Friday, 13 June 2008

Berziarah Ke Makam Tuanku Guru: Satu Pagi di Makam Syaih Kuala

Tadi pagi, sepulang dari ambil baju di temapt nyuci, aku menuju Deah Raya, sebuah kampung nelayan di pinggiran Banda Aceh. rencananya hanya mau meinum pagi di sana sambil menikmati pemandangan laut dan kesibukan nelayan. Memang, sebenarnya aku memendam hasrat melakukan penelitian di desa ini mengenai Adat Meulaot (adat melaut), namun belum kesampaian. Padahal aku sudah budat rencana-rencana aksi sesederhana mungkin yang tidak membutuhkan waktu khusus. Kongkritnya, aku ingin melakukan penelitian etnografi sederhana di sana. Tapi aku belum mulai. Insyaallah suatu saat.

Aku ke sana dengan tas baju yang masih dipunggung. Memang sebelum berangkat ke tempat menyuci aku sempat selipkan kamera di saku tas. Sebab aku memang berencana ke Deah Raya untuk minum kopi. Santai sedikit, hari minggu.
Aku melaksanakan niatku. Memacu kenderaan menuju Deah. Sayangnya, warung kopi tujuanku sedang penuh. Tidak ada kursi kosong yang strategis. Aku jadi tidak menentu. Mau balik lai tanggung. Tersirat niat melanjutkan perjalanan ke Makam Syiah Kuala. Tidak jauh lagi dari sana. Dan di komplek pemakaman Syaih Kuala, di sana ada beberapa warung kopi. Kukira di sana jga menyenangkan karena sama-sama dekat pantai. Bedanya, di sana tidak ada nelayan yang turun ke pantai.
Kunjungan Dari Sumbar
Sesampai di komplek pemakaman, aku menemukan delapan buah mini bus berderetan. Beberapa orang berserban berjalan-jalan di sekitarnya. Ada juga perempuan berjilbab dan berjubah. Beberapa diantanya masih muda, namun lebih banyak yang sudah tua. Ketika aku sampai, beberapa orang tua keluar dari komplek makam dengan membawa seember air. Stiap bus memiliki spanduk yang bertuliskan “Rombongan Ziarah Makam Syiah Kuala dari Pesantren Nurul Yaqin Sumatera Barat.”
Dari Sumatera Barat? Duh, betapa. Rasanya terlalu khusus kalau dari jauh sana pergi ke Aceh hanya untuk mengunjungi makam Syaih Kuala. Atau mungkin hanya salah satu tujuan? Mungkin mereka punya misi lain, sementara kunjungan ke makam hanya bagian kecilnya? Tapi masalahnya, di sapanduk jelas tertulis kalau rombongan ini datang untuk ziarah ke maam syiah kuala.
Aku menyalami salah seorang penziarah laki-laki yang masih muda. Setelah berbasa basi kutanyakan dalam rangka apa pergi ke sini? Dari jawabannya, dugaanku semula keliru. Mereka, dari Pariaman Sumataera Barat memang datang ke sini untuk bersiarah ke makam Syiah Kuala. Memangd ari sana niatnya untuk makam ini berziarah. Pesantren Nurul Yaqin yang ada di Pariaman melakukan program kunjungan ini setiap dua tahuan sekali. Memang mereka mengunjungi tempat yang lain, namun itu hanyalah sampingan belaka, sekedar rekreasi. Kunjungan makam adalah substansi utamanya.
Menurut lelaki ini –yang kemudian memperkenalkan namanya dengan Anshari- Syiah Kuala memilki hubungan dengan Sumatera Barat. Salah seorang gurunya, Syaikh Burhanuddin Ulakan adalah murid utama dari Syiah Kuala. Urhanuddin Ulakang belajar ke Aceh kepada Abdurrauf Syiah Kuala dan pulang ke Sumatera Barat dengan “membawa kitab-kitab” Syiah Kuala. Oleh sebab itu ilmu yang dimiliki oleh Ulakan merupakan cermin ilmu dari Syiah Kuala.

Makam Syiah Kuala di Singkil?
Anshari sepertinya memahami sedikit sejrah Syiah Kuala kontemporer. Dia juga menjelaskan kalau makam Syiah Kuala ada juga di Aceh Singkil. Menurut Anshari makam tersbut dibuat oleh sekelompok penganut wahdatul wujud dari Sumatera Barat juga. Mereka membuat makam “tandingan” di sana untuk menjelaskan kedekatan Syiah Kuala dengan Hamzah Fansuri. Dengan demikian mereka bermaksud mengatakan kalau Syiah Kuala adalah penganut wihdatul wujud sepertiu yang juga dianut oleh Hamzah Fansuri.
Kelompok ini, menurut Anshori memiliki pesantren juga yang tidak berjauhan dengan pesantren mereka. Nama pesantrennya, Pesantren Mata Air. Mata Air? Aku ingat beberapa syair Hamzah Fansuri yang berkaitan dengan air. Ndalam syair Hamzah Fansuri sangat banyak ungkapan yang berkaitan dengan air; laut, gelombang, samudera, mata air, hujan, sungai, dan lain sebagainya. Keseluruhan ungkapan ini berkaitan dengan air sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Mungkin nama “mata air” untuk pesantren golongan ini adalah untuk menunjukkan bahwa di sana adalah sumber kehidupan sesungghnya bagi manusia dunia saat ini.
Namun meskipun mereka telah “mebuat” makam di singkil, menurtu Anshari, kelompok wahdatul wujud yang ada di Pariaman tersebut masih juga melakukan ziarah ke Banda Aceh. “Jika mereka datang ke Banda Aceh, minibus antar kota di Sumatera Barat bisa habis.” Begitu banyak. Mungkin puluhan bus. Dengan pakaian putih semua, merek berkunjung ke Aceh dan mencari barakah dari ziarah ke makam Syiah Kuala. Duh…. Anadai aku berkesempatan meliahat kedatangann mereka….. Luar biasa!!

Renovasi makam
Saya tidak tahu ide siapa. Yang jelas makam Syiah Kuala yang ada di Tibang saat ini dalam proses renovasi. Ketika aku datang ke sana, pekerja sedang memperbaiki beberapa bagian bangunan baru yang besar dan sedang dalam proses penyempurnaan. Makam utama dibuat sangat besar. Sebab selain makam syiah kuala, ada beberpa makam lain di sana. Mungkin puluhan, besar dan kecil. Nah, angunan ini seluruhnya ingin melindungi makam-makam tersebut.
Ada juga banguan mushalla di depannya, dan beberapa rumah di bagian baratnya. Kukira itu adalah rumah penjaga makam.
Konon saat tsunami melanda Banda Aceh Aceh pada 26 Desember 2004, makam Syiah Kuala tidak hancur, bahkan “tidak tersentuh.” Saya tertarik dengan cerita ini dan, sebulan setelah sunami saya pergi ke sana. Memang secara fisik, makam Syiah Kuala tidak hancur sebagaimana bangunan lain yang ada di sekitarnya, rumah penduduk, toko, mushalla dan pagar. Makam Syiah Kuala yang saat itu berupa beton yang dipagari dengan besi batangan memang tidak begitu hancur. Hanya beberapa batangan besi yang melingkarinya yang bengkok, namun tidah menghancurkan bangunan makam. Kondisi ini memang berbeda dengan kondisi makam lain di sekitarnya. Apakah ini karena “karamah”? saya juga tidak tahu. Namun yang pasti makam Syiah Kuala memang memiliki konstruksi yang lebih besar dan nampak kokoh dibandingkan makam lain yang ada di komplek itu.
Namun sekarang semua bangunan di komplek pemakaman sudah dirubuhkan dan diganti baru dengan bangunan yang lebih besar dan kuat. Dengan demikian, bangunan di komplek pemakaman Syiah Kuala sekarang menjadi satu atap yang agak besar memanjang dengan makam Syiah Kuala tepat di tengah bangunan tersebut. Dengan kondisi ini maka bangunan makam seara keseluruhan telah menjadi satu atap saja dengan makam-makam seluruhnya ada di bawah bangunan itu.
Siapa Syiah Kuala?
Nama aslinya Abdur Rauf As-Singkili. Ia dikenal dengan Syiah Kuala karena dimakamkan di Kuala (Muara) Krueng Aceh. Syiah sendiri sebutan lain dari Syekh. Jadi Syiah Kuala dapat diartikan juga dengan Syeikh di Kuala. Orang Aceh lebih banyak memanggil ulama dengan sebutan asal atau temapt tinggal mereka dari pada nama sang ulama tersebut. Bahkan beberapa ulama tidak dikenal nama aslinya dan hanya dikenal nama laqab-nya saja, misalnya, Abu Indrapuri (Pimpinan sebuha Dayah Indrapuri awal abad 20, Abu Tanoh Abee (pimpinan dayah Tanoh Abee, Seulimum Aceh Besar), Abu Krueng Kalee (Pimpinan Dayah Darul Ihsan, Krueng Kalee Aceh Besar). Demikian juga Abu Seulimum, Abu Darussalam, Teungku Chik Ditiro, Teungku Pantee Kuluu, Teungku Pasi Geulima, Teungku Mancang Geulumpang, dan lain sebagainya. Nama-nama tersebut seluruhnya nama tempat. Beberapa diantaranya tidak diketahui nama aslinya sampai saat ini.
Begitu halnya dengan Syiah Kuala. Ini adalah sebutan untuk sang ulama yang dimakamkan di muara sungai Aceh di Banda Aceh. Ia adalah ulam tasawuf yang hidup pada masa pemerintahan Sultanah (Sultan Perempuan) Safiatuddin (1641-1674). Pada masanya terjadi dua masalah besar keagamaan. Pertama pertentangan mengani wahdatul wujud dan wahdatul syuhud. Dua aliran pemikiran dalam tasawuf yang berkembang di Aceh pada masa itu. Ia mampu menghadapi dan meyelesaikan masalah ini dengan melakukan integrasi keduanya dalam syariat. Dengan demikian, masyarakat akirnya menerima pemahaman kedua paham ini dengan damai. Mungkin ini sebabnya Abdurrauf dianggap sebagai guru baik oleh pengikut wahdatul wujud atau wahdatul syuhud sampai sekarang.
Masalah keagamaan kedua adalah persoalan kepemimpinan wanita dalam Islam. Sultanah Safiatuddin merupakan putri Sultan Iskandar Muda yang memerintah Aceh pada tahun 1607-1636. Setelah Sultan Iskandar Muda wafat ia digantikan oleh Sutan Iskandar Tsani, suami dari Safiatuddin. Sayangnya mereka tidak memiliki anak. Maka setelha Sultan Iskandar Tsani wafat, petinggi kerajaan mengangkar Safituddin menjadi Sultan Aceh.
Pengengkatan ini menjadi polemik besar di kerajaan. Abdurrauf yang menjadi Syuaikhul Islam menghadapi ini denngan pendapat-pendapat agama tang konsisten. Ia menegaskan kalu kepempimpinan bukan dilihat dari jenis kelamin, namun dari kemampuan. Dalam sebuah bukunya ia menulis tidak ada syarat pemimpin dari jenis kelamin tertentu, namun kompetensi kepemimpinannya. Siapaun berhak menjadi pemimpin selama ia dipandang cakap dan mampu menjadi “imam” bagi rakyat.
Siakap dan keputusannya ia ditentang banyak ulama lain, diantaranya Teungku Fakih Hitam dari Pidie. Namun karena ada dukungan kekuasaan juga, maka pendapat ini tetap berlangsung dan Safiatuddin tetap menjadi Sultan Aceh selama 34 tahun lamanya.
Dari sisi kepakaran, maka Syaih Kuala ahli dalam berbagai bidang agama. Kitabnya Tafsir Al-Qur'an-nya adalah kitab tafsir Al-Qur'an pertama dalam bahasa Melayu. ia juga Syaikh taswuf Naqsabandiyah dan Syatthariyah. Ia mengarang sebuha buku pedoman bagi hakim dan ahli agama di seluruh Aceh pada masa itu untuk menjadi pedoman dalma memutuskan perkara-perkara agama dalam masyarakat. Beberapa bukunya bahkan di “ekspor” ke Sulawesi atas permintaan raja di sana. Ia memiliki banyak murid, salah satunya adalah Berhanuddin Ualakan dari Pariaman, Sumatera Barat sekarang ini.
***
Anshari, penziarah ke makam Syiah Kuala yang kutemui tadi pagi mengaku santri di Pesantren Nurul Yaqin Sumatera Barat. Ia adalah penganut tarekat Syathariyah yang diajarkan Burhanuddin Ulakan. Guru-gurunya sekarang yang ada di pesantren tersebut adalah murid dari Burhanuddin Ulakan. Karenanya, pergi ke Makam Syaih Kuala sesungguhnya Berziarah Ke Makam Tuanku Guru.


No comments:

Post a Comment