi tentang Si Birah. Konon katanya, meskipun kini bukan kampung lagi, namun perlu "Si Birah" baru. Si Birah baru tidak lagi punya kuasa untuk berperang, namun ia akan memimpin adat, mengawal budaya, menjadi panutan anak negeri. Mereka menggambarkan Si Birah demikian heroik, demikian besar, demikian agung, hingga hampir tidak ada cacat padanya. Si Birah yang dulu ayam jago biasa, sekarang terlahir dalam wujud ayam suci.
Namun nak, kata Lem Baka, ketahuilah itu hanya akal-akalan orang-orang yang hendak menjaga kekuasaannya semata.
Lem Baka bercerita dengan penuh emosi. Entah anaknya mengerti entah tidak, dia tidak peduli. Sebuah dagelan sejarah tentang Si Birah sedang berlangsung di depan mata.