Friday, 13 June 2008

Pencinta Bola dan Kaum Sufi

Sekarang, sampai akir bulan ini, ratusan juta pasang mata dipastikan menyaksikan perhelatan akbar level Eropa dari Austria-Swis. Di Asia yang secara geografis memiliki perbedaan waktu sangat jauh dengan Eropa perhelatan itu harus disaksikan tengah malam hingga dini hari. Banyak orang yang “terpaksa” bergadang menahan kantuk demi menyaksikan tim kesayangannya berlaga di lapangan. Tidak peduli keesokan harinya harus bekerja, yang penting hati puas menyaksikan bintang idola “mengocek” si kulit bundar, membawa ke depan, melewati pemain bertahan lawan, mengecoh kiper, dan…. Gooooolll….


Mereka adalah pencinta. Seorang “pencinta” adalah mereka yang mengahbiskan waktunya demi apa yang dicintainya, menyerahkan segala yang dimiliki untuk apa yang dicintainya. Tidak ada waktu lain selain waktu untuk yang dicintai, tidak ada kebutuhan lain kecuali demi kelangsungan jalinan kasih dengan sesuatu yang dicintainya, tidak ada pengorbanan, sekecil apapun yang ditolak asalkan demi sesuatu yang dicintainya. Seorang pencinta adalah mereka yang menyerahkan hidupnya demi apa yang dicintainya. Totalitas kehidupannya diberikan demi sang kekasih dan cintanya. Di sini ada kesamaan anatara pecinta bola dan pencinta Tuhan (para sufi).

Bagi seorang pecinta bola, maka bola-lah kekasihnya. Bola yang selalu diingat, bola yang selalu terbayang. Sementara bagai seorang sufi Tuhan sebagai kekasihnya, Tuhan yang selalu diikrarkan, Tuhan yang selalu dihayalkan, Tuhan yang selalu diimpikan.

Penggila bola dan penggila Tuhan memiliki kesamaan, hampir dalam segala bidang. Sama-sama berjuang untuk “mendapatkan” kekasihnya, sama-sama berkorban demi kekasihnya, sama-sama mencurahkan pikiran untuk kekasihnya, sama-sama berzikir dengan nama yang dicintainya, sama-sama mengikuti tokoh panutannya, dan banyak kesamaan lainnya.

Seorang pecinta bola berusaha sedapat mungkin menyaksikan pertandingan tim bola yang dicintainya, dalam keadaan dan situasi bagaimanapun juga. Cuaca badai, hujan, guntur dan petir bukanlah halangan yang berarti. Kalau udara dingin sebuah jaket kulit tebal akan dibeli. Kalau tidak ada televisi di rumah sendiri, sedapat mungkin pergi ke warung kopi. Kalau lampu PLN mati, genset akan jadi pengganti. Tidak ada halangan yang tidak dapat diatasi. Semua mungkin dilakukan, biasa diselesaikan. Yang penting hasrat tercapai, menyaksikan pertandingan tim kesayangan.

Seorang pecinta Tuhan berusaha sedapat mungkin melakukan ibadah kepada-Nya. Tidak ada alasan menunda shalat, tidak ada penghalang pergi ke mesjid, tidak ada godaan untuk tidak beribadah. Segalanya akan dilakukan demi ibadahnya kepada Tuhan, kekasihnya. Kalau sakit, maka ia akan shalat dengan duduk, tak kuasa duduk, bermunajad dengan berbaring, takkuasa bergerak, menyambah Tuhan dengan isyarat. Seluruh usaha dilakukan demi Kekasihnya, Tuhan Yang Maha Mulia.

Seorang pencinta bola akan berkorban apa saja demi bola yang dicintainya. Lihatlah, bagaimana penjual televisi panen besar saat piala Eropa dimulai. Banyak pencinta bola berjuang mendapatkan uang demi sebuah televisi yang akan memudahkannya menyaksikan pertandingan bola yang dicintainya. Bagi yang sudah ada televisi 14 inchi, mencari yang 21, 29 bahkan menggunakan LCD Projector sehingga lapangan bola “hadir” dalam kamarnya dan ia akan menyaksikan dengan puas. Apapun dilakukan, apapun dikorbankan, asalkan ia dapat menyaksikan tim kesayangannya bertarung, berjuang di lapangan dan menang.

Demikian juga seorang sufi, berkorban demi Tuhan kekasihnya. Mereka merelakan apapun yang dimilikinya demi keridhaan Tuhan kepadanya. Tidak ada gunanya harta, tidak ada nilainya materi, tidak ada manfaat sedikitpun segala sesuatu baginya kalau ia dapat “bertemu” dengan Tuhan dalam munajatnya. Semua harta dishadaqahkan, semua matri dihibahkan, semua kemampuan yang dimilikinya dikorbankan di jalan jalan Allah, kekasih hatinya yang dicintai. Besarnya rasa cinta kepada kekasihnya membuat ia lupa segala sesuatu yang dimilikinya, membuat semua terasa tidak berarti. Ia akan menjadi sempurna jika kekasihnya selalu bersamanya.

Seorang pecinta bola menghabiskan semua pemikirannya demi bola yang dicintainya. Siang malam berbicara bola. Di mana saja cerita bola. Di rumah, di tempat kerja, di warung kopi, selalu melantunkan ayat-ayat bola. Kepada yang lebih faham ia meminta pandangan, kepada yang tidak faham dijelaskannya, kepada yang sama-sama faham, ia bercerita, memberi pandangan, komentar dan analisa. Tidak cukup hanya menonton, bercerita, berdiskusi dan mendengar komentator di televisi, seorang pecinta bola juga membeli korab bola, membaca semua berita di koran yang berkaitan dengan bola, membuka website internet mengeni bola. Semua informasi bola dilahapnya demi menambah pengetahuannya tentang bola. Dengan demikian ia akan semakin faham dan semakin dekat dengan dunia bola.

Tidak berbeda dengan mereka, para pencinta Tuhan menyerahkan totalitas hidupnya untuk Tuhan. Membaca ayat-ayat Tuhan baik yang tertulis atau yang tercipta. Berdiskusi mengenai Tuhan, belajar tentang ajaran Tuhan. Kepada yang alim mereka meminta petunjuk, kepada yang jahil mereka sampaikan dakwah, kepada sesama mereka berdiskusi membahas jalan suci yang dapat mendekatkan mereka dengan Tuhan. Mereka melakukan apapun demi untuk menambah pengetahuannya tentang Tuhan. Semua kitab “dilalapnya”, semua buku dibaca, demi meningkatkan kadar kepahaman mereka mengenai Tuhan. Tidak cukup demikian, seorang pecinta Tuhan melakukan peralanan jauh mencari guru yang akan membimbingnya berlajan ke arah Tuhan.

Dalam hal zikir, seorang pecinta bola berzikir dengan dengan lafal bola. Tidak sedikitpun terlupakan jadwal pertandingan dihatinya. Semua skor diingatnya, semua posisi dihafalnya, semua nama pemain, posisi, klub asal, track recordnya, prestasi, pacarnya, dan segala sesuatu mengenai pemain disebutkan dengan lancar. Di luar kepala. Cintanya menjadikan ia menghafal mereka tanpa beban, menyebutkan mereka tanpa sungkan. Cinta menjadikan pecinta mengetahui mengenai kekasihnya begitu banyak.

Seorang pecinta Tuhan larut dalam mengingat asma-Nya. Setiap saat setiap waktu menyebut nama-Nya. Kalau bibir tidak bisa sempat hati berzikir kepada-Nya. Fisiknya, indranya tidak terlapas dari berzikir kepada Kekasih hatinya. Ia menyebut nama-Nya kapan dan di manapun. Semua nama-Nya ia hafal. Ia berzikir dengan nama-nama indah-Nya. Seorang pecinta Tuhan akan selalu mengingat nama-Nya. Ia merasa berdosa andaikan sedetik saja melupakan-Nya. Nama Tuhan terletak di ujung lidah sampai di dasar hati terdalamnya. Tidak sulit baginya menyebutkan Tuhan kapan saja, dan tidak pula ia akan melupakan-Nya.

Cinta seorang pecinta bola kepada tim kesayangan dan atlet kesukaan menjadikannya menghayalkan kehadiran sang atlet dalam kehidupan kesehariannya. Segala sesuatu yang dilakukan dihubungankan dengan kehadiran sanga atlet dalam hidupnya. Ketika ia bekerja, ia membayangkan atletnya, ketika ia berjalan, ia menghayalkan jalan sang atlit. Apalagi ketika ia bermain bola, maka semua gaya, semua lenggak-lenggok sang atlit pujaan dilakoninya di lapangan. Setiap tendangan bola yang dilakukan dikatakan tentangan sang atlit. Atlit kesukaan adalah petunjuk jalan baginya agar ia mempu sampai pada cinta ideal kepada dunia sepak bola.

Dalam dunianya seorang pecinta Tuhan, maka ia selalu dibimbing oleh seorang mursyid. Setiap pecinta Tuhan akan mengikuti sebuah jalan yang pernah ditempuh oleh pecinta lain sebelumnya dan sukses. Ia membayangkan wajah guru pada setiap zikirnya agar ia melakukan zikir dengan sempurna dan Kekasihnya menerima seluruh zikir yang ia ungkapkan. Ia menghayalkan gurunya membimbing tangannya, mengajarkan jalan yang benar menuju Tuhan, menunjukkan jalan yang lurus kepada Tuhan. Dengan demikian, maka seorang pecinta Tuhan benar-benar sampai dan bertemu dengan kekasihnya.

Itulah beberapa kesamaan anatara pecinta bola dengan pecinta Tuhan. Bedanya hanya sedikit; pecinta bola menjadikan media sebagai kitab sucinya, komentator bola sebagai penunjuk jalannya, atlit bola sebagai panutannya, pelatih bola sebagai mazhabnya, dan tim kesebelasan sebagai pejuangnya. Pecinta Tuhan menjadikan Al-Qur'an sebagai kitab sucinya, Muhammad sebagai nabinya, ulama panutannya, imam sebagai mazhabnya dan kaum muslimin sebagai pasukannya. Pecinta bola membayangkan kesempurnaan hidup di dalam “dunia bola.” Pecinta Tuhan menginginkan kesempurnaan hidup bersama Tuhan.
Andai saja pecinta bola juga pencinta Tuhan, atau setidaknya, andai saja pencinta Tuhan berlaku sama dengan pencinta bola. Mungkin kita tidak perlu qanun syari’at Islam. Lho, kok qanun? Wallahu’a’lam.


1 comment:

  1. sama sama pecinta, tapi pada akhirnya pasti berbeda, bisakah pecinta bola juga sekaligus pecinta Allah ?

    ReplyDelete