Friday, 13 June 2008

Pluralisme Di Rumah Tuhan: Shalat Jumat di Mesjid Indrapuri

Entah kenapa, tiba-tiba aku berfikir untuk pergi shalat jumat di mesjid Indrapuri pada Jumat 6 Juni 2008. Setelah keluar mengajar dari kelas di Fakultas Tarbiyah Jurusan PGMI, aku menunju warkop-ku (warkop tempat biasa aku mangkal sambil ngopi santai) di Ulee Kareng. Rencana hanya minum kopi supaya tidak mengantuk ketika khatib menyampaikan khutbah saat sahalat jumat nanti. Namun tiba-tiba –setelah minum kopi- terfikir padaku untuk shalat jumat di tempat yang “asing” dari tempat biasa aku shalat. Anganku langsung melayang ke Mesjid Inderapuri, mesjid bersejarah di Aceh.

Singkatnya, mesjid Inderapuri dibangun pada awal abad ke 17 oleh Sultan Iskandar Muda. Selaian Baiturrahman di pusat kota, Iskandar Muda juga membangun mesjid Inderapuri dan mesjid Baiturrahim di Krueng Raya (yang satu ini aku belum pernah kunjungi, dan aku tidak tahu di mana letak tepatnya, mungkin satu saat). Mesjid ini dibangun oleh Iskandar Muda sekalin sebagai benteng pertahanan dalam peperangan melawan penjajahan asing. Karenanya tidak heran kalau bentunya merupakan pencampuran natara mesjid dan benteng.

Dari luar saja bentuk ini langsung terlihat. Pagar tembok tebal dan tinggi mengelilingi mesjid. Hanya ada satu jalan masuk, yaitu jalan depan. Melewati tembok pertama, hanya ada tempat parkir, tempat wudhuk dan sekretariat remaja mesjid. Dari sini, mesjid hanya nampak sedikit karena tertabiri tembok kedua yang agak tinggi. Setelah wudhuk, aku langusng naik tangga ke tembok kedua. Di sana ada sebuah bangunan kecil yang dibawahnya ada kolam air. Kukira ini tempat wudhu juga, namun ternyata hanya tempat cuci kaki. Jadi sebelum masuk ke mesjid, seseorang memasukkan kakinya terlebih dahulu ke dalam kolam itu sehingga masuk ke dalam mesjid dalam keadaan bersih.

Luas halaman dalam pagar kedua ini sekitar 10 m dan mengelilingin mesjid. Temboknya tebal (mungkin 1 m) yang mengelilingi mesjid. Dari sini ke mesjid dibatasi oleh tembok lainnya yang hanya ada satu jalan masuk, yaitu di hadapan kolam tadi. Aku mengambil foto mesjid dari atas tembok kedua ini, nampak agak jelas dan terang. Lalu aku masuk ke dalam.
Tembok ketiga masih belum masuk ke dalam mesjid. Namun berupa ahalaman 4 meter yang mengelilingi mesjid. Halaman ini, sama dengan tembok kedua tadi juga dibatasi dengan tembok lainnya. Dan, diseberang tembok tersebut berdiri mesjid bersejarah yang akan kukunjungi ini.

Aku segera masuk. Terasa hawa sejuk menerpa wajahku. Kayu-kayu besar kekar menompang atap mesjid. Ini mungkin khas bangunan abad ke 17 di Aceh. Mesjid ini tanpa dinding, yang ada hanya tembok setinggi 1 ½ m yang mengelilingi masjid. Itupun tidak langsung menempel di kayu sebelah luar mesjid. Jadi mesjid benar-benar sebagai sebuah bangun tersendiri di atas lantai yang tidak memiliki dinding.
Masjid ini tidak terlalu luas. Ada enam batang tiang di bagian depan dan enam ke belangan (semuanya 36 buah tiang). Jarak antar tiang adalah dua shaf orang sahalat. Pada deretan paling depan ada tempat imam dan tempat khatib berupa tangga setiggi tiga anak tangga. Di depannya ada mimbar dari papan berbentuk setengah lingkaran. Semua peralatan elektronik dan listrik nampak jelas, sebab ia merupakan bahan yang dipasang belakangan. Ada enam kipas angin besar yang tersebar di dalam mesjid dan satu kipas angin kecil di tiang dekat imam. Sebuah jam klasik tergantung di tiang depan dekat mimbar. Selain itu hanya bola lampu dan beberapa loudspeaker. Di sudut kanan depan ada beberapa lemari, mungkin tempat inventaris masjid. Sebuah papan bertuliskan kaligarfi tergantung di depan tenpat imam.

Khutbah Jumat
Beberapas saat setelah aku masuk seorang lelaki paruh baya naik kemimbar dan mengumumkan tatalaksana sahalat jumat pada hari ini. Ia, seperti juga mesjid lain di kota Banda Aceh dan Aceh Besar umumnya, mengumumkan jumlah tabungan amal yang diperoleh jum'at sebelumnya dan jumlah total keseluruhan sampai saat itu. Kemudian ia mengumumkan khatib dan muazin dan imam yang akan “bertugas” pada hari itu. Sayangnya aku lupa nama-nama mereka.
Seorang khatib langsung naik ke mimbar setelah silelaki paruh baya turun. Seorang orang tua yang kulit pipinya sudah keriput. Kacamatanya bulat dan tebal, rambutnya sudah memutih. Ia mengenakan baju putih dan kain sarung. Dikepala dipakai kopiah nasional berwarna hitam. Pakaian seperti ini adalah pakaian standar seorang muslim di Aceh yang pergi shalat jum'at, dan salat berjamaah lainnya.

Ia memulai khutbah dengan membaca khutbah pertama dari dua khutbah. Saat itu aku terfikir dua kemungkinan. Pertama, ini menunjukkan ia adalah kelompok muslim Muhammadiyah atau akademisi yang tidak memiliki latar belakang dayah di Aceh. Sebab seorang teungku dayah, kalau khutbah diawali dengan salam dan hamdalah baru kemudian nasehat. Khutbah yang sebenarnya dilangsungkan dalam bahasa arab dan hanya beberapa saat saja. Nah, kalau khutbah model ini maka nasehat taqwa disampaikan dalam bahasa Aceh/Indonesia dan berlangsung agak lama.
Pada awal khutbahnya khatib (Tgk. Abdullah AR. Nama ini kuperoleh pada saat kutulis bagian ini yang diberikan oleh seorang laki-laki yang sedang menggulung kembali sajadah untuk pelaksanaan sahat jumat tadi) membaca ayat (masuklah ke dalam agama Islam secara kaffah). Bagus juga si khatib. Berbeda dengan khatib lain di kota Banda Aceh yang berkhutbah dengan menggunakan teks, khatib ini tidak. Ia hanya memegang Al-Qur'an di tangan kanannya dan mikrofon di tangan kirinya. Selanjutnya ia mulai menyampaikan khutbah. Khutbah disampaikan dalam bahasa Aceh.

Sang khatib menegaskan bahwa ayat yang telah dikutipnya berbicara menganai keharussan seorang Islam masuk (melaksanakan hukum Islam) dengan sebenarnya dan penuh ketaqwaan kepada Allah. Sebab hanya Islam agama yang diridhai oleh Allah dan dijamin keselatan dalam kehidupan di kahirat kelak. Namun demikian tidak berarti Islam memusuhi golongan lain. Kalau ada agama selain agama Islam maka itu adalah hak mereka. Umat Islam mesti menghormatinya sebagai sesama manusia. Namun tidak boleh memaksanakan agama Islam kepada mereka sebab mereka juga memiliki agama. Akan tetapi jika seseorang telah masuk dan mengaku sebagai Islam, maka wajib atasnya melaksanakan ajaran Islam secara kaffah, keseluruhan dan tidak tanggung-tanggung.

Selama ini, lanjut sang khatib, pelaksanaaan ajaran Islam sering dilakukan berdasarkan kehendak pribadi dan kepentigan kelompok. Apa yang terjadi di Jawa, yakni pertentangan dan saling bunuh antara Fron Pembela Islam dan Kelompok Aliansi Umat Beragama adaah wujud dari pengamalan islam yang tidak kaffah. Sambil meminta agar para jamaah berdoa kepada Tuhan supaya peristiwa memalukan yang terjadi di Jawa tidak terjadi di Aceh, Khatib mengajak kaum muslimin agar menyadari dan mawas diri selalu. Sebab, menurutnya, apa yang ada di Jawa tersebut tidak terlepas dari konspirasi pihak lain yang menginginkan umat Islam berperang anatar mereka sendiri. Dengan demikian akan ada kelompok yang prok-prok jaroe (bertepuk tangan) menyaksikan “kebodohan kita”. Karena sesama muslim kita berselisih dan saling memusuhi dan membunuh.

Oleh sebab itu, sang khatib mengajak umat Islam agar masuk Islam secara total dan sepenuhnya. Jangan pernah jadikan Islam sekedar yang sesuai dengan keinginan pribadi. Kalimat dhalalun adhim dalam ayat tersebut jelas allah tegaskan kalau setiap orang yang hanya menggunakan agama demi kepentingan pribadi maka ia akan disesatkan Allah. Seperti pejabat yang menggunakan ayat-ayat yang sesuai dengan misinya dan melupakan ayat yang “bertentangan dengan misinya” (mungkin juga NGO, LSM, lembaga dan personal?).Setelah selesai, aku pulang kembali ke darussalam. Ada pelajaran pluralisme yang kuperolah di mesjid Indrapuri yang bersejarah hari ini.

1 comment:

  1. trim mas informasinya.....jadi gak bingung kalu di aceh

    ReplyDelete