Friday, 13 June 2008

Tasawuf Sebagai Pisau Bedah Problem Sosial

Berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan sosial kita saat ini memerlukan solusi yang mengakar. Usaha yang ditempuh selama ini senderung hanya sebagai upaya menghapus masalah-masalah yang muncul ke permukaan saja. Padahal di dalamnya masih berakar sejuta potensi masalah yang mungkin akan tumbuh dan menjadi masalah baru. Dengan solusi yang instan dan tidak mengakar, maka masalah yang sama akan tetap muncul. Habislah uang, habis tenaga, habis waktu untuk mengurus hal yang sama. Masalah yang muncul itu-itu saja (ata sot-sot), sehingga yang menangani menjadi bosan dan pada tahap tertentu cenderung membiarkan saja.

Dalam analisis akar masalah, problema sosial yang ada saat ini sering hanya dikaitkan dengan material dan pembangun fisik saja. Kemiskinan dikaitkan dengan ketaksanggupan individu dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan dirinya. Kriminal dihubungan dengan keinginan mendapatkan harta dengan cara yang mudah. KKN dihubungkan dengan praktik di belakag meja dalam rangka mengalihkan pemamfaatan uang negara yang sejatinya diperuntukkan untuk masyarakat banyak menjadi pemanfaatan untuk diri sendiri atau kelompoknya. Ini adalah pandangan-pandangan yang menempatkan masalah sosial hanya dalam dimensi material. Seolah semua masalah yang ada saat ini dipacu oleh ketidakcukupan materi yang dimiliki oleh pelaku kejahatan tersebut.

Karenanya, penyelesaian yang dilakukan juga kerap dalam perspektif ekonomi. Pengucuran dana bergulir, kredit uasaha, hibah, livelihood, modal usaha kecil, dan lain sebagainya. Di level yang lebih tinggi “perbaikan sistem,” pengawasan lembaga tetentu, lembaga anti korupsi (KPK), auditor independen, dan lain sebagainya. Mereka ingin memastikan bahwa uang negara benar-benar dimanfaatkan untuk mensejahterakan rakyat, untuk pelayanan publik, dan untuk pembangunan falitas umum yang menunjang pembangunan masyarakat secara keseluruhan.

Padahal, masalah esensi yang memicu segala perilaku yang merugikan orang lain, baik secara individual atau kelompok, justru ada dalam diri pelaku, yakni akhlak. Akhlak yang tidak baik (akhlak al-mazmumah) merupakan cerminan hati yang tidak memiliki kesadaran spiritualitas yang padahal diajarkan dan menjadi ruh dalam beragama. Dalam Islam kita mengenal tasawuf, sebagai dimensi batin agama yang mengajarkan dasar pola hubungan eksoterik manusia dengan Tuhan, membersihkan hati, besikir dan kontemplasi.

Redefinisi Tasawuf
Banyak orang menganggap bertasawuf sama dengan bertariqat, melakukan suluk dan bertapa (meutapa) di gua atau di dalam hutan. Perilaku sufi juga dihubungkan dengan perilaku seseorang yang selalu membawa buah tashbih, memakai jubah dan kerudung Arab, mencium tangan mursyid/guru dengan ta’zim, jenggotan dan selalu menunduk tatkala berjalan. Padahal ini adalah penampilan lahiriah semata, bukan esensi dari tasawuf. Orang seperti ini merupakan kelompok yang menggunakan simbol-simbol untuk menyatakan kesufian mereka dalam kehidupan sosial. Sementra esensi tasawuf adalah hati, spiritualitas, kedekatan diri dengan Allah. Simbol tetaplah simbol, ia tidak mendapatkan nilai di sisi Allah. Allah hanya menilai hati yang ada dalam dada si pengguna simbol.

Tasawuf tidak terlepas dari posisi manusia yang memiliki dua unsur; khalq dan khuluq. Dimensi khalq merupakan posisi manusia sebagai ciptaan Tuhan yang bersifat ragawi, fisik, materi, jasmani. Manusia memiliki tubuh materi yang perlu dibersihkan, diberi makan, dilatih dan lain sebagainya. Dimensia khuluq (bentuk tunggal dari akhlaq yang artinya etika) mengacu pada posisi manusia sebagai makhluk yang bersifat immateri, ruhani, jiwa. Tasawuf menempati posisi terakhir ini. Jadi, bertasawuf adalah upaya yang dilakukan manusia untuk menyempurnakan peran keruhaniannya agar selalu bersesuian dengan tuntunan yang telah diberikan Allah dan Rasul-Nya. Atau dalam istilah agama disebut dengan itmamul akhlak. Inilah yang menjadi misi kerasulan Nabi Muhammad, innama bu’itstu liutammima makarimal akhlak, (sesungguhnya akau diutus untuk menyempurnakan akhlak).

Unsur materi yang ada dalam diri manusia cenderung membawanya kepada kemungkaran dan kekufuran kepada Allah. Materi mendorong manusia untuk melakukan berbagai pelanggaran sunnah-Nya, dan melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran-Nya. Kecenderunagn ini semakin kuat dengan pengaruh syaitan yang menginginkan manusia selalu mengingkari Allah, dan menjadi bagian dari komunitas mereka dalam menentang kehendak Allah. Dengan demikian, maka ia selalu mengajak, membujuk, merayu manusia agar senantiasa melakukan perbuatan yang ingkar dari ajaran yang benar sebagaimana diperintahkan Allah.

Menyempurnakan akhlak berarti meminimalisir kecenderungan unsur materi seperti di atas dari melakukan perbutan yang bertentangan dengan ajaran Allah. Dengan demikian manusia dapat mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Sebab Ia Maha Sempurna, karenanya hanya manusia “sempurna saja” yang bisa datang ke hadirat-Nya. Semua manusia bisa mendapatkan kesempurnaan, sebab Allah sudah takdirkan demikian. Yang diperlukan adalah mujahadah dalam menggapai kesempurnaan tersebut, yang harus dilakukan berulang dan terus menerus. Sebab mustahil mendekati Allah dengan unsur materi menguasai diri manusia tersebut. Dia adalah Zat non materi, karenanya hanya dari unsur non materi yang ada dalam diri manusia pula manusia akan dapat menjumpainya.

Wujud nyata dari usaha ini adalah melaksakan perbuatan terpuji dalam kehidupan sosial manusia sebagai implementasi dari ketaatan seorang hamba kepada-Nya. Dalam al-Qur’an Allah menyatakan; “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Perbutan terpuji tentunya perbuatan yang baik (amalan shalihan), atau apa yang disebutkan Rasulullah dengan istilah “Ihsan” dalam sabdanya; “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya, dan jika kamu tidak mampu melihat-Nya, maka Ia melihatmu.” Dalam hal ini Rasul menekankan kehadiran Allah dalam setiap peribadatan yang dilakukan oleh seorang muslim kepada Allah. Dan sesungghnya sepanjang hidup manusia itu adalah ibadah. Dengan demikian, setiap saat, setiap tempat, seorang muslim mesti “melihat Allah” atau setidaknya menyadari kalau Allah melihat apa saya yang sedang dilakukannya.

Dalam wacana keagaaan Islam, hal tersebut di atas dikenal dengan wujud kesadaran sufistik. Kesadaran ini memastikan setiap hamba akan menjadi pengontrol bagi dirinya sendiri dalam melakukan segala perbuatan. Ia memastikan setiap perbuatan dan pekerjaannya dalah wujud dari ibadah dan pengabdian kepada Allah. Karenanya, ia akan senatiasa menanyakan, apakah apa yang dilakukannya telah sesuai dengan apa yang ditetapkan Allah? Apakah apa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan ajaran Allah? Apakah ini bermanfaat bagi manusia? Dan lain sebagianya. Karenanya, jelas, seseorang yang memiliki kesadaran sufistik tidak akan melakukan sebuah perbuatan kecuali ia memastikan perbuatan tersebut akan mendatangkan ridha Alah kepadanya, dan akan mendekatkan dirinya kepada Allah.

Tasawuf Solutif
Dalam konteks seperti di atas, maka dalam hemat saya tasawuf dapat menjadi pisau bedah persoalan sosial yang terjadi dalam masyarakat kita saat ini, yang digunakan seiring dengan solusi lain yang telah dilakukan. Sebab kalau kita perhatikan, kita hayati, berbagai persoalan sosial yang ada dalam masyarakat saat ini berkaitan erat dengan perilaku manusia secara personal. Meskipun banyak faktor eksternal yang menjadi penyebabnya, namun rendahnya kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan mereka mejadikan mereka melakukan kejahatan. Pembunuh, pemerkosa, pelaku KKN, manipulasi data dan lain sebagainya dilakukan oleh seseorang yang merasa Tuhan tidak melihat apa yang mereka lakukan. Dengan demikian, maka ia merasa bebas melakukan apa saja, tanpa khawatir akan adanya Tuhan yang menyaksikan mereka.

Kesadaran akan kehadiran Tuhan akan menjadikan manusia berfikir tujuh kali sebelum melakukan suatu kesalahan. Seorang koruptor akan berkaca pada hatinya, akan berfikir bagaimana jika orang akan tahu apa yang ia lakukan, bagaimana kalau perbuatannya terbongkar, bagaimana rasa malu ia dan keluarga di hadapan masyarakat, bagaimana kalau media mengekspose perbuatannya, dan sederetan pertanyaan instrospektif lainnya. Kalau ia benar-benar merasa dekat dengan Allah, merasa beriman dengan iman yang benar, maka ia akan mengundurkan niatnya untuk melakukan perbuatan tercela.

Ini tentu saja tidak mudah, tidak segampang membalik telapak tangan. Yang paling utama dalam hal ini adalah usaha individual manusia sendiri dalam memperbaiki dirinya. Usaha tersebut akan tumbuh melalui pengkondisian eksternal yang dilakukan bersama-sama yang tidak bersifat memaksakan. Kesadaran yang tumbuh ini akan jauh lebih efektif dari ratusan pasal dalam UU dan Qanun yang ada. Sebab tatkala hati sudah dikuasai oleh iman, maka penyelewengan pasti tidak akan dilakukan. Wallahu’a’lam.


1 comment:

  1. Redefinisi Tasawuf
    Banyak orang menganggap bertasawuf sama dengan bertariqat, melakukan suluk dan bertapa (meutapa) di gua atau di dalam hutan. Perilaku sufi juga dihubungkan dengan perilaku seseorang yang selalu membawa buah tashbih, memakai jubah dan kerudung Arab, mencium tangan mursyid/guru dengan ta’zim, jenggotan dan selalu menunduk tatkala berjalan. Padahal ini adalah penampilan lahiriah semata, bukan esensi dari tasawuf. Orang seperti ini merupakan kelompok yang menggunakan simbol-simbol untuk menyatakan kesufian mereka dalam kehidupan sosial. Sementra esensi tasawuf adalah hati, spiritualitas, kedekatan diri dengan Allah. Simbol tetaplah simbol, ia tidak mendapatkan nilai di sisi Allah. Allah hanya menilai hati yang ada dalam dada si pengguna simbol.

    afwan sebelumnya.. saya sangat tidak sependapat dengan beberapa kalimat diatas. Perbuatan sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah berbagai macam, termasuk yang dimaksud diatas. ini adalah adab dalam berthariqah dan mengamalkan tasawuf. jangan pernah anggap ini sia2 atau bahkan tidak mendapatkan nilai di sisi Allah. bagaimana mungkin penulis berani mengatakan demikian.. apakah penulis bisa melihat dada para sufi dengan simbol2nya dan mengatakan apa yang mereka perbuat tidak bernilai disisi Allah.. saya sangat menyayangkan kalimat itu.
    kita belajar tasawuf harus mengerti adab, harus mengikuti guru/mursyid. definisi2 diatas hanyalah hakekat ilmu tasawuf. itu benar, tapi jangan pernah menyalahkan adab dalam belajarnya.
    banyak orang belajar tasawuf tapi menolak dunia sufi.. mereka memisahkan tasawuf dari dunia tarekat.. inilah kebodohan keilmuan saat ini.
    ingin merasakan kenikmatan buah mangga tapi hanya melihat dan mencium kulitnya. tidak memakan dan merasakan kenikmatan dari setiap daging buahnya.
    para sufi tidak hanya memakan buah dan melihat bijinya, tapi juga bisa mengetahui hakekat bagaimana buah ini tumbuh dari sebuah bijike pohon dan berbuah. Inilah pengetahuan sirr..
    mudah2an penulis lebih banyak belajar lagi..
    salam

    ReplyDelete